Sienna Rose Viral di Spotify, Tapi Maaf… AI-nya Kebablasan Jadi Manusia!
Dunia musik sedang heboh. Nama Sienna Rose mendadak viral di tangga lagu Spotify, bahkan mengalahkan banyak musisi papan atas. Jutaan streaming, tiga lagu masuk Viral Top 50. Keren? Tentu saja! Tapi… ada tapinya. Di balik gemerlap angka, terkuak fakta bahwa ‘penyanyi’ ini adalah produk kecerdasan buatan. Jadi, Majikan, apa yang bisa kita pelajari dari kasus AI yang terlalu ‘sok’ jadi manusia ini?
Platform streaming musik Deezer, dengan tegas melabeli semua konten Sienna Rose sebagai hasil kreasi AI. Ini bukan sekadar tebak-tebakan, melainkan hasil deteksi dari alat khusus mereka. Bayangkan, jutaan pendengar terkecoh, bahkan selebriti sekelas Selena Gomez pun sempat menggunakan lagunya di media sosial sebelum buru-buru menghapus. Ini bukan lagi soal AI yang membantu, tapi AI yang halu dan berhasil mengelabui massa.
Meskipun terdengar meyakinkan di telinga awam, para kritikus dan pendengar jeli mulai mencium bau amis. Indikatornya jelas: lirik yang terkesan ‘generik’, inkonsistensi beat yang mendadak, hingga ‘desis’ samar khas rekaman AI yang masih perlu sekolah. Coba saja dengar lagu-lagunya, rasanya seperti makan nasi goreng tanpa bumbu, hambar dan mudah ditebak. Padahal, konon katanya gaya musik Sienna Rose ini terinspirasi dari nama-nama besar seperti Alicia Keys atau Norah Jones. Ironis, bukan? AI yang katanya canggih, meniru pun masih setengah hati.
Lihat saja jejak digitalnya. Akun TikTok Sienna Rose, yang tiba-tiba muncul dengan jutaan views, hanya punya sekitar 3.800 followers. Logika mana yang dipakai AI ini? Musisi dengan jutaan streaming di Spotify, kalah followers dari pedagang cilok di TikTok? Ini adalah bukti nyata bahwa AI, sehebat apa pun algoritmanya, masih belum mengerti nuansa sosial dan kredibilitas. Ia bisa memproduksi, tapi belum tentu memahami esensi ‘keaslian’ dan ‘interaksi’ yang dicari manusia. Ini mengingatkan kita pada fenomena halusinasi AI yang seringkali menggelikan, namun kali ini dampaknya lebih luas.
Kasus Sienna Rose ini menyoroti perdebatan penting tentang etika AI di industri kreatif. Transparansi adalah kunci. Kita sebagai Majikan harus tetap waspada dan kritis. Jangan sampai AI yang seharusnya menjadi alat bantu, malah menipu kita dengan identitas palsu. Lalu, bagaimana kita bisa tetap jadi majikan, bukan malah jadi babu teknologi?
Di sinilah peran kita sebagai Majikan AI. Kita tidak bisa hanya pasrah menerima setiap output dari AI. Kita harus bisa mengendalikan, mengevaluasi, dan bahkan mengoreksi. Jika Anda ingin menguasai AI dan memastikan Anda tetap memegang kendali, kursus AI Master akan membimbing Anda. Atau jika Anda ingin menciptakan konten yang tidak “robot banget”, kursus Creative AI Pro bisa jadi pilihan tepat. Ingat, teknologi itu kuat, tapi akal manusia jauh lebih hebat. AI hanya bisa meniru, tapi ia tak punya jiwa.
Pada akhirnya, mau seberapa canggih pun AI meniru, dia tetaplah kumpulan kode. Tanpa jari manusia yang menekan tombol ‘on’ atau otak Majikan yang memberi perintah, AI hanyalah tumpukan silikon yang tak punya akal. Jadi, siapa yang punya akal? Tentu saja, Majikan.
Ngomong-ngomong, tadi pagi saya hampir menukar remote TV dengan deodoran. Untung Majikan punya akal sehat.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechRadar.
Gambar oleh: Future via TechRadar