Snowflake Kawin Kontrak dengan OpenAI & Anthropic: Bukti Nyata AI Itu Bukan Monogami, Majikan! (Dan Kamu Perlu Tahu Kenapa)
Para Majikan AI, dengar sini baik-baik! Fenomena ‘kawin kontrak’ antara raksasa data Snowflake dengan dua punggawa AI, OpenAI dan Anthropic, bukan sekadar drama korporat. Ini adalah sinyal jelas bahwa di dunia kecerdasan buatan, kesetiaan itu opsional, dan akal sehat Majikan lah yang jadi penentu arah. Lalu, apa artinya ini bagi Anda yang ingin menguasai AI, bukan malah dikuasai?
Bayangkan Anda punya asisten rumah tangga yang rajin, tapi punya ‘kepribadian’ berbeda. Satu jago masak rendang, yang lain ahli bikin sushi. Nah, begitulah kira-kira skenario yang sedang terjadi di ranah AI enterprise. Snowflake, perusahaan data cloud raksasa, baru saja mengikat perjanjian multi-tahun senilai 200 juta dolar dengan OpenAI. Kesepakatan ini memungkinkan 12.600 pelanggan Snowflake mengakses model-model OpenAI, bahkan karyawan mereka bisa pakai ChatGPT Enterprise. Kedengarannya fantastis, kan? Tapi tunggu dulu, beberapa bulan sebelumnya, Snowflake juga teken cek 200 juta dolar untuk Anthropic, pesaing berat OpenAI. Ini bukan kebetulan, Majikan. Bahkan ServiceNow, platform otomasi workflow, melakukan hal serupa: mengamankan kemitraan dengan OpenAI dan Anthropic. Kenapa perusahaan-perusahaan kakap ini main dua kaki? Sederhana: karena AI, secerdas-cerdasnya, masih punya keterbatasan dan kekuatan yang berbeda-beda. Model bahasa besar (LLM) dari OpenAI mungkin unggul di satu sisi, sementara Anthropic dengan Claude-nya lebih mumpuni di sisi lain. Ibaratnya, tidak ada satu asisten AI yang sempurna untuk semua pekerjaan. Mereka masih perlu ‘disuruh’ dan ‘diawasi’ oleh akal Majikan yang tahu persis apa yang dibutuhkan. Suramnya lagi, survei tentang siapa yang memimpin pasar AI enterprise ini masih saling bertolak belakang. Menlo Ventures bilang Anthropic unggul, tapi laporan Andreessen Horowitz (yang kebetulan investor OpenAI) tentu saja menunjuk OpenAI sebagai juaranya. Ini menunjukkan betapa dinamis dan sulit diprediksinya pasar AI ini. Jadi, jangan telan mentah-mentah janji manis robot atau laporan yang punya ‘agenda’ tersembunyi. Kemampuan AI untuk memahami nuansa dan adaptasi kontekstual masih jauh dari sempurna. Mereka butuh Majikan yang cerdas dalam memberi instruksi dan menyaring hasil. Jika tidak, Anda akan berakhir dengan asisten yang rajin, tapi sering ‘halusinasi’ atau memberikan jawaban yang kurang piknik.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Sebagai Majikan AI, Anda tidak bisa hanya bergantung pada satu robot. Anda harus bisa mengendalikan berbagai jenis AI, memaksimalkan kekuatan masing-masing, dan menutupi kekurangannya dengan akal sehat Anda. Jika Anda ingin menjadi ahli strategi di era ‘kawin kontrak’ AI ini dan memastikan Anda tetap menjadi penguasa, bukan babu teknologi, maka ‘AI Master’ adalah panduan wajib. Di sana, Anda akan belajar cara memadukan berbagai AI agar bekerja sesuai keinginan Anda, bukan sebaliknya. Atau, jika Anda ingin agar tim Anda tidak salah langkah dalam mengintegrasikan AI di perusahaan, membekali diri dengan ‘Creative AI Marketing’ akan sangat membantu untuk strategi yang ‘nggak robot banget’.
Pada akhirnya, drama perebutan pasar AI enterprise ini hanya menggarisbawahi satu kebenaran mutlak: AI hanyalah alat. Secanggih apapun modelnya, semahal apapun perjanjiannya, tanpa akal Majikan yang punya visi dan misi, robot-robot ini hanyalah tumpukan kode mati yang menunggu perintah. Mereka bisa bekerja 24/7, tapi tidak bisa berpikir di luar kotak atau membuat keputusan strategis yang kompleks tanpa sentuhan manusia.
Ngomong-ngomong, sudahkah Anda mencabut cas laptop? Nanti ketiduran, daya terkuras, malah lupa kerjaan besok.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Thomas Fuller/SOPA Images/LightRocket via Getty Images