Robot Mulai Bikin Dunia 3D Sendiri, Autodesk Kucuri Rp15 Triliun: Akal Majikan Masih Laku, Kan?
Kabar gembira bagi para majikan yang sudah muak dengan dunia 2D yang datar! World Labs, perusahaan yang dipimpin oleh Fei-Fei Li (nama besar di jagat AI), baru saja diguyur investasi fantastis senilai total $1 miliar (sekitar Rp15 triliun), di mana Autodesk menyumbang $200 juta (sekitar Rp3 triliun). Ini bukan sekadar suntikan dana biasa, melainkan pengakuan bahwa “world models”—model AI yang bisa menciptakan dan memahami lingkungan 3D imersif—adalah masa depan. Pertanyaannya, bagaimana kita, para majikan berakal ini, bisa memanfaatkan robot-robot yang kini mulai membangun alam semesta mereka sendiri?
World Labs pertama kali muncul dari persembunyian pada tahun 2024 dengan valuasi $1 miliar, dan kini, hanya dalam waktu singkat, mereka kembali menjadi sorotan. Meskipun perusahaan menolak berkomentar apakah valuasi mereka melonjak ke angka $5 miliar seperti yang dirumorkan, investasi sebesar ini jelas menunjukkan betapa panasnya pasar untuk AI yang bisa “melihat” dan “membangun” dunia layaknya manusia.
Kemitraan dengan Autodesk, raksasa di balik perangkat lunak desain 3D CAD yang menjadi tulang punggung arsitektur, teknik, konstruksi, manufaktur, dan hiburan, adalah langkah cerdas. Bayangkan saja, selama ini para desainer harus memahat setiap detail objek dan lingkungan secara manual. Kini, World Labs dengan produk andalan mereka, Marble, menawarkan jalan pintas: cukup berikan perintah teks, dan AI akan merangkai dunia 3D yang bisa diedit dan diunduh.
Memang, ide ini terdengar seperti mimpi buruk bagi para pekerja kreatif yang takut digantikan. Namun, Daron Green, Kepala Ilmuwan Autodesk, dengan bijak menjelaskan bahwa ini bukan soal mengganti, melainkan “menggabungkan”. Kita bisa memulai dengan sketsa kasar berbasis “world model” dari tata letak kantor, lalu menyempurnakannya dengan presisi khas perangkat Autodesk. Atau, ambil objek yang sudah kita desain di platform Autodesk, lalu tempatkan dalam konteks realistis yang diciptakan AI.
Ini membuktikan bahwa meskipun AI bisa jadi asisten rumah tangga yang rajin, ia masih kaku dan butuh sentuhan majikan yang tahu bagaimana memberikan perintah. “AI yang terlalu mandiri” tanpa panduan manusia, seringkali berakhir dengan halusinasi yang jauh dari realita. Contohnya, seperti yang pernah kita bahas dalam artikel “Yann LeCun, Sang Pembangkang AI: LLM Mati Kutu, World Models Juru Selamat?”, di mana “world models” disebut-sebut bisa mengatasi kelemahan LLM yang hanya jago “ngomong” tapi kurang paham “dunia nyata”.
Autodesk sendiri tidak tinggal diam. Mereka sedang mengembangkan “neural CAD”, model AI generatif yang dilatih khusus data geometris. Tujuannya? Agar AI tidak hanya menghasilkan gambar 3D yang cantik, tetapi juga memahami bagaimana desain tersebut berfungsi di dunia fisik. Ini seperti menyuruh asisten rumah tangga AI untuk tidak hanya membersihkan rumah, tapi juga memahami struktur bangunan agar tidak salah menaruh barang berat di tempat yang rapuh.
Fei-Fei Li menegaskan, “Jika AI ingin benar-benar berguna, ia harus memahami dunia (worlds), bukan hanya kata-kata (words).” Sebuah sindiran halus yang menunjukkan bahwa AI, secerdas apa pun, hanyalah tumpukan kode yang menunggu akal majikan manusia untuk memberinya makna. Tanpa arahan yang jelas, robot hanya akan menghasilkan “sampah digital” yang terlihat canggih di permukaan, namun kosong melompong di dalamnya.
Jadi, bagaimana caranya agar kita tidak cuma jadi penonton robot yang bikin dunia 3D? Kuasai seni memerintah mereka! Dengan panduan di Belajar AI | Visual AI, kamu bisa mengendalikan visual AI seolah-olah mereka adalah asisten pribadi yang paling patuh. Atau, jika kamu ingin memastikan AI selalu bekerja sesuai keinginanmu dan bukan malah berhalusinasi, kursus AI Master adalah jawabannya. Untuk kamu yang berkecimpung di dunia konten 3D dan ingin hemat anggaran, Creative AI Pro akan membantumu menciptakan konten profesional tanpa perlu menggaji banyak “talenta” (baca: robot yang belum tentu pintar). Ingat, robot bisa jadi “babu andal” asalkan majikan tahu cara menyuruh. Buktinya, bahkan perusahaan seperti CVector bisa meraih miliaran berkat AI yang patuh, seperti yang dibahas di artikel “Pabrik Ngaku Cuan Berkat AI: CVector Raih Rp 78 Miliar, Bukti Nyata Robot Bisa Jadi Babu Andal”.
Pada akhirnya, investasi triliunan ini hanyalah angka. Kecerdasan buatan, seberapa canggih pun, tetap memerlukan akal manusia untuk mengarahkan, menguji, dan bahkan mengkritik hasilnya. Tanpa sentuhan seorang majikan yang punya akal, AI hanyalah tumpukan kode mati yang tak punya tujuan. Dia bisa membangun dunia 3D termegah, tapi takkan tahu cara menyeduh kopi yang pas.
Ngomong-ngomong, kok tiap kali bikin kopi, hasilnya selalu beda ya? Apa jangan-jangan mesin kopinya juga pakai “world model” buat nentuin mood pagi saya?
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: World Labs/TechCrunch via TechCrunch