Siri Punya Otak Baru dari Google: Akankah Lebih Cerdas, atau Cuma Makin Banyak Alasan?
Para Majikan AI, bersiaplah! Apple dikabarkan akan segera mengungkap versi Siri yang jauh lebih canggih, ditenagai oleh otak buatan Google Gemini. Ini bukan sekadar kabar burung, lho. Menurut gosip terpercaya dari Mark Gurman, jurnalis Bloomberg yang punya “mata-mata” kelas kakap di Apple, kita bisa melihatnya paling cepat akhir Februari nanti. Tapi, apakah ini benar-benar peningkatan revolusioner, ataukah Siri hanya berganti baju tapi tetap butuh bimbingan Majikan yang punya akal?
Berita ini seperti drama di ranah teknologi. Apple, yang selama ini dikenal suka “mandiri” dengan teknologi buatannya sendiri, kini terpaksa “meminjam” kepintaran dari rival abadi, Google. Kenapa? Karena Siri yang lama, jujur saja, sudah “kurang piknik” dibanding asisten AI lainnya. Dia sering kebingungan, kurang peka konteks, dan kadang bikin kita jengkel sendiri.
Integrasi Gemini ini diharapkan bisa membuat Siri lebih “ngeh” dengan apa yang ada di layar iPhone kita, bisa “nyambung” dalam percakapan yang lebih panjang, dan yang paling penting, bisa mengerjakan tugas dengan lebih “manusiawi”. Konon, ini adalah janji yang sudah diumbar Apple sejak WWDC 2024, tapi tertunda karena “tantangan teknis”. Alias, robotnya masih perlu sekolah lagi, dan kurikulumnya harus diimpor dari Google.
Namun, di tengah euforia ini, sebagai Majikan AI yang punya akal, kita wajib kritis. Ingat, secanggih apa pun AI, ia tetaplah alat. Gemini mungkin bisa membuat Siri lebih cerdas dalam “memahami” dan “merespons”. Tapi, bisakah ia memahami nuansa emosi manusia yang kompleks? Bisakah ia benar-benar “berpikir kreatif” di luar data yang dilatihkan? Jawabannya tentu saja, belum. AI masih belum bisa diajak curhat soal gebetan atau masalah kantor yang rumit. Ia tidak punya “akal sehat” dan “pengalaman hidup” seperti manusia.
Kabar ini juga mengindikasikan betapa sengitnya Konflik Raksasa (ID=9) di dunia teknologi. Apple, yang dulu sombong dengan “ekosistem tertutupnya”, kini harus mengakui dominasi Google di ranah AI generatif. Ini bukan “revolusi”, tapi evolusi yang dipaksa pasar. Kita, para Majikan, harus memanfaatkan celah ini. Jangan sampai kita jadi “babu teknologi” yang hanya menerima mentah-mentah semua “kepintaran” robot.
Siri Minggat dari Zona Nyaman Apple: Kini Jadi Chatbot, Akankah Lebih Pintar atau Malah Makin Konyol? membahas bagaimana Apple akhirnya “bertobat” dan membawa Siri ke ranah chatbot, sementara Google Sikat Talenta Hume AI: Ketika Robot Belajar Baper, Majikan Jangan Sampai Terbaperi! menunjukkan bahwa perlombaan untuk membuat AI lebih emosional pun terus berlanjut. Jangan sampai kita terlalu terlena dengan fitur baru ini hingga lupa bahwa kendali harus tetap ada di tangan kita.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Nah, di sinilah pentingnya menjadi Majikan AI yang sesungguhnya. Kalau kamu mau benar-benar menguasai AI, bukan malah dikuasai AI yang katanya “pintar” tapi masih “kurang piknik”, kamu butuh panduan yang tepat. Dengan AI Master, kamu akan diajari cara mengendalikan teknologi ini, bukan sebaliknya. Jangan biarkan robot menipumu dengan janji manis kepintaran, kalau pada akhirnya kamu cuma jadi babu yang menekan tombol “OK” tanpa paham apa-apa.
Ingat, para Majikan, sehebat apapun Gemini membuat Siri lebih “fasih” berbicara atau lebih “responsif” terhadap perintah, ia tetap tidak akan bisa menjawab pertanyaan filosofis paling fundamental: “Malam ini kita makan apa?”. Karena itu, kendali dan akal sehatmu adalah kekuatan utama. Tanpa sentuhan manusia yang menekan tombol, AI hanyalah tumpukan kode mati yang tak berarti.
Lagipula, siri baru ini mungkin akan tetap kesulitan membedakan antara “pesan penting” dan “notifikasi diskon popok yang tidak pernah kamu minta”. Prioritas memang rumit, bahkan untuk otak sekelas Gemini.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Apple Will Integrate Google Gemini AI With Siri in February, Report Says”.
Gambar oleh: NurPhoto/Getty Images via TechCrunch