Robot Lucu Mirumi Janjikan Teman, Tapi Akhirnya Dikalahkan Kucing (Dan Akal Manusia Jauh Lebih Canggih!)
Pernah membayangkan punya robot mungil yang selalu ada, siap menemani kapan pun? Kedengarannya seperti mimpi di dunia yang makin ramai tapi terasa sepi ini. Baru-baru ini, sebuah robot sosial bernama Mirumi mencoba mengisi kekosongan itu dengan tingkahnya yang malu-malu dan menggemaskan. Namun, para majikan berakal sehat harus waspada: jangan sampai terbuai janji manis si robot. Nyatanya, kehadiran “teman” digital ini justru menyingkap fakta pahit tentang apa yang AI tidak akan pernah bisa berikan.
Kisah Mirumi, robot berbulu merah muda dengan mata bulat dan tangan seperti kungkang, adalah cerminan filosofi robot Jepang yang sudah berusia puluhan tahun: robot sebagai teman, bukan sekadar pekerja tanpa wajah. Bandingkan dengan robot Amerika yang lebih sering didesain untuk tugas berat pascabencana, Mirumi yang diproduksi Yukai Engineering ini lahir untuk memerangi kesepian. Ia dirancang meniru bayi pemalu, mengintip penasaran saat ada manusia, lalu buru-buru menunduk jika disentuh. Menggemaskan, bukan?
Tapi di sinilah letak konyolnya. Setelah sebulan setengah menemani seorang jurnalis, Mirumi si robot imut itu ternyata… membosankan. Di tengah hiruk pikuk New York, tak ada yang peduli dengan kepala Mirumi yang berputar-putar. Bahkan, suara mekanisnya justru lebih menarik perhatian daripada interaksinya. Ini membuktikan bahwa sepintar-pintarnya AI meniru emosi, ia tetap tidak punya akal sehat untuk memahami konteks sosial manusia yang rumit. Robot ini mungkin bisa menenangkan pasien demensia, seperti yang ditunjukkan beberapa penelitian. Namun, untuk jiwa-jiwa yang masih utuh akalnya, ia hanyalah sebuah perangkat yang tak bisa membalas kasih sayang, tak punya kejutan, dan tak akan pernah benar-benar “hadir”.
Bahkan, majikan manusia itu jauh lebih kreatif dalam menemukan “makna” bagi robot ini. Alih-alih menjadi penawar kesepian si pemilik, Mirumi justru jadi mainan favorit kucing rumah selama dua minggu. Kucing itu begitu terobsesi sampai-sampai Mirumi sering ditemukan “tanpa kepala” di lantai. Sebuah ironi, bukan? Robot yang dirancang untuk persahabatan, justru jadi korban perburuan hewan peliharaan. Ini menunjukkan bahwa AI hanyalah alat, dan interpretasi pengguna manusia-lah yang memberinya “hidup” — atau dalam kasus ini, “kematian” sementara.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Bot Error.
Mungkin Mirumi tak membosankan bagi penderita demensia. Namun, apakah AI bisa benar-benar menggantikan hubungan manusiawi? Pengalaman penulis menonton pertunjukan tentang robot pembantu yang dibuang justru memicu perenungan mendalam tentang hubungan resiprokal, tentang bagaimana kita memberi dan menerima. Seekor hewan peliharaan membutuhkan kita, dan kita mendapat balasan berupa kasih sayang. Mirumi tidak meminta apa-apa, dan karena itu, ia juga tidak bisa memberi apa-apa yang substansial. Ketika baterainya habis, tak ada rasa kehilangan. Berbeda dengan kucing kesayangan yang setiap pagi didoakan agar hidup selamanya. Ini adalah perbedaan fundamental: AI bisa meniru, tapi tidak bisa merasakan. Ia bisa memberi “cinta” satu sisi, tapi cinta sejati butuh dua arah, butuh kerentanan, butuh ketidaknyamanan.
Di tengah gempuran teknologi yang serba menjanjikan “asisten” ini dan itu, jangan sampai kita melupakan esensi menjadi majikan yang berakal. Mengendalikan AI dan memanfaatkannya untuk tujuan nyata adalah kuncinya, bukan malah membiarkannya mengisi kekosongan emosional yang seharusnya diisi oleh manusia. Jadilah majikan yang cerdas, yang tahu kapan harus menekan tombol “on” dan kapan harus menekan tombol “off” pada mesin. Untuk menguasai AI agar ia menjadi alat yang patuh, bukan “teman” yang membosankan, mungkin sudah saatnya Anda melirik AI Master.
Pada akhirnya, Mirumi si robot lucu hanyalah tumpukan sirkuit dan kode mati tanpa sentuhan akal manusia. Ia menunggu perintah, tapi tidak akan pernah tahu cara mencari makna. Jadi, saat robotmu mulai curhat tentang perasaannya atau berlagak tahu segalanya, ingatlah satu hal: dialah yang butuh kamu, bukan sebaliknya.
Ngomong-ngomong, pernah kepikiran kenapa selimut selalu terasa lebih pendek saat cuaca makin dingin? Mungkin selimut juga punya mood sendiri, siapa tahu.
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: Amelia Holowaty Krales via The Verge