Super Bowl LX: Arena Baru Pertarungan AI, Siapa yang Jualan Janji Kosong?
AI sudah tidak lagi sekadar jargon futuristik di pojok ruang server; ia telah mengambil alih panggung terbesar, Super Bowl LX. Ya, laga final football Amerika yang legendaris ini bukan cuma tentang touchdown atau half-time show Bad Bunny, tapi juga tentang pertunjukan kecerdasan buatan dalam iklan. Ini pelajaran berharga bagi para Majikan: bagaimana kita bisa memanfaatkan alat ini tanpa terjebak dalam janji manis yang (seringkali) berakhir dengan “robot kurang piknik”.
Di Super Bowl tahun ini, iklan yang menampilkan atau dibuat oleh AI diprediksi akan jauh lebih mendominasi dibandingkan euforia kripto beberapa tahun lalu. Ingat Google Gemini yang blunder data keju Gouda di Super Bowl sebelumnya? Tahun ini, mereka “belajar dari kesalahan” dengan iklan “New Home” yang fokus pada kreativitas, bukan fakta yang gampang salah. Ini seperti asisten rumah tangga yang tahun lalu salah hitung belanjaan, kini disuruh mendekorasi rumah. Hasilnya lebih aman dan estetik, tapi apakah benar-benar cerdas atau hanya mengikuti template?
Tak hanya itu, persaingan panas antar raksasa AI pun terpampang nyata. Anthropic, pesaing OpenAI, sudah menyiapkan strategi iklan Anthropic yang berani, secara halus menyindir OpenAI yang berencana menyisipkan iklan di ChatGPT. Menurut mereka, Claude (produk Anthropic) tidak akan terpengaruh iklan pihak ketiga. Respons dari bagaimana CEO OpenAI, Sam Altman, menanggapi sindiran tersebut sangat menarik: ia menyebut kampanye Anthropic “jelas tidak jujur” dan “bodoh”, karena menurutnya pengguna tidak akan menerima iklan semacam itu. Ini bukan lagi soal teknologi, tapi ego dan strategi pemasaran ala manusia.
Gelombang AI di Super Bowl juga ditandai dengan peluncuran AI.com oleh Kris Marszalek, CEO Crypto.com. Bayangkan, dari jualan koin digital, kini beralih ke agen AI pribadi yang “beroperasi atas nama pengguna”. Sebuah lompatan keyakinan, atau sekadar upaya branding di domain yang sedang naik daun? Sementara itu, Amazon juga tak mau kalah dengan iklan Alexa Plus yang kocak, di mana AI-nya justru berambisi “membunuh” Chris Hemsworth. Ini pengingat lucu bahwa AI masih perlu banyak sekolah sebelum benar-benar menguasai dunia, apalagi sampai bisa berkomplot dengan skenario plot film action.
Pada dasarnya, iklan-iklan ini menunjukkan dua hal:
1. AI adalah alat produksi konten yang efisien.
2. AI masih butuh sentuhan Majikan untuk urusan kreativitas, etika, dan menghindari blunder memalukan. AI bisa menghasilkan, tapi belum tentu mengerti nuansa emosi atau dampak sosial sebuah pesan.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Untuk para Majikan yang ingin mengendalikan narasi marketing tanpa campur tangan AI yang ‘kurang piknik’, program Creative AI Marketing bisa jadi panduanmu. Atau, jika Anda ingin melatih AI Anda sendiri agar lebih cerdas dan patuh, AI Master adalah kunci untuk Anda tetap menjadi Majikan sejati. Bahkan untuk visual iklan yang memukau, tanpa perlu menyewa tim desainer mahal, coba lirik Visual AI. Semua ini agar Anda bisa memaksimalkan potensi AI, bukan sebaliknya.
Pada akhirnya, Super Bowl LX hanyalah cerminan bahwa AI, sepintar-pintarnya dan se-viral-viralnya, tetaplah sebuah alat. Tanpa Majikan yang punya akal untuk memberi perintah, mengarahkan strategi, dan membedakan mana yang brilian dari yang sekadar “halusinasi”, semua itu hanyalah tumpukan kode mati.
Ngomong-ngomong, tadi pagi saya mencoba memesan kopi lewat asisten suara, dia malah menyarankan investasi di lahan gambut Kalimantan. Ada yang punya kopi dingin?
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: Getty Images via TechCrunch