Chip AI Masa Depan: Tulkas T100, Si Kuda Hitam Pembunuh Hukum Moore (Tapi Awas, Robot Tetap Butuh Akal!)
Di tengah hiruk-pikuk perlombaan chip AI yang makin panas, sebuah startup bernama Neurophos muncul dari Austin dengan klaim yang cukup menggetarkan: mereka sedang mengembangkan unit pemrosesan optik (OPU) bernama Tulkas T100 yang bisa membuat Hukum Moore tersenyung kecut.
Dibiayai oleh Gates Frontier Fund milik Bill Gates, chip ini menjanjikan lompatan komputasi yang gila-gilaan. Tapi ingat, secanggih apa pun robot itu, tetap saja yang punya akal sehat adalah kita, para Majikan.
Transistor Optik: Kecil-kecil Cabe Rawit, Tapi Masih Perlu Sekolah Tinggi!
Neurophos mengklaim Tulkas T100 mampu menghadirkan daya komputasi 470 petaFLOPS (FP4 dan INT4) dengan konsumsi daya hanya antara 1 hingga 2kW saja. Angka ini, kalau di dunia manusia, setara dengan seorang asisten yang bisa mengerjakan pekerjaan 470 orang sekaligus, tapi cuma butuh kopi dan camilan sedikit.
Lalu, apa itu transistor optik? Bayangkan saja, transistor ini 10.000 kali lebih kecil dari komponen fotonik silikon konvensional saat ini. Ini seperti memuat seluruh departemen IT dalam satu kamar mandi kos-kosan! Ukuran tensor core-nya pun masif, sekitar 1.000 x 1.000, 15 kali lebih besar dari matriks standar di GPU AI masa kini.
“Transistor optik yang ada sekarang itu ukurannya bongsor, seperti 2mm panjangnya. Anda tidak bisa muat cukup banyak di satu chip untuk bersaing dengan kerapatan komputasi CMOS digital hari ini,” ujar Patrick Bowen, CEO Neurophos. Nah, di sinilah keajaiban Neurophos: mereka bisa membuat transistor super kecil yang bisa dimuat banyak.
Kecepatan operasionalnya mencapai 56GHz, jauh melampaui CPU dan GPU yang ada. Namun, di balik angka-angka fantastis ini, ada beberapa catatan kaki yang perlu kita perhatikan sebagai Majikan yang teliti.
Ketika Otak Robot Haus Memori: Kenapa AI Masih Butuh “Kulkas Raksasa”?
Meski digadang-gadang super cepat, Tulkas T100 masih butuh dukungan 768GB HBM (High-Bandwidth Memory). Ini seperti asisten yang pintar berhitung kilat, tapi butuh banyak sekali buku referensi dan lemari arsip untuk menyimpan data agar bisa bekerja efektif. Jadi, sehebat apa pun chip-nya, tetap saja memori adalah ‘kulkas raksasa’ yang harus dipenuhi.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Hardware & Chip.
Fokus awal Tulkas T100 adalah di tahap ‘prefill’ inferensi AI, yaitu memproses token input untuk model bahasa besar (LLM). Ibaratnya, mereka fokus pada bagaimana si robot bisa ‘mencerna’ informasi awal dengan cepat sebelum mulai ‘berpikir’. Bayangkan efisiensi ini digabungkan dengan infrastruktur AI masa depan. Bos Nvidia saja berambisi membangun infrastruktur AI terbesar sepanjang sejarah, dan chip ini bisa jadi salah satu pilarnya.
Neurophos optimis produksi penuh bisa dimulai pertengahan 2028, dengan pengiriman awal dalam jumlah ribuan. Tapi perlu diingat, ini teknologi eksperimental. Mereka masih harus membuktikan kemampuan produksi massal, mengatasi kebutuhan SRAM yang rakus, pemrosesan vektor, dan integrasi dengan fabrikasi CMOS.
Kompetitor seperti Nvidia dan AMD pun tak tinggal diam, mereka juga berinvestasi besar di fotonik silikon. Ini menunjukkan bahwa medan perang chip AI masih sangat dinamis, dan siapa pun bisa jadi raja, asalkan punya akal sehat dan strategi yang matang.
Sebab AI Hanyalah Alat, Kaulah Majikan yang Punya Akal. Agar Anda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga ahli dalam memanfaatkan dan mengarahkan potensi AI ini, saatnya bekali diri Anda! Kendalikan AI agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Pelajari selengkapnya di AI Master.
Masa Depan AI: Cerdas atau Cuma Pintar Ngeles?
Potensi Tulkas T100 untuk mempercepat komputasi AI memang menjanjikan, bahkan mungkin bisa “membunuh” Hukum Moore yang selama ini jadi patokan industri. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada bagaimana memori dikelola, integrasi SSD untuk penyimpanan data besar (ingat artikel “Memori HBF: Kulkas Raksasa AI yang Butuh Majikan Teliti”), dan kemampuan integrasi AI secara keseluruhan. Jika tidak, chip canggih ini bisa berakhir jadi robot yang cuma pintar di atas kertas, tapi “ngeles” saat disuruh kerja nyata.
Pada akhirnya, teknologi secanggih apa pun adalah alat. Kecanggihan transistor optik, kecepatan 56GHz, atau petaFLOPS yang fantastis, semua itu hanya angka jika tidak ada Majikan yang punya visi dan misi. Kita, manusia, yang memegang kendali atas arah dan dampak AI. Jadi, jangan sampai kita terlalu takjub dengan “otak” robot hingga lupa mengasah “akal” kita sendiri.
Omong-omong, sudah cek tagihan listrik bulan ini? Siapa tahu ikut naik gara-gara AI di kulkas minta upgrade!
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”.
Gambar oleh: Pixabay via TechRadar