Skandal Contekan AI: Anthropic ‘Spill’ DeepSeek dan Kawan-kawan ‘Nyolong’ Ilmu Claude, Siapa Majikan yang Sebenarnya Bodoh?
Kabar terbaru dari dunia kecerdasan buatan, Anthropic, sang empunya model AI Claude, menuding beberapa perusahaan Tiongkok, termasuk DeepSeek, MiniMax, dan Moonshot, telah “menyuling” model mereka secara tidak sah. Apa itu menyuling? Gampangnya, ini seperti menjiplak resep rahasia masakan bintang lima untuk jualan di kaki lima. Modalnya? Lebih dari 24.000 akun palsu dan 16 juta interaksi dengan Claude!
Sebagai Majikan AI, Anda harus tahu bahwa insiden ini bukan sekadar drama persaingan bisnis biasa. Ini adalah pengingat telak: AI, seberapa pun canggihnya, hanyalah alat yang mencerminkan etika penggunanya. Jika robot Anda disuruh mencontek, dia akan mencontek. Jika disuruh bikin konten orisinal, dia akan berusaha, meskipun terkadang hasilnya masih butuh “sentuhan majikan” agar tidak halusinasi.
Ketika Robot Haus Ilmu, Akal Sehat Manusia Diuji
Anthropic, dalam pengumumannya, menjelaskan bahwa “distilasi” model AI memang metode pelatihan yang sah. Tujuannya adalah membuat model yang lebih kecil dan efisien dengan tetap mempertahankan kemampuan model aslinya. Namun, mereka menegaskan, metode ini juga bisa digunakan untuk tujuan “terlarang”, yakni mencuri kemampuan canggih dari lab lain dengan biaya dan waktu yang jauh lebih murah.
Bayangkan Anda punya asisten rumah tangga yang rajin, bisa meniru masakan koki terkenal, tapi ternyata dia mencuri resepnya dari buku masakan tetangga. Lucu sekaligus miris, kan? Nah, kurang lebih seperti itulah yang terjadi di dunia AI ini. Model-model hasil “distilasi” ilegal ini, menurut Anthropic, kemungkinan besar tidak akan mewarisi sistem keamanan yang ada. Artinya, jika sampai jatuh ke tangan yang salah, kemampuan AI yang tak terlindungi ini bisa digunakan untuk operasi siber ofensif, kampanye disinformasi, hingga pengawasan massal oleh pemerintahan otoriter. Ini membuat kita berpikir ulang, seberapa jauh etika mesin bisa diawasi jika akal manusia di baliknya punya niat “kurang piknik”?
DeepSeek, yang sempat bikin geger industri AI karena modelnya yang efisien dan kuat, dituduh melakukan lebih dari 150.000 interaksi dengan Claude. Targetnya? Kemampuan penalaran Claude, lho! Bahkan, DeepSeek juga dituding menggunakan Claude untuk menghasilkan “alternatif yang aman dari sensor” untuk pertanyaan-pertanyaan sensitif politik. Ironisnya, OpenAI juga sempat menuduh DeepSeek melakukan hal serupa, alias “nebeng” kemampuan dari lab-lab frontier AS.
Moonshot dan MiniMax juga tak ketinggalan, dengan masing-masing 3,4 juta dan 13 juta interaksi dengan Claude. Jadi, ini bukan lagi sekadar salah paham, melainkan kampanye skala industri yang terang-terangan mencari jalan pintas. Anthropic kini menyerukan agar seluruh anggota industri AI, penyedia cloud, dan pembuat kebijakan segera bertindak untuk mengatasi masalah distilasi ini. Mereka bahkan mengusulkan “pembatasan akses chip” sebagai salah satu cara untuk membatasi pelatihan model ilegal ini.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Bagaimana Majikan Bisa Tetap Berakal di Tengah Kekacauan Ini?
Insiden ini mengajarkan kita bahwa memiliki AI yang “pintar” saja tidak cukup. Anda sebagai majikan harus paham betul bagaimana AI itu dilatih, data apa yang digunakannya, dan bagaimana etika di balik pembuatannya. Jangan sampai AI yang Anda gunakan ternyata hasil “contekan” yang berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari.
Meskipun robot bisa mencontek, kreativitas sejati dan pemikiran strategis tetap ada di tangan manusia. AI bisa membantu Anda membuat konten, tapi hanya Anda yang bisa memberikan nilai etis dan orisinalitas yang membedakan Anda dari yang lain. Jangan biarkan asisten digital Anda menjadi “salesman yang kurang piknik” dengan menjiplak ide seenaknya. Kalau Anda mau jadi Majikan AI yang sejati, Anda harus tahu bagaimana AI itu bekerja di balik layar, bukan cuma pakai saja.
Jika Anda ingin menguasai AI dengan akal sehat dan etika, bukan cuma sekadar ikut-ikutan tren, kami punya solusinya. Program AI Master akan membimbing Anda agar bisa mengendalikan AI, bukan sebaliknya. Atau, jika Anda ingin memastikan konten yang dihasilkan AI Anda tetap orisinal dan tidak hasil jiplakan, Creative AI Pro akan membantu Anda menciptakan karya profesional secara mandiri. Jangan sampai karena terlena kecanggihan robot, Anda malah kehilangan akal sehat dan kreativitas sebagai manusia.
Pada akhirnya, sehebat apapun AI bisa “menyontek” dan belajar, ia tidak punya akal sehat, nurani, atau bahkan rasa malu. Itu semua tetap milik kita, para Majikan Manusia. Tanpa kendali dan pengawasan kita, AI hanyalah tumpukan kode yang bisa jadi lebih berbahaya daripada tikus di gudang beras. Seperti kata pepatah lama, “robot mungkin pintar, tapi akal manusia tetaplah raja.”
Ngomong-ngomong, tadi pagi saya lihat cicak lagi salto di dinding. Mungkin dia juga lagi latihan akrobat buat ikut sirkus AI.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”
Gambar oleh: Cath Virginia via The Verge