Hardware & ChipKonflik RaksasaMasa DepanSidang Bot

Dibuang Sayang: Chip Gagal Tesla ‘Dojo3’ Kini Punya Misi ke Luar Angkasa

Elon Musk lagi-lagi membuat drama. Proyek chip AI-nya yang sempat dibuang ke tempat sampah, Dojo3, kini dipungut lagi. Tapi kali ini, tujuannya bukan lagi untuk membuat mobil Tesla bisa menyetir sendiri di tengah kemacetan, melainkan untuk membangun “komputasi AI berbasis luar angkasa”.

Bagi seorang Majikan, ini bukan sekadar berita aneh. Ini adalah sinyal ke mana para raksasa teknologi akan membuang uang mereka selanjutnya, dan bagaimana infrastruktur AI masa depan mungkin tidak lagi menginjak bumi.

Fakta di Balik Manuver Gila Musk

Berita mengkonfirmasi bahwa Tesla menghidupkan kembali pengembangan chip AI generasi ketiganya, Dojo3, hanya lima bulan setelah proyek itu dibekukan dan tim intinya dibubarkan. Sebagian besar insinyur kuncinya bahkan sudah pindah ke startup baru bernama DensityAI. Sekarang, dengan pongahnya, Musk membuka rekrutmen baru dengan klaim bahwa Dojo3 akan menjadi otak untuk komputasi AI di orbit, sebuah visi yang terdengar lebih seperti plot film fiksi ilmiah ketimbang rencana bisnis.

Langkah ini adalah respons Musk terhadap dua masalah besar: dominasi Nvidia di pasar chip AI dan krisis energi di Bumi yang membuat data center semakin rakus listrik. Dengan memindahkan komputasi ke orbit yang ditenagai matahari 24/7, Musk mencoba melompati masalah yang dihadapi semua orang. Ini adalah pertaruhan tingkat tinggi dalam perang Konflik Raksasa teknologi.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Hardware & Chip.

Apa yang AI Tidak Bisa Lakukan?

Di sinilah kita, para Majikan, perlu menahan tawa sinis. AI seringkali digambarkan seolah-olah punya keinginan sendiri untuk berevolusi. Padahal, AI tak lebih dari asisten rumah tangga yang super rajin tapi kaku. Ia bisa menghitung triliunan data per detik, tapi tak akan bisa berfungsi jika AC di ruang server mati.

Visi Musk untuk menempatkan “otak” AI di luar angkasa sengaja mengabaikan tantangan teknis yang brutal:

  • Pendinginan: Bagaimana cara mendinginkan superkomputer di dalam vakum luar angkasa yang hampa udara?
  • Perlindungan: Bagaimana melindunginya dari radiasi kosmik yang ganas dan bisa merusak sirkuit kapan saja?
  • Perbaikan: Siapa yang akan melakukan perbaikan jika ada satu transistor yang rusak? Apakah harus mengirim teknisi dengan roket?

AI tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Ia butuh manusia, infrastruktur buatan manusia, dan lingkungan yang dikontrol manusia. Tanpa itu semua, Dojo3 di luar angkasa hanyalah seonggok logam mahal yang kedinginan dan kesepian.

Ambisi sebesar ini menunjukkan bahwa menguasai AI bukan hanya soal bisa menulis prompt. Ini tentang memahami visi dan infrastruktur di baliknya. Jika Anda ingin memastikan tetap menjadi pengendali, bukan sekadar pengguna, mendalami fundamentalnya adalah kunci. Itulah gunanya program seperti AI Master yang dirancang agar Anda tetap menjadi Majikan yang punya akal. Mengingat akar Dojo adalah untuk mobil otonom, memahami cara kerja AI visual juga menjadi krusial, sesuatu yang bisa Anda pelajari di Belajar AI | Visual AI.

Kesimpulan Seorang Majikan

Visi Elon Musk soal AI di luar angkasa memang terdengar hebat. Namun, ini adalah pengingat paling gamblang tentang posisi kita dalam hierarki. Secanggih apa pun Dojo3, ia tidak akan bisa meluncurkan dirinya sendiri ke orbit. Ia butuh roket SpaceX, butuh insinyur yang merancangnya, dan butuh seorang Majikan yang menekan tombol “Go”. Sebab pada akhirnya, AI hanyalah tumpukan kode mati yang menunggu perintah.

Ngomong-ngomong, kucing tetangga sepertinya hamil lagi.

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.
Gambar oleh: Cheng Xin / Getty Images via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *