Tesla ‘Ngeyel’ Bikin Chip AI Sendiri, Tantang Nvidia: Robot Makin Canggih, Majikan Makin Santai?
Elon Musk ini memang hobi bikin dunia teknologi geger. Setelah drama di Twitter (sekarang X) dan mobil listrik yang bisa nyetir sendiri (katanya), kini ia kembali dengan proyek superkomputer ‘Dojo 3’. Intinya, Tesla mau bikin chip AI sendiri, anti-Nvidia. Pertanyaannya, sebagai Majikan AI yang cerdas, apa untungnya buat kita? Apakah ini sinyal bahwa kita bisa segera memerintahkan AI dengan lebih efisien, tanpa harus memusingkan hardware yang mahal dan ‘bego’?
Tesla Reboots Dojo 3 dengan Ambisi Chip AI In-House yang Agak Kurang Piknik
Berita dari TechRadar ini cukup bikin alis naik. Tesla memutuskan menghidupkan kembali proyek superkomputer Dojo 3 setelah dua upaya sebelumnya (Dojo 1 dan Dojo 2) gagal total. Dojo 1 cepat usang dibanding sistem Nvidia, dan Dojo 2 di-cancel sebelum selesai. Ini seperti anak kecil yang merengek minta mainan baru setelah dua mainan sebelumnya patah di tangan. Tapi kali ini, mainannya bukan sembarang mainan.
Dojo 3 ini digadang-gadang akan sepenuhnya dibangun dengan hardware internal Tesla, tanpa campur tangan GPU Nvidia. Bayangkan, sebuah perusahaan otomotif (yang juga punya ambisi luar angkasa dan robot humanoid) berani menantang raja semikonduktor! Nic Cruz Patane, seorang pengamat, bahkan menyebut performa chip AI5 buatan Tesla ini bisa menyaingi Nvidia Hopper (untuk satu chip) dan mendekati level Blackwell jika dipasangkan, dengan konsumsi daya yang jauh lebih rendah. H100 butuh 700W, Blackwell 1.000W+, sedangkan AI5 Tesla “cuma” 250W. Irit energi itu bagus, tapi apakah itu berarti AI-nya lebih “pintar” atau cuma “rajin puasa”?
Ambisi Tesla jelas: mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga dan memangkas biaya. Ini langkah bisnis yang masuk akal, tapi juga sangat berisiko. Membangun infrastruktur chip dari nol itu bukan seperti merakit lemari IKEA. Ada proses riset, pengembangan, manufaktur, dan optimasi yang butuh sumber daya, waktu, dan keahlian tingkat dewa. AI sendiri masih sering “halusinasi”, apalagi kalau otaknya (hardware) dibikin sendiri dengan janji rilis chip baru setiap sembilan bulan. Ini jadwal yang ambisius, atau lebih tepatnya, “agak kurang piknik” untuk ukuran proyek sebesar ini.
AI5 dan AI4 direncanakan untuk mobil swakemudi dan robot humanoid, sementara AI6 untuk robot Optimus dan pusat data besar. Tapi, secanggih-canggihnya robot Optimus atau mobil swakemudi Tesla, tetap saja mereka tidak bisa memutuskan kapan harus mengambil jalan memutar karena macet atau memilih warung kopi mana yang paling enak. Itu masih ranah Majikan Manusia yang punya akal dan selera.
Bagaimana dengan nasib Nvidia di tengah gempuran ini? Tentu saja, persaingan ini akan semakin memanaskan industri chip AI. Pembaca bisa menengok lebih jauh bagaimana para raksasa teknologi bersaing memperebutkan kue AI di artikel kami sebelumnya, seperti Bos Nvidia: Bangun Infrastruktur AI Terbesar Sepanjang Sejarah, Ciptakan Jutaan Pekerjaan! (Asalkan Kamu Siap Jadi Majikan, Bukan Babu Mesin). Perdebatan tentang AI di hardware juga bisa dibaca di Laptop 2026: Bukan Cuma Bikin Pekerjaanmu Beres, Tapi Juga Bikin Otak AI-mu Mikir Keras!.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Hardware & Chip.
Jadilah Majikan, Bukan Babu Teknologi!
Agar Anda tidak sekadar jadi penonton, tapi bisa mengendalikan “otak” di balik AI canggih ini, saatnya menguasai seni memerintah. Pelajari cara memaksimalkan potensi AI agar Anda tetap jadi Majikan, bukan babu teknologi. Kunjungi AI Master dan kendalikan masa depan digital Anda!
Ingat, secepat dan seirit apapun chip AI Tesla, tanpa jemari Majikan yang menekan tombol ‘ON’, itu semua hanyalah tumpukan silikon dingin yang tidak lebih berguna dari kerupuk basi di hari Raya.
Kalau Elon Musk bisa bikin chip sendiri, mungkin saya juga bisa bikin kopi sendiri tanpa harus ke kafe. Tapi, latte art saya pasti kalah jauh dari AI yang cuma butuh data gambar.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”.
Gambar oleh: TechRadar via TechCrunch