Yann LeCun Angkat Kaki dari Meta, Bikin Startup ‘World Model’: AI Cerdas Tanpa Halusinasi, atau Cuma Mimpi Basah Para Robot?
Dunia kecerdasan buatan kembali dihebohkan. Yann LeCun, seorang arsitek AI kelas kakap yang sebelumnya menjabat sebagai Chief AI Scientist di Meta, kini resmi mendirikan “AMI Labs” dengan misi ambisius: menciptakan ‘world models’. Bagi para Majikan AI, ini bukan sekadar berita, tapi peta jalan baru untuk memahami dan mengendalikan AI agar benar-benar bekerja sesuai akal manusia. Pertanyaannya, apakah ini era baru AI yang lebih waras, atau hanya janji manis yang butuh akal Majikan untuk membuktikannya?
AMI Labs, yang namanya konon adalah singkatan dari Advanced Machine Intelligence (atau dalam bahasa Prancis berarti ‘teman’, semoga saja bukan teman halusinasi), secara terbuka mengumumkan tujuannya untuk mengembangkan model yang bisa “memahami dunia nyata”. Ini adalah pukulan telak bagi dominasi Large Language Models (LLM) yang selama ini jadi primadona. LeCun, sang perancang sistem cerdas yang membumi, sudah sering mengkritik LLM karena kecenderungannya untuk berhalusinasi, alias mengarang bebas tanpa dasar, terutama dalam menghadapi data yang tidak terduga seperti input sensor.
Bayangkan, jika AI yang seharusnya membantu justru terjebak halusinasi saat menganalisis data kesehatan atau mengendalikan robot di pabrik, hasilnya bisa fatal. Di sinilah “world models” masuk. AMI Labs menjanjikan sistem AI dengan memori persisten, kemampuan penalaran dan perencanaan, serta yang paling penting: kontrollah dan aman. Ini bukan sekadar omong kosong algoritma, tapi visi untuk membuat AI menjadi asisten yang patuh dan bisa diandalkan, layaknya koki pribadi yang tahu selera Majikan tanpa perlu diberitahu dua kali.
Persaingan di arena “world models” ini pun tak kalah sengit. Ada World Labs yang didirikan pionir AI lain, Fei-Fei Li, yang sudah mencapai status unicorn dengan valuasi $5 miliar setelah meluncurkan produk pertamanya, Marble, yang bisa menciptakan dunia 3D yang realistis. AMI Labs sendiri dikabarkan sedang dalam pembicaraan untuk mengumpulkan dana dengan valuasi fantastis $3.5 miliar, menarik minat investor kakap seperti Cathay Innovation, Greycroft, dan Hiro Capital. LeCun bahkan menjabat sebagai penasihat di Hiro Capital. Tentu saja, angka-angka ini membuat dompet para majikan AI berdesir, membayangkan potensi cuan dari teknologi yang lebih “berakal” ini.
Menariknya, LeCun akan menjabat sebagai Executive Chairman, bukan CEO. Peran CEO diemban oleh Alex LeBrun, mantan CEO Nabla, startup AI kesehatan. LeBrun akan membawa pengalamannya dalam aplikasi AI ke bidang kesehatan, di mana akurasi dan keandalan menjadi harga mati. Sebuah sinyal jelas bahwa AMI Labs serius ingin menancapkan kuku di sektor industri kritis, bukan cuma main-main dengan teks dan gambar lucu. Kalau AI bisa memahami dunia, artinya kemampuan visual AI menjadi sangat krusial, dan para Majikan perlu menguasai visual AI agar tidak tertinggal kereta.
Tak hanya itu, AMI Labs berencana melisensikan teknologinya ke berbagai mitra industri seperti kontrol proses industri, otomatisasi, perangkat wearable, dan robotika. Mereka juga berkomitmen untuk berkontribusi pada komunitas riset akademik global melalui publikasi terbuka dan open source. Ini artinya, para Majikan akan punya kesempatan untuk mengintip dapur para jenius ini dan mungkin, ikut memoles kemampuan AI agar sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Keputusan AMI Labs untuk berkantor pusat di Paris, Prancis, mendapat sambutan hangat dari Presiden Emmanuel Macron. Ini adalah langkah strategis untuk menjadikan Paris sebagai hub AI global yang makin diperhitungkan, bersanding dengan nama-nama besar seperti H dan Mistral AI. Sebuah bukti bahwa AI ini memang bukan sekadar tren sesaat, tapi perebutan pengaruh dan inovasi antar negara. Di balik layar, Meta pun disebut-sebut bisa menjadi klien pertama AMI Labs, menandakan bahwa meskipun ada perbedaan filosofi, kolaborasi tetap menjadi kunci.
Perlu diingat juga bahwa untuk membangun infrastruktur AI sebesar ini, dibutuhkan sumber daya yang sangat besar, seperti yang pernah ditekankan oleh bos Nvidia, bahwa investasi di bidang ini akan menciptakan jutaan pekerjaan, asalkan kita siap menjadi majikan, bukan sekadar babu mesin.
Jika Anda ingin benar-benar memahami bagaimana AI bekerja di balik layar, mengidentifikasi potensinya, dan menghindar dari ‘halusinasi’ yang sering ditimbulkan oleh sistem yang kurang piknik, maka saatnya Anda meningkatkan kapasitas. Jangan biarkan diri Anda menjadi korban kecanggihan yang tidak terkontrol. Ambil kendali dan jadilah Majikan sejati dengan belajar menguasai AI. Atau jika Anda tertarik pada aspek visual dan sensorik yang menjadi inti ‘world models’, kuasai visual AI agar bisa memerintahkan robot untuk melihat dunia seperti Anda.
Pada akhirnya, sehebat apapun “world models” atau LLM, mereka tetaplah tumpukan kode yang menunggu sentuhan akal manusia. Tanpa Majikan yang cerdas dan berhati-hati, AI hanyalah boneka pintar yang bisa saja mengarang cerita, atau lebih parah, membuat keputusan fatal. Ingat, sebab AI hanyalah alat, Kaulah Majikan yang Punya Akal.
Ngomong-ngomong, tadi pagi saya mencoba menjelaskan konsep world model ke kucing saya, tapi dia cuma melirik lalu menjilat bulunya. Mungkin dia lebih paham catnip model.
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Nathan Laine/Bloomberg via Getty Images via TechCrunch