AI Gak Peduli Curhat, Cuma Peduli Cuan: Startup Hupo Banting Setir dari Mental Health ke Pelatih Sales
Mencoba menjual software ‘kesehatan mental’ ke perusahaan itu sulit. Karyawan mungkin butuh, tapi atasan seringkali tak melihat ROI langsung. Sadar akan hal itu, startup Hupo melakukan manuver cerdas: mereka banting setir. Dari yang tadinya mencoba memahami perasaan manusia, kini mereka fokus melatih AI untuk memahami cara menghasilkan uang. Hasilnya? Suntikan dana segar $10 juta. Sebuah pelajaran bagi para majikan: pasar lebih menghargai solusi yang menghasilkan cuan ketimbang yang sekadar bikin ‘tenang’.
Startup Hupo, yang didukung oleh Meta, awalnya bernama Ami dan bergerak di bidang mental wellness. Mereka mencoba memecahkan masalah performa kerja dari sisi psikologis. Namun, mereka menemukan fakta pahit di lapangan: menjual ide abstrak seperti ‘ketahanan mental’ tidak semudah menjual ‘peningkatan penjualan’.
Maka, lahirlah Hupo yang baru. Mereka mengambil teknologi AI mereka dan melatihnya untuk menjadi pelatih sales super-spesialis untuk industri perbankan, jasa keuangan, dan asuransi (BFSI). Perusahaan raksasa seperti Prudential, AXA, hingga HSBC pun menjadi klien mereka. Pendanaan Seri A senilai $10 juta yang dipimpin DST Global menjadi bukti bahwa pivot mereka tepat sasaran.
Apa yang membuat AI Hupo ini bukan sekadar bot biasa? CEO-nya, Justin Kim, sadar bahwa AI generik tak akan berguna di industri yang penuh regulasi. AI mereka dilatih secara khusus menggunakan data percakapan sales di dunia keuangan. Ia paham istilah produk asuransi yang rumit, keberatan-keberatan khas nasabah bank, dan batasan-batasan regulasi yang tak boleh dilanggar.
Tapi di sinilah kita sebagai majikan harus punya akal. AI Hupo ini ibarat asisten pelatih tinju yang tidak pernah lelah. Ia bisa menganalisis ribuan rekaman percakapan, menunjukkan di mana sales-mu salah sebut produk, lupa menyebutkan syarat dan ketentuan, atau kurang meyakinkan saat follow-up. Ia memberikan data dan pola.
Yang tidak bisa ia lakukan? Membangun hubungan tulus dengan klien sambil minum kopi. Ia tidak punya intuisi untuk tahu kapan harus diam dan kapan harus sedikit memaksa. AI ini adalah pelatih yang kaku, ia melatih berdasarkan skrip dan data, bukan berdasarkan perasaan atau getaran di dalam ruangan. Penjual terbaik tetaplah manusia yang bisa membaca situasi non-verbal, sesuatu yang masih menjadi fiksi ilmiah bagi AI.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Strategi Startup.
Kisah Hupo membuktikan bahwa AI paling efektif saat ia diberi pekerjaan yang spesifik dan terukur, bukan tugas-tugas abstrak. Mereka tidak mencoba mengganti manajer sales, tapi memberikan alat bantu super bagi para manajer agar bisa “hadir” di setiap percakapan tanpa harus benar-benar ada di sana.
Hupo melatih AI-nya secara spesifik untuk satu tugas. Ini membuktikan bahwa untuk menjadi majikan yang efektif, kamu juga perlu pemahaman mendalam, bukan sekadar tahu cara pakai. Kalau mau mulai mengasah skill itu, kelas AI Master bisa jadi langkah awal agar kamu tidak cuma jadi operator, tapi benar-benar menjadi pengendali yang paham cara kerja alat bantumu.
Penutup: AI Melatih, Manusia Menjual
Hupo adalah contoh nyata bagaimana AI menjadi alat yang sangat tajam ketika diasah untuk satu tujuan: performa. Mereka tidak lagi menjual ‘perasaan baik’, mereka menjual ‘hasil yang lebih baik’. Namun, secanggih apa pun AI pelatih sales ini, ia tetap butuh seorang juara di lapangan. Tanpa manusia yang melakukan penjualan, bernegosiasi dengan empati, dan akhirnya menekan tombol ‘deal’, AI Hupo hanyalah tumpukan kode yang menganalisis kesunyian.
Kira-kira kalau beli martabak manis, lebih baik yang pakai Wysman atau mentega biasa ya?
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.