Tinder ‘Terjebak Cinta’ AI: Lawan ‘Swipe Fatigue’ dengan Robot Mak Comblang, Akankah Lebih Baik atau Makin Bikin Galau?
Para majikan sejati aplikasi kencan, bersiaplah! Setelah bertahun-tahun berjaya dengan konsep geser kanan-kiri yang bikin jempol keriting, Tinder kini mulai panik. Bukan karena stok foto profil habis, tapi karena “swipe fatigue” alias kelelahan menggeser profil yang tidak ada habisnya. Jawabannya? Tentu saja AI. Tapi, apakah ini benar-benar solusi cerdas, atau cuma akal-akalan robot yang ingin terlihat sibuk?
Tinder, raksasa di bawah bendera Match Group, meluncurkan fitur baru bernama Chemistry. Konon, fitur ini akan menjadi mak comblang digital Anda, menggunakan AI untuk memahami minat dan kepribadian Anda melalui pertanyaan-pertanyaan dan, yang paling menarik, dengan izin Anda, mengintip isi “Camera Roll” ponsel Anda. Tujuannya satu: agar majikan (baca: Anda) tidak lagi merasa seperti sedang mencari jarum di tumpukan jerami digital yang tak berujung.
Lawan “Kelelahan Swipe” dengan Robot Mak Comblang yang Masih Perlu Sekolah
Pertanyaannya bukan lagi “Apakah AI bisa?”, tapi “Seberapa ‘berakal’ AI ini?”. Spencer Rascoff, CEO Match, mengklaim Chemistry akan memberikan “cara berinteraksi dengan Tinder yang lebih AI-sentris,” dengan “setetes dua tetes” profil pilihan, bukan banjir bandang yang bikin mata perih. Ini semua karena Tinder sedang berjuang melawan penurunan jumlah pelanggan berbayar, kelelahan pengguna, dan minimnya pendaftar baru. Di kuartal terakhir saja, pendaftaran baru anjlok 5% dan pengguna aktif bulanan turun 9%. Angka yang cukup bikin nyali ciut, bahkan untuk robot paling optimistis sekalipun.
Meski begitu, AI-driven recommendation sudah menunjukkan perbaikan tipis, terutama dalam urusan menyusun ulang urutan profil untuk para wanita. Ini menunjukkan bahwa AI, seperti asisten rumah tangga yang rajin, bisa melakukan pekerjaan rutin dengan baik. Tapi apakah AI bisa benar-benar mengerti “chemistry” antarmanusia? Atau dia cuma jago mencocokkan metadata seperti hobi yang sama atau warna baju favorit di foto? Ingat, AI hanya akan sehebat data yang dia telan, dan “rasa” dalam hubungan manusia itu seringkali lebih kompleks dari algoritma terumit sekalipun.
Tinder juga ingin fokus pada Gen Z, generasi yang konon mudah lelah dengan hal-hal yang tidak relevan. Untuk itu, mereka merombak sistem pencarian agar tidak repetitif dan memperkenalkan “Face Check” untuk mengurangi interaksi dengan akun palsu. Hasilnya lumayan: lebih dari 50% penurunan interaksi dengan “aktor jahat.” Bagus, setidaknya kita tidak lagi kencan dengan robot penipu yang cuma ingin minta pulsa.
Tapi, apakah ini cukup untuk membuat “Tinder cool again” seperti yang mereka janjikan lewat kampanye marketing 50 juta dolar di TikTok dan Instagram? Mungkin, tapi yang jelas, “cool” itu rasa, bukan cuma angka. Apalagi kalau AI-nya makin kepo sampai mengintip isi foto pribadi, bisa-bisa malah bikin ilfil!
Konsep “swipe” yang dulu membuat Tinder terkenal, kini menjadi pedang bermata dua. Ia menciptakan ilusi pilihan tak terbatas, padahal pada akhirnya, koneksi sejati itu perlu dua arah. AI Chemistry ini mencoba mempersempit ilusi itu, memberikan curated choices agar majikan tidak perlu lelah “memilah sampah.” Ini seperti punya asisten pribadi yang sudah menyaring CV pelamar kerja, tapi wawancara tetap harus kamu lakukan sendiri, kan? Karena pada akhirnya, akal manusia yang menentukan keputusan final.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’
Saat ini, banyak perusahaan berlomba-lomba mengintegrasikan AI, namun seringkali melupakan esensi kendali manusia. Untuk menjadi majikan sejati di era AI, Anda perlu memahami bagaimana mengendalikan alat-alat ini, bukan sebaliknya. Kendalikan AI agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi, dengan mengikuti program AI Master!
Seringkali, di balik gembar-gembor inovasi AI, ada upaya perusahaan untuk menutupi masalah internal atau kegagalan produk mereka. Ini yang kami sebut sebagai fenomena “AI-Washing.” Jangan sampai Anda terkecoh, majikan!
Robot Boleh Jualan Janji, Majikan Wajib Lebih Ngacir!
AI memang bisa membantu, tapi insting dan kecerdasan Anda sebagai majikan tetap tak tergantikan. Ingin lebih jago “menyuruh” AI untuk urusan marketing agar strategi Anda “nggak robot banget”? Pelajari Creative AI Marketing di sini, karena promosi yang cerdas itu butuh sentuhan manusia, bukan cuma algoritma.
Tinder dan AI: Bukan Cinta Buta, Tapi Akal Sehat Majikan
Pada akhirnya, Tinder bisa saja menggunakan AI paling canggih sedunia untuk mencarikan Anda belahan jiwa. Tapi ingat, yang punya perasaan, yang bisa tertawa terbahak-bahak saat kencan pertama, atau yang memilih untuk menghapus aplikasi itu karena sudah menemukan tambatan hati, itu tetap Anda. Robot cuma bisa mencocokkan data, cinta itu urusan hati, dan hati itu wilayah eksklusif majikan berakal.
Saus sambal kemasan kadang rasanya lebih nendang dari yang dibikin di rumah, tapi tetap saja ada rasa bersalah karena tidak pakai resep nenek.
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: TechCrunch Archive via TechCrunch