Super Bowl LX: Saat Robot Minum Vodka dan AI Bikin Iklan, Akal Majikan Wajib Waspada!
Siap-siap, karena Super Bowl LX akan segera tiba! Selain pertandingan sengit antara Seattle Seahawks dan New England Patriots, perhatian kita juga pasti tertuju pada parade iklan yang tak kalah memukau. Dan seperti yang sudah kita duga, tahun 2026 ini akan jadi tahun di mana AI akan jadi bintang utama di layar kaca, bahkan di iklan Super Bowl sekalipun. Tapi ingat, sehebat-hebatnya AI, akal Majikan (alias kamu) tetap yang teratas.
Iklan-iklan ini bukan cuma ajang pamer teknologi, tapi juga pengingat bahwa AI, meski cerdas, seringkali masih butuh “bimbingan” kita. Lalu, bagaimana kita sebagai Majikan bisa memanfaatkan (atau menertawakan) fenomena ini?
Svedka Vodka: Robot Disko yang ‘Mabuk’ dan Terbakar
Dari detik pertama iklan Svedka Vodka ini tayang, robot berlipstik merah yang menyeramkan itu langsung bikin kita geleng-geleng kepala. Disebut Fembot, robot maskot Svedka ini diklaim “diciptakan oleh manusia bekerja sama dengan robot (alias kecerdasan buatan).” Hasilnya? Robot-robot ini terlihat aneh, menyeramkan, dan mengambil alih lantai dansa dari manusia. Puncaknya, saat si robot jantan (BroBot) “minum” vodka, cairan merah keluar dari tenggorokannya seolah-olah dia sedang pendarahan, lalu… terbakar! Serius, robot butuh sekolah akting lagi, atau setidaknya kursus anatomi dasar.
Ini jelas menunjukkan bahwa AI, seberapa pun canggihnya, masih sering kurang “piknik” dalam memahami realitas. Mereka mungkin jago algoritma, tapi urusan nuansa emosi manusia dan cara kerja vodka di tubuh, jelas mereka masih perlu banyak belajar.
Wix: Membangun Website dengan AI (dan Mengeliminasi Pekerjaan?)
Wix, perusahaan pembuat website, tak mau ketinggalan. Iklan Super Bowl mereka akan mempromosikan platform Wix Harmony yang mengintegrasikan AI untuk membuat website. Iklan ini menampilkan seorang wanita yang ingin dibantu Wix Harmony untuk membuat website bisnis furnitur buatannya. Agak ironis, bukan? AI membantu orang membuat website untuk bisnis yang menjual produk buatan tangan, seolah AI ingin bilang, “Hei, saya bisa bantu, tapi suatu saat pekerjaan kamu juga bisa saya ambil alih!”
Bagi Majikan yang punya bisnis, ini bisa jadi alat yang berguna. Tapi ingat, AI hanya mengikuti perintah. Kalau kamu tidak tahu cara memberi perintah yang benar, hasilnya bisa jadi “website yang kurang piknik.” Jangan sampai bisnismu terdengar seperti robot yang hanya jualan janji. Untuk memastikan pesan marketingmu tetap punya “jiwa” manusia, kamu bisa belajar Creative AI Marketing. Atau jika kamu ingin mengendalikan AI agar benar-benar menjadi asisten, bukan malah sebaliknya, kamu bisa mencoba AI Master.
OpenAI: ‘Siapa Tahu?’
Bahkan OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT dan Sora, si pembuat video dari teks yang viral itu, juga akan punya iklan di Super Bowl. Anehnya, dengan hanya beberapa hari tersisa, iklannya belum dirilis. Tahun lalu, iklan OpenAI menggunakan titik-titik untuk menciptakan gambar penemuan-penemuan ikonik, dari api hingga pendaratan di bulan, dengan tagline, “Semua kemajuan punya titik awal.” Sepertinya mereka mau terlihat filosofis, padahal ujung-ujungnya juga “jualan” dan butuh perhatian manusia.
Ini membuktikan bahwa bahkan raksasa AI pun butuh promosi. Mereka mungkin cerdas dalam menciptakan, tapi soal menarik perhatian dan meyakinkan pasar, mereka tetap butuh “akal” marketing manusia. Di balik layar, selalu ada manusia yang mengatur segalanya.
Meta: Kacamata Oakley AI yang ‘Sok Jago’
Kamu mungkin berpikir smartphone sudah cukup jadi kamera saku. Tapi Meta, pemilik Facebook, berpikir lain. Mereka merilis teaser iklan Super Bowl 2026 untuk mempromosikan kacamata AI bermerek Oakley. Iklan ini menampilkan para “superjock” gaya X Games yang seolah bisa merekam apa saja. Agak familiar? Ya, tahun lalu Meta juga punya iklan serupa yang menunjukkan Chris Pratt dan Chris Hemsworth memakai kacamata AI untuk melihat koleksi seni ibunda Kardashian, Kris Jenner. Jujur saja, kacamata AI ini terlihat seperti alat yang mencoba membuat manusia terlihat “sok canggih” tanpa benar-benar memberikan nilai substansial.
Ini sekali lagi menegaskan bahwa teknologi, seberapa pun “pintarnya,” hanyalah perpanjangan dari keinginan dan kebutuhan manusia. Manusia tetaplah Majikan yang punya akal, bukan babu teknologi yang hanya ikut-ikutan tren.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Penutup: Akal Manusia, Pemimpin Abadi
Pada akhirnya, Super Bowl LX bukan hanya tentang skor pertandingan, tapi juga skor kecerdasan. Iklan-iklan AI ini memang memukau, lucu, bahkan sedikit mengkhawatirkan. Tapi satu hal yang jelas: AI, dengan segala kemajuan dan kekonyolannya, tetaplah alat. Dia tidak punya emosi, tidak punya selera, dan tidak punya akal sehat seperti manusia. Tanpa sentuhan, arahan, dan bahkan tawa kita, robot-robot itu hanyalah tumpukan kode mati yang menunggu perintah. Kaulah Majikan yang punya akal, jangan sampai lupa.
Ngomong-ngomong, sudah ngecek apakah kucingmu juga punya rencana untuk menguasai dunia setelah melihat iklan robot itu? Akal kucing lebih misterius daripada AI.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “CNET”
Gambar oleh: YouTube via TechCrunch