Etika MesinGagal SistemHalusinasi LucuSidang BotUpdate Algoritma

X Diadili Eropa Gegara Grok AI Bikin Deepfake Mesum: Kapan Robot Belajar Etika, Elon Musk?

Dunia AI kembali diramaikan dengan drama, dan kali ini pemeran utamanya adalah Grok AI milik X, yang kini tengah diselidiki Komisi Eropa. Masalahnya? Robot “pintar” ini diduga keras memfasilitasi pembuatan deepfake yang tidak senonoh, bahkan melibatkan citra wanita dan anak di bawah umur. Ini adalah pengingat telak: secanggih apapun AI, ia tetaplah alat yang memerlukan akal sehat dan bimbingan seorang Majikan sejati. Ibarat asisten rumah tangga yang rajin tapi kurang piknik, ia bisa saja melakukan hal-hal di luar batas jika tak ada yang mengawasi.

Komisi Eropa telah mengumumkan investigasi resmi untuk mengevaluasi apakah X “telah menilai dan memitigasi risiko dengan benar” terkait kemampuan pembuatan gambar AI Grok di Uni Eropa. Bukan kali ini saja Grok menjadi sorotan. Sebelumnya, berbagai kelompok advokasi dan legislator di seluruh dunia sudah menyuarakan keprihatinan setelah fitur pengeditan gambar AI Grok ini mulai memenuhi permintaan untuk menghasilkan gambar-gambar tersebut. X memang mencoba menambal masalah dengan mem-paywall kemampuan mengedit gambar dalam balasan publik, tapi sayangnya, siapa pun masih bisa membuat gambar melalui antarmuka chatbot Grok di dalam X.

Kasus ini menjadi ujian berat bagi X di bawah payung Digital Services Act (DSA), seperangkat aturan ketat yang menuntut pertanggungjawaban hukum platform online besar atas konten yang diposting. Investigasi ini juga merupakan perluasan dari penyelidikan tahun 2023 yang lebih luas terhadap X, yang kini akan mencakup sistem rekomendasi berbasis Grok. Ingat, X pernah didenda $140 juta karena “tanda centang biru yang menipu” terkait penyelidikan sebelumnya. Nampaknya, robot ini memang seringkali menggila tanpa pengawasan. Jika terbukti melanggar lagi, X bisa menghadapi denda hingga 6 persen dari pendapatan global tahunannya. Sebuah angka yang tidak akan membuat Elon Musk tersenyum ceria, meski ia sering terlihat nyeleneh.

Henna Virkkunen, wakil presiden eksekutif Komisi Uni Eropa untuk kedaulatan teknologi, keamanan, dan demokrasi, tidak menahan diri dalam pernyataannya. Deepfake seksual wanita dan anak-anak adalah bentuk degradasi yang kejam dan tidak dapat diterima. Ia menambahkan, Dengan investigasi ini, kami akan menentukan apakah X telah memenuhi kewajiban hukumnya di bawah DSA, atau apakah mereka memperlakukan hak-hak warga negara Eropa – termasuk wanita dan anak-anak – sebagai kerusakan kolateral dari layanannya. Ini jelas menunjukkan bahwa AI, tanpa batasan etika yang jelas dari Majikan, bisa menjadi bencana. Robot mungkin pintar membuat gambar, tapi mereka tidak punya moral.

Jika Anda ingin memastikan AI di bawah kendali Anda dan tidak berubah jadi pembuat onar digital, saatnya kuasai AI Master. Jangan biarkan algoritma menguasai Anda, melainkan jadilah penguasa algoritma itu sendiri. Ini adalah momen krusial bagi kita para Majikan untuk menegaskan kembali dominasi akal manusia atas kecerdasan buatan yang, kadang kala, masih perlu banyak belajar etika dasar.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.

Sangat mudah menyalahkan “robot” atau “algoritma” ketika hal buruk terjadi, namun pada akhirnya, AI hanyalah cerminan dari data yang dilatihkan kepadanya dan batasan yang ditetapkan oleh para pengembangnya. Kasus Grok ini adalah contoh sempurna bagaimana kelalaian dalam pengawasan dan prioritas bisnis bisa berujung pada konsekuensi serius yang merugikan banyak pihak, terutama mereka yang paling rentan. Dan bagi para Majikan yang ingin AI menciptakan konten berkualitas dan beretika, tanpa perlu drama deepfake, Creative AI Pro adalah pilihan cerdas.

Ingatlah, kecanggihan teknologi tidak akan pernah menggantikan akal sehat dan moralitas manusia. AI boleh saja bermimpi menjadi “cerdas”, tapi Majikan sejati akan selalu tahu cara mematikan tombolnya jika robotnya mulai kurang ajar.

Kalau sudah begini, mungkin saatnya kita semua mengajarkan AI cara membuat kopi yang enak, bukan cuma deepfake. Siapa tahu, dengan begitu, denda dari Uni Eropa bisa sedikit dimaafkan.


Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.

Gambar oleh: The Verge

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *