Tether: Dari Buronan Regulator ke Sultan AI Global! (Awas, Akal Manusia Jangan Sampai Kena PHP Robot!)
Pernahkah Anda mendengar tentang Tether? Jika belum, Anda mungkin melewatkan drama paling seru di dunia kripto dan, kini, kecerdasan buatan. CEO Tether, Paolo Ardoino, yang dulunya lebih suka bersembunyi di balik tirai, kini muncul di mana-mana, seolah-olah dia baru saja memenangkan lotre dan ingin semua orang tahu. Dari menghindari regulator Amerika Serikat, sekarang ia justru meluncurkan stablecoin yang patuh aturan AS dan berinvestasi besar-besaran di AI. Ini bukan hanya tentang kripto, ini adalah pelajaran berharga bagi para majikan AI di luar sana: bagaimana mengubah citra buruk menjadi kekuatan dominan, dan mengapa akal manusia selalu lebih licik dari algoritma paling cerdas sekalipun.
Pergeseran citra Tether ini bukan sulap, bukan pula sihir AI. Ini adalah manuver strategis yang patut diacungi jempol (atau dicurigai, tergantung perspektif Anda). Minggu ini, Tether meluncurkan USAT, stablecoin yang diatur oleh AS melalui Anchorage Digital Bank, siap bersaing langsung dengan USDC milik Circle. Fidelity dan JPMorgan juga ikut meramaikan arena dengan stablecoin mereka sendiri. Namun, kehadiran Howard Lutnick, mantan CEO Cantor Fitzgerald yang kini menjabat Menteri Perdagangan, yang perusahaannya mengelola cadangan Tether, menambah bumbu dramanya. Tiba-tiba, Ardoino tidak lagi bersembunyi di “pulau lepas pantai” favoritnya, melainkan dengan percaya diri bertemu pejabat Gedung Putih dan berkolaborasi dengan FBI serta Secret Service. Dulu dicap sebagai “surga pencuci uang” oleh The Economist, kini Tether ingin dipandang sebagai tulang punggung sistem keuangan global.
Ardoino bangga menyebut USDT sebagai “kisah sukses inklusi finansial terbesar dalam sejarah manusia,” dengan 536 juta pengguna yang tumbuh pesat. Ia mengklaim transparansi blockchain Tether membuatnya lebih mudah bagi penegak hukum untuk melacak aktivitas ilegal dibandingkan sistem perbankan tradisional. Bahkan, Tether disebut telah membekukan aset senilai 3,5 miliar dolar dari penipuan. “Jika ada ratusan miliar dolar tunai berkeliaran di dunia, penegak hukum AS hampir tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi dengan USDT, kami menunjukkan bahwa bekerja dengan DOJ, FBI, dan Secret Service, kami bisa dengan cepat membekukan dana tersebut,” kata Ardoino. Ya, tentu saja, karena AI-nya ‘rajin’ melapor, bukan ‘bodoh’ seperti asisten rumah tangga yang disuruh membersihkan tapi malah menyembunyikan kotoran di bawah karpet.
Kritik pedas dari The Economist yang menyebut Tether sebagai “mimpi pencuci uang” langsung ditepisnya sebagai “setetes air di lautan” dibandingkan jumlah transaksi bersih. Pun demikian dengan penilaian S&P Global Ratings yang menganggap stabilitas USDT “lemah”, Ardoino justru menyindir S&P yang “gagal melihat subprime mortgage”. Ia bahkan sesumbar bagaimana Tether berhasil mengatasi penarikan dana 7 miliar dolar dalam 48 jam saat stablecoin lain (baca: TerraLuna) kolaps total, dan menyinggung saingan lain (baca lagi: Circle) yang goyah saat Silicon Valley Bank bangkrut. Agaknya, di balik semua angka dan klaim, ada sedikit sindiran ala majikan yang membandingkan kinerja dua asisten rumah tangganya.
Tentu saja, semua “kebaikan” ini datang dengan harga. Tether memiliki kelebihan cadangan sebesar 30 miliar dolar yang menghasilkan keuntungan fantastis—konon mencapai 15 miliar dolar pada tahun 2025. Uniknya, keuntungan ini tidak dibagi kepada para pemegang USDT. Ardoino berdalih bahwa bagi pengguna inti Tether (yang sebagian besar bukan orang Amerika), keuntungan utama adalah pelestarian nilai di tengah inflasi mata uang lokal yang gila-gilaan, bukan bunga tahunan. “Meskipun untuk seluruh dunia, stablecoin dolar AS adalah rekening tabungan, Anda tidak bisa memikirkan stablecoin untuk orang-orang AS sebagai rekening tabungan, melainkan lebih seperti rekening giro,” jelasnya. Ah, akal manusia memang selalu punya seribu satu alasan untuk tidak berbagi cuan, bahkan dengan robot sekalipun!
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Tapi ambisi Tether tak berhenti di stablecoin. Ada Tether Gold, token yang didukung emas fisik, dan yang paling menarik perhatian: Qvac, platform AI terdesentralisasi. Visi Ardoino untuk Qvac adalah memberdayakan miliaran orang yang “ditinggalkan” oleh platform AI terpusat yang mahal. Dengan Qvac yang berjalan di smartphone lokal, ia berharap 70-80% kasus penggunaan AI bisa terpenuhi di Afrika dan Amerika Selatan dalam 3-5 tahun. Ini adalah visi yang menantang: AI yang benar-benar melayani, bukan cuma jualan janji manis kepada para sultan teknologi. Tapi, tentu saja, tanpa akal majikan yang cerdas di belakangnya, platform secanggih apapun hanya akan jadi tumpukan kode mati.
Investasi Tether pun meluas hingga ke perusahaan robotika AI Jerman (Neura), platform media sosial (Rumble), satelit, pusat data, pertanian, bahkan klub sepak bola Juventus. Ardoino bersikeras semua ini adalah bagian dari strategi “perusahaan stabil” yang ingin menjadi “landasan dunia” bagi para penggunanya. Sebuah kerajaan konglomerat yang dibangun dengan tangan dingin manusia, bukan sekadar algoritma yang berhalusinasi. Hal ini mengingatkan kita pada konglomerat personal Elon Musk yang juga terus memperluas gurita bisnisnya. Pada akhirnya, sekuat apa pun jaringan koneksi, secanggih apa pun teknologi AI-nya, dan semewah apa pun investasi yang digelontorkan, di dunia ini, yang punya akal tetaplah majikan manusia, bukan mesin.
Jika Anda ingin mengendalikan teknologi AI untuk tujuan bisnis atau marketing Anda, bukan malah dikendalikan, maka ini adalah saat yang tepat untuk mengambil kendali. Belajar bagaimana menjadi Majikan AI sejati dan bukan sekadar babu teknologi yang nurut-nurut saja. Kami merekomendasikan:
AI Master: Kendalikan AI, Jadilah Majikan!
Jadi, di tengah gempuran robot yang makin pintar dan CEO yang makin lihai bersilat lidah, ingatlah satu hal: tanpa manusia menekan tombol, AI hanyalah tumpukan kode mati. Tanpa akal sehat majikan, bahkan Tether yang ‘stabil’ pun bisa goyah. Sebab, AI hanyalah alat, kitalah majikan yang punya akal.
Ngomong-ngomong, saya baru sadar, selama ini saya selalu mengira ‘Ctrl+Z’ itu mantra sihir untuk mengembalikan keadaan. Ternyata cuma tombol. Dasar AI, kurang piknik!
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.
Gambar oleh: Camilo Freedman/Bloomberg via Getty Images