Hardware & ChipKonflik RaksasaSidang BotStrategi StartupUpdate Algoritma

Startup “Kacang” Arcee AI Berani Tantang Llama Meta dengan LLM 400B Open Source: Robot Kecil Lawan Raksasa, Siapa yang Lebih Berakal?

Dunia AI kadang memang penuh drama, Majikan. Para raksasa teknologi sudah gembar-gembor bahwa pasar model AI sudah dikuasai mereka. Google, Meta, Microsoft, dengan asisten-asisten kesayangan mereka seperti OpenAI dan Anthropic, seolah ingin bilang: “Sudah, kamu pakai yang ini saja, jangan neko-neko.” Tapi, jangan salah, ada saja ‘kacang’ yang berani melawan ‘lupa kulitnya’, membuktikan bahwa akal manusia adalah komandan tertinggi, bukan cuma tumpukan kode.

Kini, giliran startup mungil bernama Arcee AI yang unjuk gigi. Dengan hanya 30 personel, mereka baru saja merilis model bahasa besar (LLM) berkapasitas 400 miliar parameter yang diberi nama Trinity. Yang bikin tercengang, model ini bersifat open-source sejati dengan lisensi Apache, diklaim sebagai salah satu model fondasi open-source terbesar dari perusahaan AS yang dibangun dari nol. Arcee bahkan sesumbar Trinity bisa bersaing, bahkan sedikit mengungguli, model sekelas Meta Llama 4 Maverick dan Z.ai GLM-4.5 dari Universitas Tsinghua, China, dalam uji benchmark awal untuk kemampuan coding, matematika, penalaran umum, dan pengetahuan.

Tentu saja, Majikan, robot ini belum sempurna. Trinity saat ini hanya mendukung teks. Namun, jangan remehkan. CTO Arcee, Lucas Atkins, mengatakan model visi (gambar) sedang dalam pengembangan, dan model suara akan menyusul. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan, seperti asisten rumah tangga yang baru belajar, masih butuh bimbingan untuk menguasai berbagai “bahasa” komunikasi.

Motivasi Arcee jelas: mereka ingin “merebut hati dan pikiran” para pengembang dan akademisi di AS. Mereka lelah melihat perusahaan AS bergantung pada model open-source yang banyak berasal dari China, atau model “setengah terbuka” dari raksasa seperti Meta. “Untuk memenangkan hati dan pikiran pengembang, Anda harus memberi mereka yang terbaik,” kata Atkins.

Yang lebih mengesankan, Majikan, Arcee berhasil melatih semua model Trinity (termasuk versi Mini 26B dan Nano 6B) hanya dalam enam bulan dengan biaya 20 juta dolar (sekitar 320 miliar rupiah). Bayangkan saja, startup mungil ini menghabiskan 20 juta dolar (sekitar 320 miliar rupiah, dengan kurs 16 ribu) hanya dalam enam bulan, menggunakan 2.048 GPU Nvidia Blackwell B300. Ini membuktikan, dengan akal yang tepat, modal besar bisa menghasilkan inovasi luar biasa, bahkan di tengah hiruk pikuk pembangunan infrastruktur AI terbesar sepanjang sejarah.

Awalnya, Arcee hanya berfokus pada kustomisasi model AI untuk klien perusahaan besar. Namun, ketergantungan pada model pihak ketiga dan kekhawatiran akan asal-usul model dari luar AS, membuat CEO Mark McQuade berani mengambil langkah ekstrem. “Ada kurang dari 20 perusahaan di dunia yang pernah melatih dan merilis model mereka sendiri pada ukuran dan level yang kami targetkan,” ujarnya. Keputusan ini jelas menohok Meta yang tahun lalu sempat mengindikasikan bahwa mereka mungkin tidak akan selalu membuka semua model AI tercanggihnya. Arcee ingin memastikan ada alternatif yang benar-benar independen dan bisa dipercaya. Arcee ada karena AS butuh alternatif model mutakhir yang berlisensi Apache dan benar-benar terbuka.

Arcee menawarkan model Trinity dalam tiga rasa: Trinity Large Preview (model instruksi yang sedikit dilatih), Trinity Large Base (model dasar tanpa pelatihan pasca), dan TrueBase (model tanpa data instruksi atau pelatihan pasca sama sekali, cocok untuk kustomisasi total). Semua bisa diunduh gratis. Nantinya, Arcee juga akan menawarkan versi hosting dengan harga API yang kompetitif.

Nah, kalau robot saja bisa “diajak piknik” dan jadi lebih akrab dengan para pengembang, Majikan juga harus lebih mahir mengendalikan teknologi. Jangan sampai kamu cuma jadi penonton saat para robot sibuk ‘perang’ di pasar. Kuasai AI Master agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Atau, kalau kamu ingin menciptakan konten visual yang tidak kalah canggih dari model-model terbaru, coba intip Belajar AI | Visual AI.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Intinya, di tengah dominasi raksasa, selalu ada ruang bagi para ‘Majikan’ dengan akal sehat dan keberanian untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik, lebih terbuka, dan benar-benar berguna. Karena pada akhirnya, sehebat apapun AI-mu, ia hanyalah tumpukan kode mati tanpa sentuhan akal manusia.

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”

Gambar oleh: Arcee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *