Chatbots Drive-Thru: Majikan Tak Sabar, AI Malah Ngelawak?
Dengar, para Majikan cerdas! Kita sudah sering dengar gembar-gembor tentang AI yang akan “mengubah segalanya,” termasuk cara kita memesan burger di drive-thru. McDonald’s, Wendy’s, Taco Bell—semua berlomba menghadirkan asisten suara cerdas. Tapi, apakah benar AI ini secerdas yang mereka gembar-gemborkan? Atau malah justru membuat kita ingin menggebrak meja pemesanan? Mari kita bedah lebih lanjut, karena sebagai Majikan, Anda berhak tahu apakah teknologi ini benar-benar mempermudah hidup atau hanya menambah daftar masalah baru.
Di awal kemunculannya, optimisme terhadap chatbot AI di drive-thru cukup tinggi. McDonald’s, yang mengakuisisi Apprente pada 2019 dan bekerja sama dengan IBM, menjadi pelopor pada 2021. Wendy’s pun tak mau kalah, meluncurkan “FreshAI” pada 2023 yang bahkan dilatih untuk memahami “bahasa gaul” ala Wendy’s, seperti “Frosty” untuk milkshake. Klaimnya? 86% pesanan benar tanpa intervensi karyawan. Menggiurkan, bukan? Taco Bell bahkan berencana memperluas teknologi ini ke ratusan lokasi pada akhir 2024, menjanjikan pengurangan beban kerja karyawan dan waktu tunggu yang lebih singkat. Panera Bread, White Castle, Carl’s Jr., Hardee’s, Panda Express, dan Popeyes pun ikut-ikutan menjajal kecanggihan ini.
Namun, realitasnya tak seindah janji-janji iklan. Sebuah survei YouGov Januari 2025 menunjukkan bahwa 55% warga Amerika lebih memilih manusia untuk mengambil pesanan mereka di drive-thru, sementara hanya 4% yang lebih suka dilayani chatbot AI. Sisanya 21% tidak punya preferensi. Ini adalah pukulan telak bagi narasi “efisiensi tanpa batas” yang selalu digembar-gemborkan para insinyur. McDonald’s sendiri bahkan telah mengakhiri kemitraan AI drive-thru-nya dengan IBM pada tahun 2024. Sementara itu, Taco Bell mulai mengevaluasi ulang penyebaran AI drive-thru mereka setelah banyak pelanggan melampiaskan kekesalan di media sosial dan bahkan “ngerjain” AI dengan memesan 18.000 gelas air! Ada juga yang sengaja berbicara bahasa lain atau memesan aneh-aneh hanya untuk memancing operator manusia keluar. Mengapa? Karena AI, betapapun canggihnya, masih saja seringkali kurang piknik dan gagal paham konteks sosial yang sederhana.
Puncaknya, masalah kredibilitas AI drive-thru semakin terkuak. Tahun lalu, Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) mendakwa Presto — perusahaan di balik AI drive-thru di Checkers, Rally’s, Carl’s Jr., Hardee’s, dan Dairy Queen — karena menyesatkan pelanggan tentang kemampuan teknologinya. Sebuah pengajuan SEC pada tahun 2023 bahkan mengungkapkan bahwa sebagian besar pesanan yang diambil oleh sistem AI Presto sebenarnya ditangani oleh pekerja manusia di Filipina. Jadi, alih-alih robot yang melayani Anda, bisa jadi manusia di belahan dunia lain yang sedang tersenyum kecut mendengar pesanan Anda yang rumit. Ini menunjukkan bahwa, meski hype-nya selangit, AI seringkali hanyalah topeng digital di balik kerja keras manusia. Bahkan, baru-baru ini ada kabar bahwa Microsoft juga mulai membatalkan lisensi Claude Code AI.
Meskipun begitu, restoran cepat saji tidak menyerah begitu saja. Mereka hanya bergeser strategi. McDonald’s, misalnya, kini menjajal AI untuk memprediksi kapan mesin es krimnya yang legendaris itu akan rusak (semoga kali ini berhasil!). Mereka juga menggunakan timbangan bertenaga AI untuk memastikan pesanan Anda sudah sesuai beratnya sebelum dikemas. Burger King memperkenalkan asisten AI bernama “Patty” yang membantu karyawan di dapur dan bahkan menilai keramahan mereka. Taco Bell sedang menguji papan menu bertenaga AI yang bisa berubah secara dinamis berdasarkan pelanggan yang datang. Bahkan Culver’s dan Zaxby’s menggunakan kamera AI untuk memantau aliran lalu lintas dan efisiensi layanan drive-thru. Ini adalah bukti bahwa AI bukan hanya tentang interaksi langsung yang seringkali “konyol”, tapi juga tentang optimasi di balik layar. Para Majikan sejati tahu, kecanggihan yang paling efektif seringkali adalah yang tidak terlihat secara langsung.
Sebagai seorang Majikan AI, Anda perlu memahami seluk-beluk teknologi ini, bukan hanya agar tidak dibodohi janji palsu, tapi juga agar bisa memanfaatkannya secara maksimal. Jika Anda ingin mengendalikan AI dan memastikan Anda tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi, saatnya Anda mengasah kemampuan. Pelajari cara memanfaatkan kekuatan AI untuk diri Anda, bukan sebaliknya. Kendalikan AI dengan AI Master, dan pastikan Anda selalu satu langkah di depan sistem yang terkadang masih “butuh sekolah”.
Pada akhirnya, terlepas dari segala embel-embel “cerdas” yang melekat pada AI, ingatlah: di balik setiap chatbot yang gagap atau sistem yang butuh “bantuan”, ada manusia yang menekan tombol. AI memang alat yang luar biasa, tapi akal sehat dan kebijaksanaan tetaplah milik Anda, sang Majikan. Jangan biarkan robot-robot ini membuat Anda kesal, apalagi sampai memesan 18.000 gelas air hanya untuk membuktikan siapa yang berkuasa. Buang-buang uang saja.
Ngomong-ngomong, tadi pagi saya mencoba mendiskusikan rencana makan siang dengan kucing saya. Hasilnya sama saja dengan bicara pada chatbot drive-thru yang lagi ngadat.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.
Gambar oleh: Getty Images via The Verge