Suno Bukan Lagi “Pabrik Sampah” Musik: Bagaimana 1010Benja Menjinakkan AI untuk Lolos dari Telinga Kritikus
Jika Anda sering mendengarkan musik hasil generator kecerdasan buatan, Anda pasti paham rasa frustrasi ini: nadanya datar, liriknya klise, dan aransemennya terasa seperti dibuat oleh robot yang kurang piknik. Sebagian besar produk dari platform musik generatif hanyalah tumpukan “sampah digital” (slop) yang menyinggung telinga para penikmat musik sejati. Namun, sebagai majikan yang memiliki akal, kita tidak boleh langsung menyalahkan alatnya. Ingat, buruknya hasil kerja asisten rumah tangga sering kali bukan karena sapunya yang rusak, melainkan karena cara menyapunya yang malas.
Kabar mengejutkan datang dari musisi eksperimental, 1010Benja. Melalui lagu pembuka di EP terbarunya yang berjudul “Semiramis’ Dream”, ia berhasil memaksa kritikus musik paling skeptis sekalipun untuk menjilat ludah sendiri. Lagu ini meledak dengan ketukan jungle beat yang dinamis dan vokal manusia yang sangat organik di bagian depan, membuat banyak orang tidak menyadari bahwa di balik keindahan tersebut, ada kontribusi besar dari mesin pembuat musik instan, Suno.
Ini adalah bukti nyata bagaimana manusia harus bersikap di hadapan teknologi. AI tidak diletakkan sebagai pencipta tunggal yang diagung-agungkan, melainkan diposisikan secara terhormat di tempat yang semestinya: sebagai buruh kasar yang siap disuruh-suruh melakukan pekerjaan repetitif demi mewujudkan visi sang majikan.
Analisis Mendalam
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas musik generatif AI sangat membosankan. Bahkan Terrence O’Brien, Editor Akhir Pekan dari media teknologi ternama The Verge, yang terkenal sangat antipati terhadap musik AI, harus mengakui bahwa dirinya sangat menikmati karya terbaru Benja ini. Lantas, bagaimana keajaiban ini bisa terjadi di tengah maraknya polusi suara akibat “Suno slop”?
Rahasianya terletak pada etos kerja keras manusia, bukan kehebatan algoritma. Benja dan kolaboratornya, Patrick Holder, tidak sekadar mengetik baris perintah (prompt) lalu duduk manis minum kopi. Mereka memulainya dengan cara tradisional: Holder membuat ketukan dasar (beat), sementara Benja menulis lirik dan merekam vokal aslinya. Elemen-elemen mentah yang sangat manusiawi inilah yang kemudian diumpankan ke dalam sistem Suno.
Setelah Suno memuntahkan hasilnya, proses tidak berhenti di sana. Benja membawa file audio tersebut ke perangkat lunak Ableton, memotong-motongnya, mengedit, menambahkan lapisan instrumen baru, lalu memasukkannya kembali ke dalam Suno. Siklus gila ini—masuk Suno, edit di Ableton, balik lagi ke Suno—dilakukan secara berulang-ulang hingga beberapa ratus kali untuk satu lagu saja. Proses interaktif yang melelahkan ini menunjukkan bahwa melahirkan karya seni yang berkualitas menggunakan AI membutuhkan keringat manusia yang tidak sedikit.
Batasan Sistem
Meskipun lagu ini terdengar luar biasa, kita harus jeli melihat di mana garis batas kemampuan teknologi ini. Apa yang sebenarnya tidak bisa dilakukan oleh Suno di sini? Jawabannya: hampir semua bagian esensial yang membuat lagu ini bernyawa. Suno tidak menulis lirik yang puitis, tidak memiliki insting untuk meletakkan vokal emosional Benja di garis depan, dan tentu saja tidak bisa menentukan kapan sebuah komposisi terdengar “selesai” dan “enak didengar”.
Bahkan jika kita membedah elemen yang paling jelas dihasilkan oleh AI dalam lagu ini—yaitu paduan suara anak-anak di latar belakang—suaranya tidak benar-benar meyakinkan secara akustik. Kritikus musik mencatat bahwa efek paduan suara yang agak aneh (uncanny) tersebut sebenarnya sangat mudah ditiru menggunakan pemrosesan vokal cerdas dan teknik layering standar di Ableton tanpa perlu menyentuh AI sama sekali. Suno hanya digunakan di sini karena kemampuannya menghasilkan tiruan kasar dengan cepat, yang kemudian disamarkan dengan sangat cerdik di bawah estetika hyperpop yang serba cepat.
Di sinilah insting manusia tetap unggul mutlak. AI tidak tahu estetika; ia hanya tahu probabilitas statistik berdasarkan data latihannya. Tanpa kurasi ketat dan kepekaan rasa dari 1010Benja, Suno hanya akan menghasilkan musik latar murah yang biasa Anda dengar di lift hotel atau video tutorial memasak di YouTube.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Dampak Masa Depan
Penggunaan AI oleh 1010Benja juga membuka tabir realitas pahit di industri kreatif saat ini. Benja sendiri tidak menyangkal adanya beban etis dalam menggunakan teknologi ini, mulai dari konsumsi energi yang merusak bumi hingga ketakutan akan korporasi serakah yang ingin menggantikan musisi manusia. Namun, sudut pandang nihilistiknya sangat membumi: “Orang baik tidak akan menang dalam urusan ini,” ujarnya jujur. Bagi Benja, yang sempat mengalami masa-masa sulit hingga tidak mampu membayar uang sewa rumah, AI adalah satu-satunya alat bantu yang realistis untuk mewujudkan visi artistiknya yang megah di tengah keterbatasan finansial.
Alih-alih menyewa paduan suara anak-anak profesional yang biayanya selangit, ia memilih mempekerjakan “kacung digital” gratisan. Fenomena ini berpotensi mengubah peta persaingan industri musik masa depan. AI generatif tidak akan membunuh musisi hebat, melainkan akan menjadi senjata bagi para seniman independen beranggaran rendah untuk mendobrak dominasi studio rekaman besar yang mapan.
Kesimpulan
Pada akhirnya, lagu “Semiramis’ Dream” sukses bukan karena kecanggihan algoritma Suno, melainkan karena kejeniusan dan kegigihan seorang manusia bernama 1010Benja. Kasus ini menjadi tamparan keras bagi mereka yang percaya bahwa AI akan segera menggantikan seniman. Tanpa adanya telinga manusia yang peka untuk menyaring, memotong, dan menyusun kembali bit-bit digital tersebut, AI hanyalah tumpukan kode mati yang tidak bernyawa. Ingatlah wahai para majikan, sekreatif apa pun sebuah program komputer, tombol ‘Enter’ dan kendali selera tetap berada di bawah ujung jari Anda yang memiliki akal.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: 1010Benja / Instagram via TechCrunch
Suno mungkin bisa menyusun paduan suara anak-anak yang megah dalam hitungan detik, tetapi ia tetap saja tidak akan pernah bisa memahami kenapa mi instan yang dimasak di warung kopi selalu terasa jauh lebih enak ketimbang buatan sendiri.