Yann LeCun: Bukan Cuma LLM, Ada Otak AI Baru yang Lebih ‘Berakal’ (Awas, Robot Masih Perlu Sekolah Etika!)
Jika Anda bertanya pada guru besar AI, Yann LeCun, Silicon Valley punya masalah ‘pemikiran sekelompok’. Di tengah hingar-bingar pesta pora Large Language Model (LLM) yang katanya “paling cerdas”, ia membisikkan bahwa obsesi kita pada LLM itu seperti balapan kuda pakai kacamata kuda. Semua lari ke satu arah, padahal ada jalan pintas yang lebih menjanjikan. Nah, kalau para robot itu sedang asyik kebut-kebutan di jalan yang sama, bagaimana kita sebagai majikan bisa melihat peta jalan lain yang lebih menguntungkan?
Startup Logical Intelligence dari San Francisco, yang baru saja mengangkat LeCun ke dewan direksinya, berani menantang arus. Mereka sedang meramu apa yang disebut sebagai Energy-Based Model (EBM). Bayangkan LLM seperti tukang gosip yang pintar merangkai kata paling mungkin berikutnya, tanpa benar-benar paham apa yang ia bicarakan. EBM ini, sebaliknya, lebih mirip detektif yang dikasih aturan main (misalnya, aturan Sudoku) dan bisa memecahkan masalah dalam batasan itu. Hasilnya? Kona 1.0, model perdana mereka, bisa menyelesaikan Sudoku berkali-kali lebih cepat dari LLM terkemuka, bahkan cuma dengan satu GPU Nvidia H100. Ini membuktikan bahwa kecerdasan tidak selalu berarti boros daya atau kelewat ‘sok tahu’ seperti LLM yang seringkali berhalusinasi ria.
Bodnia, CEO Logical Intelligence, dengan santainya menyebut bahwa EBM adalah ‘model penalaran sejati’. Ia tak terikat bahasa, sehingga bisa fokus pada masalah-masalah krusial seperti mengoptimalkan jaringan energi atau otomatisasi manufaktur yang tak boleh ada salahnya. Ini seperti membandingkan pendaki gunung (EBM) yang melihat seluruh peta dan bisa menyesuaikan rute di tengah badai, dengan pendaki LLM yang hanya bisa berjalan lurus dan siap ‘terjun bebas’ jika ada lubang. AI yang masih perlu sekolah ini memang belum bisa menyamai akal manusia dalam adaptasi dan penalaran mendalam. Namun, setidaknya mereka menunjukkan jalan bahwa ada cara lain menuju Artificial General Intelligence (AGI) tanpa harus terjebak dalam gelembung LLM.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
LeCun sendiri punya ‘mainan’ baru, AMI Labs, yang fokus pada ‘world models’—AI yang bisa memahami dimensi fisik, punya memori jangka panjang, dan bisa memprediksi aksi. Logical Intelligence berencana berkolaborasi. Jadi, AGI bukan cuma satu ‘otak’ raksasa, tapi ekosistem model AI yang saling melengkapi. LLM jadi ‘mulut’ yang berinteraksi dengan manusia, EBM jadi ‘otak’ yang bernalar, dan world models jadi ‘tangan’ yang beraksi di dunia nyata. Ini semua menegaskan bahwa paradigma AI saat ini memang butuh dirombak. Terlalu banyak investasi di satu model saja bisa membuat kita terjebak dalam ‘gelembung AI’ yang sebenarnya hanya ‘gelembung LLM’. Ini bukan tsunami AI, tapi lebih mirip krisis identitas robot.
Sebagai majikan yang cerdas, Anda perlu memahami berbagai ‘spesies’ AI ini. Jangan sampai terjebak janji manis satu jenis AI saja. Jika Anda ingin mengendalikan teknologi AI agar sesuai kebutuhan Anda, bukan sebaliknya, pelajari cara menjadi Majikan AI sejati. Atau, jika Anda ingin agar strategi marketing Anda ‘nggak robot banget’, mungkin Anda butuh Creative AI Marketing.
Pada akhirnya, kecanggihan AI ini hanya sebatas alat. Tanpa akal sehat dan arahan dari manusia, mereka hanyalah tumpukan kode yang pintar mengoceh tapi kurang piknik. Ingat, robot bisa pintar, tapi cuma kita, para majikan, yang tahu cara hidup bahagia di akhir pekan.
Dan ngomong-ngomong, tadi pagi saya lihat AI di lampu merah masih bingung mana yang harus jalan duluan. Mungkin perlu di-upgrade otaknya biar bisa lebih peka dari tukang parkir.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “WIRED”
Gambar oleh: WIRED Staff; Nathan Laine/Getty Images via TechCrunch