Startup Ini Disuntik Rp 88 Miliar Cuma Buat Bikin AI Gak Gagap Lagi. Masuk Akal?
Kita semua pernah mengalaminya. Menelepon customer service dan disambut oleh suara robot yang kaku, mengulang-ulang, dan ujung-ujungnya bikin naik darah. Rasanya lebih cepat bicara dengan tembok. Nah, sebuah startup bernama VoiceRun rupanya melihat penderitaan kita sebagai peluang bisnis, dan investor pun setuju dengan menggelontorkan dana segar $5.5 juta (sekitar Rp 88 Miliar).
Tugas mereka? Membangun “pabrik” agen suara AI yang katanya lebih canggih. Pertanyaannya, apakah uang sebanyak itu bisa membuat robot berhenti menjadi asisten yang menjengkelkan dan mulai benar-benar membantu? Mari kita bedah.
Pabrik Suara AI: Antara Cetakan Kue dan Seni Ukir
Menurut pendiri VoiceRun, masalah utama saat ini ada dua. Pertama, platform no-code yang memungkinkan siapa saja membuat bot suara dengan cepat. Hasilnya? Seperti asisten yang hanya dibekali naskah kaku. Jika kamu bertanya di luar naskah, dia langsung bingung dan berkata, “Maaf, saya tidak mengerti pertanyaan Anda.” Kualitasnya seringkali rendah dan tidak fleksibel.
Di sisi lain, ada perusahaan raksasa yang menghabiskan waktu berbulan-bulan membangun sistem suara internal yang canggih. Ini ibarat menyewa seniman ukir profesional untuk membuat satu patung. Hasilnya bagus, tapi mahal dan lama.
VoiceRun mencoba mengambil jalan tengah. Mereka tidak memberikan cetakan kue (no-code), melainkan seperangkat alat pahat canggih (platform berbasis kode) untuk para pengembang. Dengan ini, para “Majikan” (developer) bisa menciptakan agen suara yang lebih fleksibel, misalnya bisa bicara dengan dialek tertentu atau memahami konteks yang lebih rumit. Ini memberi kendali lebih, karena perintah diberikan dalam bahasa asli si robot: kode program.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Strategi Startup.
Kelemahan yang Tak Bisa Dibeli dengan Uang
Di sinilah kita harus tetap berpijak pada kenyataan. Secanggih apapun platform VoiceRun, AI tetaplah AI. Ia bisa diprogram untuk meniru empati, tapi tidak akan pernah benar-benar merasakannya. Agen suara ini mungkin tidak akan gagap lagi saat menghadapi permintaan aneh, tapi ia tidak akan mengerti rasa frustrasi seorang pelanggan yang paketnya hilang entah ke mana.
Sebuah survei dari Five9 menunjukkan bahwa 75% konsumen masih lebih suka berbicara dengan manusia. Angka ini adalah bukti bahwa sentuhan manusiawi—intuisi, pemahaman emosional, dan kemampuan berimprovisasi total—adalah hal yang tidak bisa direplikasi oleh barisan kode, semahal apapun investasinya.
Platform seperti VoiceRun memang alat yang lebih baik, tapi alat hanyalah alat. Untuk benar-benar menguasainya dan membuat AI bekerja sesuai keinginan kita, diperlukan pemahaman yang mendalam. Kamu tidak bisa berharap AI bekerja cerdas jika perintahmu standar. Inilah saatnya untuk benar-benar menjadi majikan, bukan sekadar pengguna pasrah. Jika kamu ingin mulai mengendalikan AI alih-alih dikendalikan olehnya, mempertajam skill adalah langkah pertama. Di situlah program seperti AI Master berperan, membantumu memahami cara memberi perintah agar teknologi ini tunduk, bukan malah membuatmu jadi babunya.
Kesimpulan: Tetap Manusia yang Pegang Kendali
VoiceRun adalah langkah maju yang menarik. Mereka tidak menjual mimpi bahwa AI akan menggantikan manusia, tapi mereka menyediakan perkakas yang lebih tajam bagi manusia untuk membangun solusi yang lebih baik. Dana Rp 88 Miliar itu bukan untuk membuat AI punya perasaan, tapi untuk memastikan ia menjalankan perintah dengan lebih mulus.
Pada akhirnya, sebagus apa pun “pabrik”-nya, kualitas produk akhir tetap bergantung pada sang arsitek. Sebab tanpa seorang Majikan yang punya akal untuk merancang, mengarahkan, dan menekan tombol “RUN”, AI hanyalah tumpukan kode mati yang sunyi.
Ngomong-ngomong, sambal terasi kemarin sepertinya kurang pedas.
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.