Konflik RaksasaMasa DepanRobot KonyolSidang Bot

Waabi dan Uber Kolaborasi Robotaksi 25.000 Unit: Ambisi Robot yang Butuh Akal Manusia di Baliknya!

Para majikan AI sekalian, bersiaplah untuk gelombang baru di jalanan! Startup truk otonom Waabi baru saja mengumumkan kerja sama masif dengan Uber untuk menggelar minimal 25.000 robotaksi. Ini bukan sekadar berita biasa, melainkan pengingat bahwa di balik ambisi robot yang seolah tanpa batas, selalu ada kebutuhan akan akal manusia yang cerdas. Bagaimana kita bisa memastikan bahwa armada robot ini tidak berakhir menjadi sekumpulan “robot konyol” di tengah kemacetan ibukota? Jawabannya ada pada bagaimana kita, para majikan, mengendalikan kecerdasan buatan ini.

Waabi, yang didirikan oleh Raquel Urtasun—mantan ilmuwan kepala di divisi teknologi canggih Uber yang sudah almarhum—memulai perjalanannya dengan fokus pada truk otonom. Pendekatan “AI-centric” mereka memang terdengar menjanjikan, namun realitanya, mengendalikan truk di rute komersial Texas terbukti jauh lebih rumit dari dugaan. Tiba-tiba saja, sorotan beralih ke robotaksi, area yang kini dianggap lebih “seksi” oleh investor, terutama setelah kesuksesan awal Waymo.

Lihatlah betapa cepatnya arah angin berubah di dunia AI! Dulu, truk tanpa pengemudi digadang-gadang akan lebih dulu menguasai jalanan karena dianggap lebih sederhana daripada navigasi di jalan kota. Tapi, seperti yang sudah kita saksikan, banyak perusahaan truk otonom seperti Embark Trucks, TuSimple, dan Locomation justru gagal total atau terpaksa memangkas ambisi mereka. Ini membuktikan, secerdas-cerdasnya algoritma, mereka masih bisa tersandung batu yang sama dengan manusia, terutama jika dihadapkan pada regulasi dan masalah teknis yang tidak terduga.

Waabi sendiri berhasil mengumpulkan dana fantastis sebesar 1 miliar dolar, di mana 750 juta di antaranya berasal dari putaran Seri C yang dipimpin oleh Khosla Ventures dan G2 Venture Partners. Uber pun ikut menyuntikkan modal khusus untuk pengembangan robotaksi ini. Dengan janji mengerahkan minimal 25.000 unit robotaksi di platform Uber, Raquel Urtasun percaya bahwa teknologi AI mereka bisa diaplikasikan secara lintas platform, dari truk ke taksi. Argumennya, perilaku operasional seperti navigasi ke lokasi spesifik untuk bongkar muat (truk) mirip dengan penjemputan dan pengantaran penumpang (robotaksi).

Namun, jangan sampai kita terlena dengan angka besar dan janji manis. AI itu seperti asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku: dia bisa melakukan tugas berulang dengan sempurna, tapi begitu ada perubahan skenario atau nuansa sosial yang kompleks, dia langsung “kurang piknik.” Robotaksi, dengan interaksi penumpang dan kompleksitas lalu lintas perkotaan, menghadirkan tantangan baru, terutama terkait risiko dan liabilitas. Uber sendiri punya sejarah pahit dengan proyek mobil swakemudi mereka yang berakhir mengenaskan, bahkan sampai menelan korban jiwa pada tahun 2018.

Ini bukan kali pertama ada operator kendaraan otonom yang banting setir ke robotaksi. Hal ini justru menunjukkan bahwa validasi di dunia nyata, dengan segala variabelnya, adalah “ujian akal” sejati bagi setiap AI. Tanpa panduan dan pengawasan yang ketat dari majikan manusia, algoritma tercanggih sekalipun bisa tersesat di jalan. Sepertinya, kecerdasan buatan masih perlu banyak belajar dari pengalaman manusia yang punya akal sehat.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Melihat kompleksitas ini, penting bagi kita untuk tidak sekadar menjadi penonton, tapi juga menjadi majikan yang menguasai teknologi. Jangan sampai Anda, sebagai manusia berakal, justru terbawa arus hype dan menyerahkan sepenuhnya kendali kepada AI tanpa pemahaman yang memadai. Kuasai AI, kendalikan AI, agar Anda tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Pelajari bagaimana menjadi majikan AI yang sesungguhnya dengan AI Master, dan pastikan Anda selalu satu langkah di depan para robot.

Pada akhirnya, Waabi dan Uber mungkin bisa mengaspalkan ribuan robotaksi, tapi keputusan untuk menyalakan mesin pertama, rute mana yang paling aman, dan bagaimana menghadapi setiap skenario tak terduga, tetap berada di tangan manusia. Sebab AI hanyalah alat, kaulah majikan yang punya akal.

Meskipun begitu, kalau robotaksi ini bisa mengantarkan saya ke warung kopi tanpa drama macet dan tukang parkir bayangan, saya tidak akan banyak protes.

Sumber Berita:

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Self-driving truck startup Waabi is teaming up with Uber on robotaxis”.

Gambar oleh: Waabi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *