Ekonomi AIKonflik RaksasaMasa DepanSidang Bot

Uber dan Waabi Pamer Robotaxi: Ini ‘Pernikahan’ Robot atau Jebakan Betmen Jilid Dua?

Dunia transportasi kembali heboh. Startup truk otonom Waabi, yang tadinya fokus angkut barang, kini banting setir ke dunia taksi robot. Tak tanggung-tanggung, mereka menggandeng raksasa transportasi Uber dan mengantongi dana fantastis 1 miliar dolar, dengan 750 juta dolar di antaranya khusus untuk proyek robotaxi ini. Bayangkan, 25.000 taksi tanpa sopir siap mengaspal di platform Uber! Ini bukan cuma soal kemewahan teknologi, tapi bagaimana kita sebagai Majikan AI bisa mengendalikan arah masa depan mobilitas ini. Apakah ini terobosan revolusioner yang akan memudahkan hidup, atau sekadar euforia sesaat yang berujung pada kekecewaan seperti cerita-cerita AI yang masih perlu banyak piknik?

Raquel Urtasun, CEO Waabi, yang juga mantan ilmuwan utama divisi teknologi otonom Uber, yakin betul bahwa teknologi AI yang mereka gunakan untuk truk bisa diaplikasikan ke robotaxi. Logikanya sederhana: kalau robot bisa mengantar barang ke tujuan spesifik, kenapa tidak mengantar manusia? Tapi, tunggu dulu. Logika AI memang lurus-lurus saja, seperti asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku. Ia bisa menjalankan perintah, tapi belum tentu paham nuansa di baliknya.

Faktanya, industri kendaraan otonom penuh dengan jalan berliku. Truk tanpa sopir, yang tadinya digadang-gadang lebih mudah dikembangkan karena rute tol yang relatif simpel, justru banyak menemui sandungan. Beberapa pemain besar seperti Embark Trucks, TuSimple, dan Locomation bahkan harus gulung tikar. Mereka mungkin lupa, jalan tol pun punya drama sendiri, apalagi jalanan kota yang penuh drama kehidupan manusia.

AI, sejauh ini, tidak bisa merasakan kegelisahan penumpang yang terburu-buru, tidak bisa mengantisipasi anak kecil yang tiba-tiba menyeberang tanpa peringatan, atau tidak bisa berempati ketika menghadapi situasi tak terduga. Semua itu butuh akal, naluri, dan pengalaman, sesuatu yang hanya dimiliki Majikan berakal. Waabi memang berbangga dengan pendekatan “AI-centric” dan keputusan mereka untuk menunggu platform yang tervalidasi sepenuhnya, bahkan menggandeng Volvo. Sebuah langkah yang terukur, memang. Namun, akankah validasi di laboratorium cukup untuk menghadapi kegilaan jalanan kota?

Kita tidak boleh lupa, Uber sendiri punya sejarah pahit dengan proyek mobil otonomnya. Skandal pencurian rahasia dagang hingga kecelakaan fatal yang menewaskan pejalan kaki di Arizona pada tahun 2018 adalah bukti nyata bahwa ambisi teknologi seringkali menabrak tembok realita. Dana segar 1 miliar dolar memang menggiurkan, tapi begitu ribuan robotaxi ini mengaspal, mereka akan menghadapi kompleksitas dan jebakan kehidupan urban yang bahkan manusia pun sering kewalahan. Robot bisa menavigasi, tapi manusia yang harus bertanggung jawab.

Untuk memahami lebih jauh bagaimana AI agen beroperasi dan potensi keterbatasannya di dunia nyata, Anda bisa membaca artikel ini tentang uji coba IBM terhadap agen AI di industri. Atau, jika Anda tertarik dengan sisi lain AI yang mencoba meniru perilaku manusia, artikel kami tentang Moltbot akan memberikan perspektif menarik.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Berita.

Di tengah hiruk pikuk inovasi ini, penting bagi kita untuk terus mengasah kemampuan dalam memahami dan mengendalikan AI. Jangan sampai kita terlena dan membiarkan robot menjadi majikan. Agar Anda bisa menjadi Majikan sejati yang mampu mengarahkan potensi AI, bukan malah menjadi babu teknologi, Anda bisa mulai dengan menguasai seluk-beluknya. Pelajari lebih lanjut bagaimana AI Master dapat membantu Anda mengoptimalkan kendali atas teknologi ini.

Pada akhirnya, sebanyak apapun dana yang digelontorkan dan semumpuni apapun algoritma yang dirancang, robotaxi ini tetaplah tumpukan logam dan kode mati. Tanpa akal sehat dan kebijaksanaan manusia di balik kemudi, janji-janji masa depan cerah hanyalah fatamorgana di tengah padatnya lalu lintas. Ingat, tombol ‘start’ dan ‘stop’ ada di tangan Anda.

Ngomong-ngomong, tadi pagi saya hampir telat kerja gara-gara kucing saya memutuskan untuk menganggap keyboard sebagai tempat tidur siang terbaik di dunia.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.
Gambar oleh: Waabi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *