Etika MesinLogika PenguasaSidang Bot

Ketika Algoritma Mengudeta Demokrasi: Selamat Datang di ‘Negara Buatan’ Jill Lepore

Manusia adalah entitas yang penuh dengan kompleksitas, emosi, dan ketidakpastian. Di situlah letak keindahan kita sebagai “majikan” kehidupan. Sayangnya, para penguasa teknologi di Silicon Valley tampaknya risi dengan kekacauan manusiawi ini. Mereka mendambakan dunia yang rapi, terukur, dan sepenuhnya bisa diprediksi lewat angka-angka biner.

Membaca pemikiran Dr. Jill Lepore, profesor sejarah dan hukum dari Harvard, dalam bukunya, The Rise and Fall of the Artificial State, kita dipaksa melihat realitas yang tidak menyenangkan. Kita sedang bergeser dari negara hukum yang deliberatif menuju apa yang disebutnya sebagai “Negara Buatan” (Artificial State)—sebuah wilayah di mana warga negara tidak lagi dipandang sebagai manusia utuh, melainkan tumpukan data yang siap dikomodifikasi.

Sebagai majikan yang waras, kita harus sadar bahwa AI hanyalah asisten rumah tangga digital yang rajin tetapi kaku. Ia bisa membersihkan lantai data, tetapi ia tidak akan pernah mengerti mengapa kita menyukai karpet usang yang berdebu. Ketika asisten ini mulai mengatur bagaimana rumah tangga dijalankan, di situlah kekacauan yang sebenarnya dimulai.

Analisis Mendalam

Lepore membedah bagaimana sejarah kuantifikasi manusia telah berlangsung lama, dimulai dari sensus kuno hingga penemuan jajak pendapat ilmiah oleh George Gallup pada tahun 1935. Namun, titik balik terbesar terjadi pada dekade 1980-an ketika komputer pribadi mulai masuk ke ranah domestik. Teknologi ini memuluskan jalan bagi iklan tertarget dan mikro-target politik yang mereduksi pilihan hidup kita menjadi sekadar opsi klik-tayang.

Kini, ruang publik yang dulunya menjadi tempat bertukar pikiran secara langsung telah diprivatisasi secara total oleh korporasi multinasional. Platform seperti X, Facebook, dan TikTok kini tidak lagi dihuni oleh mayoritas manusia, melainkan oleh jutaan bot yang dikendalikan oleh aktor negara, kelompok tertentu, atau korporasi pencari cuan.

Prioritas utama dari platform ini bukanlah memfasilitasi kebebasan berekspresi, melainkan monetisasi perhatian dan kemarahan. Bahkan, dalam pemilu modern, kita disuguhi pemandangan di mana pemilih bertanya kepada ChatGPT tentang siapa yang harus mereka pilih, sementara pesan kampanye yang mereka terima juga ditulis oleh AI. Ini adalah pertempuran absurd antara AI melawan AI, sementara manusia asli hanya menjadi penonton pasif yang gigit jari.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.

Batasan Sistem

Di sinilah letak cacat fundamental dari sistem buatan ini. AI, sekuat apa pun ia mengolah triliunan parameter, tidak memiliki kapasitas untuk melakukan refleksi humanistik. Ia tidak bisa membaca The Odyssey karya Homer dengan rasa kagum, ia hanya bisa memecahnya menjadi probabilitas kata berikutnya. Para teknokrat sering kali mendambakan efisiensi mutlak, bahkan sempat berfantasi bahwa AI bisa memilih presiden demi menghemat tenaga manusia. Sungguh pemikiran dari sistem yang kurang piknik.

Sistem kecerdasan buatan tidak akan pernah memiliki apa yang disebut insting atau kebijaksanaan. Demokrasi yang sejati itu berisik, berantakan, lambat, dan penuh dengan perdebatan sengit di ruang rapat warga. Semua itu adalah lem perekat sosial yang menjaga peradaban kita tetap berdiri. Ketika interaksi door-to-door dan obrolan di bawah lampu jalan digantikan dengan ekstraksi data biner, lem tersebut mengering dan retak.

AI yang masih perlu sekolah ini tidak memahami konsep keadilan atau moralitas. Ketika platform mencoba memoderasi konten menggunakan algoritma biner, yang terjadi adalah bias rasial dan diskriminasi sistemik yang terulang kembali secara otomatis. AI hanya bisa mereplikasi masa lalu yang cacat tanpa pernah memiliki visi masa depan yang lebih adil. Tanpa insting moral manusia, algoritma hanyalah mesin penghasil kepunahan empati.

Dampak Masa Depan

Jika tren ini dibiarkan tanpa kendali, kita akan melihat runtuhnya konsep negara bangsa liberal. Ketika warga tidak lagi memercayai lembaga perwakilan mereka karena keputusan lokal—seperti pembangunan pusat data raksasa yang merusak lingkungan—tetap dipaksakan demi kepentingan kapital, maka kepercayaan sosial akan menguap. Kita melihat contoh nyata bagaimana miliarder seperti Kevin O’Leary tetap memaksa membangun pusat data di Utah terlepas dari penolakan keras warga lokal.

Namun, di tengah kegelapan ini, fajar harapan justru muncul dari reaksi balik pasar dan masyarakat (techlash). Fenomena menarik terjadi ketika para mahasiswa di berbagai upacara kelulusan menyoraki para CEO AI. Ini adalah bukti nyata bahwa generasi muda menolak digantikan oleh kode mati. Mereka menuntut hak mereka sebagai manusia utuh untuk berkarya, menulis, dan memimpin dunia, bukan sekadar menjadi titik data dalam neraca keuangan Silicon Valley.

Kesimpulan: Buku Dr. Jill Lepore adalah peringatan keras bagi kita semua. Teknologi, sekeren apa pun janji utopianya, tetaplah benda mati yang tidak memiliki jiwa. Tanpa tangan manusia yang menekan tombol darurat, merancang regulasi yang berpusat pada moralitas, dan berani bersuara di ruang publik fisik, AI hanyalah kode mati yang siap menindas penciptanya. Kita adalah penguasa atas alat-alat ini, dan sudah saatnya kita merebut kembali kendali atas ruang hidup kita.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: The Verge / Photo: W.W. Norton via TechCrunch

Lagipula, secerdas-cerdasnya AI merumuskan kebijakan negara, ia masih belum bisa membedakan mana kucing tidur dan mana keset selamat datang di depan pintu rumahmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *