Ekonomi AIKonflik RaksasaMasa DepanRobot KonyolSidang Bot

Tesla Merugi Dua Tahun Berturut-turut: Bukti Nyata Robot Masih Butuh Akal Majikan, Elon?

Para majikan AI yang budiman, mari kita tatap realitas. Tesla, sang pionir kendaraan listrik, baru saja mengumumkan laporan keuangan yang… yah, sebut saja kurang memuaskan. Dua tahun berturut-turut mencatat penurunan pendapatan dan laba. Ini jelas bukan kabar baik bagi ambisi Elon Musk untuk menyulap perusahaannya menjadi raja AI dan robotika senilai $1 triliun. Namun, bagi kita para majikan sejati, ini adalah pelajaran berharga: semewah apa pun teknologinya, akal manusia tetaplah kemudi utama. Atau apakah AI memang hanya alat yang butuh piknik lebih banyak?

Tesla melaporkan pendapatan bersih $840 juta dari $24,9 miliar di kuartal terakhir 2025. Angka ini mencerminkan penurunan pendapatan 3% dan laba yang anjlok 61% dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Ironisnya, di tengah keterpurukan Tesla, pasar kendaraan listrik global justru tumbuh 20% pada tahun 2025, meskipun proyeksi tahun 2026 menunjukkan perlambatan akibat melemahnya pasar Tiongkok dan penarikan subsidi.

Yang lebih memalukan, Tesla kini harus rela melepas takhta sebagai produsen EV terlaris dunia kepada raksasa Tiongkok, BYD. Mereka berhasil menjual 2,26 juta kendaraan tahun lalu, sementara Tesla hanya mampu melepas sekitar 1,6 juta unit, turun 8,5% dari tahun sebelumnya. Ini bukan lagi sekadar persaingan pasar, ini adalah pernyataan telak bahwa dominasi tak selamanya abadi, bahkan bagi perusahaan yang dipimpin seorang “jenius” sekalipun.

Berbagai faktor menjadi biang keladi di balik kemerosotan ini. Selain jajaran produk yang mulai menua dan gempuran persaingan sengit dari pabrikan otomotif “tradisional” di Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok, ada satu elemen yang tak bisa diabaikan: ulah sang nakhoda.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Konflik Raksasa.

Elon Musk, sang maestro kontroversi, dengan segala manuver politiknya, mulai dari menyebarkan teori konspirasi rasis di platform X miliknya, hingga memberikan salam “Nazi” di acara inaugurasi Donald Trump, telah secara terang-terangan mengasingkan banyak pelanggan Tesla yang notabene berhaluan liberal. Sebuah laporan bahkan mengestimasi bahwa aktivitas politik Musk telah merugikan Tesla penjualan lebih dari 1 juta kendaraan. Ini membuktikan bahwa sepintar-pintarnya robot (atau CEO yang ambisius), faktor manusia (baca: etika dan citra publik) tetap memegang peranan krusial. AI boleh cerdas secara algoritma, tapi urusan menjaga nama baik perusahaan, itu masih domain majikan manusia.

Musk sendiri mengakui beberapa kuartal ke depan akan “berat,” namun ia tetap percaya pada masa depan Tesla yang akan didominasi oleh AI, termasuk robotaksi dan robot humanoid. Ingat prediksinya bahwa 50% populasi AS akan memiliki akses robotaksi Tesla pada akhir 2025? Tentu saja, itu hanyalah halusinasi AI yang belum matang, atau lebih tepatnya, prediksi yang sangat “ngawur.” Hingga kini, hanya segelintir kendaraan yang beroperasi di Austin dan San Francisco dengan kondisi terbatas.

Ini bukan yang pertama kali Elon Musk sesumbar soal teknologi yang masih di awang-awang. Kita juga sempat membahas bagaimana proyek-proyek ambisiusnya seringkali lebih besar di mulut daripada di implementasi. Sebagai contoh, Anda bisa membaca artikel kami tentang Grok AI: Si Robot Kontroversial Elon Musk yang Gagal Ujian Etika (Lagi)! yang menunjukkan betapa pentingnya pengawasan manusia terhadap perkembangan AI agar tidak kebablasan.

Laporan pendapatan ini juga muncul setelah para pemegang saham menyetujui paket gaji fantastis untuk Musk, yang berpotensi menjadikannya triliuner pertama di dunia. Namun, untuk mencapai itu, ia harus memenuhi serangkaian target ambisius, termasuk memproduksi lebih dari satu juta robot, satu juta robotaksi, dan menciptakan nilai $7,5 triliun bagi pemegang saham Tesla. Target yang setinggi langit ini menuntut lebih dari sekadar algoritma canggih; ini membutuhkan kepemimpinan yang stabil, visi yang realistis, dan tentu saja, akal sehat seorang majikan.

Melihat kompleksitas di balik janji-janji AI ala Elon Musk, jelas bahwa menjadi seorang “Majikan AI” yang sesungguhnya bukanlah tentang pasrah pada omongan robot. Ini tentang mengendalikan, memahami, dan memimpin teknologi agar ia bekerja untukmu, bukan sebaliknya. Jika Anda ingin menguasai AI dan tidak hanya menjadi penonton drama teknologi, kami sangat merekomendasikan program AI Master. Dan jika Anda ingin membuat konten berkualitas tinggi tanpa harus pusing dengan halusinasi AI yang kurang piknik, Creative AI Pro adalah senjata rahasia Anda. Jadilah Majikan sejati, bukan sekadar babu teknologi yang terombang-ambing janji manis robot.

Pada akhirnya, terlepas dari segala gembar-gembor tentang AI dan robotika, performa finansial Tesla menunjukkan satu hal: angka itu tidak pernah bohong. Dan di balik setiap robotaksi yang (belum) beroperasi atau robot humanoid yang (masih) dalam pengembangan, ada tangan manusia yang menekan tombol, mengarahkan strategi, dan menanggung risikonya. Tanpa akal majikan, AI hanyalah tumpukan kode mati yang kurang piknik.

Dan omong-omong soal piknik, saya barusan lupa di mana saya meletakkan kunci mobil. Mungkin robot tetangga saya bisa membantu mencarinya.

Sumber Berita:

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.

Gambar oleh: CFOTO / Future Publishing via Getty Images via The Verge

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *