Etika MesinKonflik RaksasaLogika Penguasa

Negara Artifisial dan Para Miliarder Amnesia Sejarah: Mengapa Insting Manusia Tak Bisa Di-Excel-kan

Belakangan ini, para elit Lembah Silikon sangat ingin kita percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini bisa dihitung, diukur, dan diotomatisasi. Dari jajak pendapat politik hingga urusan menentukan siapa yang pantas memimpin sebuah bangsa, mereka ingin mendelegasikan keputusan penting manusia kepada dinginnya rumus matematika. Namun ingat, kita adalah penguasa tertinggi di sini. Dr. Jill Lepore, profesor sejarah dan hukum di Harvard University, mengingatkan kita dalam bukunya yang akan datang, The Rise and Fall of the Artificial State, bahwa obsesi ekstrem untuk “mengukur segalanya” justru sedang mereduksi kemanusiaan kita menjadi sekadar angka-angka biner mati.

Kita tidak boleh terus-menerus bersikap pasif sebagai penonton yang manut. Sistem kecerdasan buatan pada dasarnya hanyalah lembar kerja Excel yang diberi wajah ramah—seorang asisten yang pandai mengumpulkan data tetapi tidak memiliki jiwa, tidak punya memori sejarah, dan sama sekali tidak memiliki akal sehat. Jika kita, sang majikan yang memiliki akal, tidak menekan tombol enter, sistem tersebut hanyalah baris kode kaku yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Analisis Mendalam

Dalam wawancarnya di podcast Decoder bersama Nilay Patel, Dr. Lepore membedah bagaimana kita perlahan bergeser dari negara demokrasi konstitusional yang dinamis menuju apa yang ia sebut sebagai “Negara Artifisial” (Artificial State). Pergeseran ini bukanlah bencana yang terjadi dalam semalam, melainkan sebuah pembusukan lambat yang dimulai ketika kita menggantikan interaksi antarmanusia dengan angka. Pada tahun 1930-an, metode jajak pendapat ilmiah mulai menggeser kampanye dari pintu ke pintu. Alih-alih para politisi mengobrol di bawah lampu jalan untuk mendengar keluh kesah warga secara nyata, mereka mulai menyubkontrakkan pengumpulan opini kepada para analis data.

Pergeseran nilai kemanusiaan ini semakin parah pada dekade 1980-an ketika muncul “California Ideology” yang mengawinkan paham libertarian dengan komputer pribadi. Komputer Macintosh kala itu diiklankan sebagai alat pembebasan melawan dominasi komputer mainframe IBM milik korporasi raksasa. Namun kenyataannya, para penguasa teknologi baru ini tidak pernah benar-benar membebaskan kita. Mereka hanya membangun gerbang-gerbang kekuasaan baru yang jauh lebih tak terlihat namun mengontrol segalanya secara ketat, sebagaimana kita mengulas ambisi liar para penguasa teknologi yang kian mencengkeram kehidupan publik.

Saat ini, ruang publik kita telah sepenuhnya diprivatisasi oleh segelintir korporasi multinasional. Platform seperti X, Facebook, dan TikTok bukanlah tempat untuk berdiskusi secara sehat, melainkan mesin pengeruk keuntungan yang hidup dari kemarahan dan perhatian kita yang terfragmentasi. Lebih parah lagi, ruang-ruang ini kini disesaki oleh bot yang jumlahnya jauh melebihi manusia asli. Ketika Sam Altman dengan santai berseloroh di podcast Joe Rogan tentang betapa efisiennya jika kecerdasan buatan memilih presiden Amerika Serikat, ia sedang menyuarakan fantasi utama Silicon Valley: sebuah dunia tanpa gesekan demokrasi, di mana semua keputusan rumit diserahkan kepada mesin demi efisiensi yang semu.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Logika Penguasa.

