Polisi “Kurang Piknik”: Ketika Miliaran Dolar Mengalir Demi Membeli AI yang Gemar Berhalusinasi
Manusia adalah entitas berakal yang seharusnya memegang kendali penuh atas hukum dan keadilan. Namun, apa yang terjadi ketika sang penguasa mulai malas dan menyerahkan urusan moralitas serta palu hakim kepada tumpukan baris kode? Kabar terbaru dari Fort Worth, Texas, menggambarkan bagaimana ribuan penegak hukum berkumpul untuk memuja “masa depan kepolisian” yang otomatis. Mulai dari kamera pengenal wajah hingga sistem pembuat laporan otomatis berbasis AI, semuanya dijajakan seperti asisten rumah tangga yang rajin tetapi luar biasa kaku.
Sebagai majikan yang waras, kita harus melihat tren ini dengan dahi berkerut. AI ditawarkan untuk memangkas pekerjaan administratif yang membosankan, seperti menulis laporan kasus atau meny menyaring data kriminal. Padahal, dalam dunia hukum, detail kecil di atas kertas adalah penentu hidup dan mati seseorang. Menyerahkan tugas krusial ini kepada kalkulator raksasa yang tidak punya nurani adalah bentuk kemunduran berpikir yang nyata.
Kita perlu mengingatkan para aparat ini: teknologi hanyalah alat bantu. Ketika Anda membiarkan mesin mengambil alih proses berpikir logis, Anda bukan sedang mengoptimalkan pekerjaan, melainkan sedang menggadaikan akal sehat kepada korporasi teknologi yang haus akan kontrak multi-tahun. Sebab AI Hanyalah Alat, Kaulah Majikan yang Punya Akal.
Analisis Mendalam
Konferensi Teknologi International Association of Chiefs of Police (IACP) di Texas menjadi saksi bisu bagaimana pundi-pundi anggaran kepolisian diincar oleh para kontraktor teknologi. Perusahaan raksasa seperti Axon Enterprise (yang dulu dikenal sebagai pembuat taser) dan Motorola Solutions kini bersaing ketat untuk memonopoli apa yang mereka sebut sebagai “solusi teknologi kepolisian masa depan”. Mereka tidak lagi hanya menjual kamera badan (body-worn camera), tetapi beralih ke ekosistem perangkat lunak berbasis AI seperti Draft One dan pusat kendali kriminal real-time (Real-Time Crime Center/RTCC) seperti Velocity dari ForceMetrics.
Model bisnis yang ditawarkan pun sangat cerdik. Dengan menggunakan skema langganan tahunan seperti “AI Era Plan” milik Axon, kepolisian diikat dalam kontrak jangka panjang tanpa perlu melalui proses tender terbuka yang ketat. Angka pertumbuhannya tidak main-main—pendapatan produk AI Axon dilaporkan melonjak hingga 700 persen dalam setahun. Ini adalah ladang emas baru bagi investor ekuitas swasta yang kini menguasai hampir seperempat area pameran teknologi polisi tersebut.
Sistem RTCC ini dirancang untuk menyedot semua data mulai dari rekaman kamera pengawas, sensor pendeteksi tembakan, pelacak plat nomor otomatis, hingga log panggilan darurat 911. Semuanya dilebur ke dalam satu dasbor digital yang diklaim mampu memberikan “analisis taktis” secara instan sebelum polisi tiba di tempat kejadian perkara (TKP). Logikanya sederhana: semakin banyak data, semakin aman petugas di lapangan. Namun, kenyataannya jauh lebih rumit dari sekadar infografis indah di layar monitor.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.
Batasan Sistem
Mari kita bedah di mana letak kekakuan berpikir dari sistem ini yang sering kali kurang piknik. Alat pembuat laporan otomatis seperti Draft One, yang ditenagai oleh modifikasi teknologi GPT milik OpenAI, diklaim bebas dari halusinasi karena tingkat “kreativitasnya diturunkan menjadi nol”. Klaim ini tentu saja harus kita telan dengan skeptisisme tingkat tinggi. Pada kenyataannya, laboratorium AI paling canggih di dunia pun belum bisa menghilangkan bahaya halusinasi pada model bahasa besar ini.
Contohnya sangat menggelitik sekaligus mengerikan: di Utah, sistem Draft One pernah menulis dalam laporan resmi bahwa seorang petugas polisi “berubah menjadi katak” (morph into a frog). Mengapa? Karena mikrofon kamera badan petugas tersebut tidak sengaja menangkap audio latar belakang dari film kartun Disney, The Princess and the Frog, yang sedang diputar di dekat lokasi kejadian. Bisakah Anda bayangkan jika laporan “polisi katak” ini masuk ke meja hijau dan dijadikan bukti hukum resmi?
Di sinilah insting manusia tidak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma sekaku apa pun. Polisi manusia yang menulis laporan memahami konteks sosial, intonasi suara, ketakutan korban, dan atmosfer TKP. Sebaliknya, AI hanyalah mesin pengetik otomatis yang mencocokkan pola probabilitas kata. Jika laporan hukum dibiarkan ditulis oleh mesin tanpa transparansi—di mana versi asli draf AI awalnya bahkan sengaja tidak disimpan di cloud agar tidak memicu “sakit kepala keterbukaan informasi” di pengadilan—maka keadilan sedang diserahkan pada algoritma kotak hitam (black box) yang tidak bisa disumpah di bawah kitab suci.
Dampak Masa Depan
Upaya kepolisian untuk menggunakan “prediksi kejahatan” sebenarnya bukanlah barang baru. Kita tentu ingat kegagalan sistem pendahulu seperti CompStat atau PredPol (yang kini buru-buru ganti nama menjadi Geolitica demi membuang sial). Sistem-sistem tersebut terbukti memperparah bias sosial karena melatih algoritmanya menggunakan data historis yang timpang. Akibatnya, polisi terus-menerus dikirim ke lingkungan miskin, menciptakan lingkaran setan penangkapan yang tiada ujung.
Tren adopsi AI tanpa regulasi ketat ini berpotensi merusak sisa-sisa kepercayaan publik yang sudah tipis. Ketika penegakan hukum bergeser dari kehadiran fisik manusia di tengah masyarakat menjadi pengawasan digital berbasis algoritma, warga sipil tidak lagi dipandang sebagai manusia yang perlu dilindungi, melainkan sebagai tumpukan titik data yang siap dicurigai. Dominasi pasar oleh segelintir vendor swasta juga berarti transparansi algoritma akan selalu kalah oleh alasan “rahasia dagang”.
Teknologi kepolisian berbasis AI ini menegaskan kembali satu kebenaran mutlak: sekuat apa pun otot komputasi server milik Axon atau Motorola, mereka hanyalah kode mati tanpa keputusan manusia yang menekan tombol. Palu keadilan dan hak asasi tidak boleh tunduk pada hasil kalkulasi probabilitas matematika yang tidak mengenal rasa bersalah. Jika manusia sebagai “majikan” malas memverifikasi dan menganalisis secara kritis setiap baris laporan yang dihasilkan oleh AI, maka kita sedang menuju masa depan di mana kebebasan sipil kita ditentukan oleh katak fiktif ciptaan algoritma.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: Cath Virginia via TechCrunch
Lagipula, mengurus asisten rumah tangga yang suka salah dengar saja sudah bikin pusing setengah mati, apalagi mengurus robot polisi yang hobi menonton film kartun Disney saat sedang berpatroli.