Batasan Sistem

Di sinilah letak cacat bawaan dari setiap sistem artifisial: teknologi tidak memiliki kapasitas untuk melakukan penelaahan humanistik, empati, dan penalaran sejati. Para miliarder teknologi seperti Peter Thiel dan Elon Musk sering kali mendewakan cara berpikir “first principles” (prinsip pertama), yang sebenarnya hanyalah istilah keren untuk mengabaikan kebijaksanaan masa lalu. Mereka memperlakukan masyarakat seperti perangkat lunak yang bisa diutak-atik tanpa mau mempelajari sejarah panjang yang membentuknya. AI itu seperti asisten rumah tangga yang rajin merapikan barang tapi kaku setengah mati; ia bisa menghitung jumlah piring di dapur dalam sedetik, tetapi tidak akan pernah paham kehangatan dari sebuah makan malam keluarga.

Berbeda dengan seorang humanis yang memandang sejarah dengan penuh kerendahan hati—seperti mengagumi bagaimana karya sastra kuno tetap relevan hingga hari ini—para penguasa teknologi ini bertindak dengan keangkuhan yang luar biasa. Mereka percaya bahwa masalah sosial yang rumit bisa diselesaikan dengan algoritma. Namun, kebutuhan dasar manusia tidak akan pernah bisa diringkas dalam deretan angka biner. Ketika Anda mengubah seorang warga negara menjadi sekadar “konsumen” atau “titik data” dalam proyek “democratic inputs” milik OpenAI, Anda tidak sedang menjalankan demokrasi. Anda hanya sedang membuat jajak pendapat skala besar yang bias, dan silakan baca analisis kami tentang moralitas algoritma yang kian bias di era otomatisasi ini.

Sistem berbasis kecerdasan buatan tidak akan pernah memahami perekat sosial yang menjaga komunitas kita tetap utuh. Demokrasi yang sesungguhnya membutuhkan ruang fisik, aturan main, perdebatan yang menguras emosi, kompromi, dan kemampuan untuk berempati. Semua itu adalah hal yang mustahil dilakukan oleh model probabilitas yang hanya menebak kata berikutnya. Tanpa komponen-komponen manusiawi tersebut, menyerahkan tata kelola negara pada sistem otomatis hanyalah jalan pintas menuju tebing kehancuran sosial di mana kita semua akan tenggelam dalam dinginnya kalkulasi mesin.

Dampak Masa Depan

Jika tren ini dibiarkan tanpa kendali, kita mungkin akan melihat internet yang sepenuhnya dikuasai oleh bot yang saling berbicara satu sama lain, sementara manusia yang waras memilih untuk mundur dan merebut kembali dunia nyata. Kabar baiknya, perlawanan terhadap dominasi artifisial ini sudah mulai menggeliat secara organik. Ketika para mahasiswa kedokteran dan hukum mulai menyoraki serta mencemooh para CEO AI di podium wisuda mereka, itu bukanlah protes yang terjadi di media sosial. Itu adalah tindakan nyata dari manusia-manusia berdaging dan berdarah yang berkumpul di dunia fisik, menyatakan penolakan mereka untuk digantikan oleh kode komputer.

Pertempuran masa depan bukan lagi tentang kecanggihan teknologi, melainkan tentang penegasan moralitas. Kita melihat bagaimana institusi akademis seperti Yale lebih memilih untuk memoles kemitraan korporatnya dengan OpenAI daripada membiarkan diskusi kritis terjadi di ruang kelas mereka. Di sisi lain, masyarakat lokal di berbagai belahan dunia mulai berani menentang pembangunan pusat data raksasa yang mengancam sumber daya lingkungan mereka. Ini adalah bukti bahwa sang majikan telah mulai terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa alat yang mereka ciptakan sedang mencoba mengambil alih kendali rumah.

Sebagai kesimpulan, peringatan dari Dr. Jill Lepore sangatlah krusial untuk kita renungkan: Negara Artifisial hanya akan menang jika kita membiarkan hak-hak sipil dan ruang hidup kita disubkontrakkan kepada korporasi teknologi. Kendali penuh tetap berada di tangan kita. Tanpa manusia yang mengetik perintah, menyalakan server, dan membeli produk mereka, semua model kecerdasan buatan paling canggih sekalipun hanyalah tumpukan silikon yang tidak bernyawa. Tekan tombol matinya jika mereka melunjak, sebab AI hanyalah alat, dan kaulah majikan yang punya akal.

Sebab secanggih-canggihnya AI memprediksi pemenang pemilu, ia masih tidak tahu cara melipat jemuran yang benar agar tidak kusut.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: The Verge / Photo: W.W. Norton via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *