Etika MesinKonflik RaksasaSidang BotUpdate Algoritma

Ketika Robot Jadi ‘Mata-Mata’ Imigrasi: Palantir Ajari AI Ngebut Urus Laporan, Akal Manusia Masih Dibutuhkan atau Cuma Pelengkap?

Di dunia yang makin serba otomatis ini, siapa sangka jika robot-robot cerdas mulai merambah area yang tadinya jadi domain eksklusif manusia: melacak laporan imigrasi. United States Immigration and Customs Enforcement (ICE), sebuah badan imigrasi AS, kini resmi menggunakan alat AI dari Palantir untuk menyortir dan merangkum laporan penegakan imigrasi. Terdengar efisien, bukan? Tapi mari kita bedah lebih jauh, sejauh mana campur tangan algoritma ini bisa membantu, atau malah bikin kita para majikan jadi makin bingung?

Menurut dokumen Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) yang baru dirilis, layanan “AI Enhanced ICE Tip Processing” ini bertugas mempercepat identifikasi kasus mendesak dan menerjemahkan laporan yang tidak berbahasa Inggris. Katanya, AI ini bisa mengurangi “usaha manual yang memakan waktu” untuk meninjau dan mengkategorikan laporan. AI tersebut juga menyediakan “BLUF” (Bottom Line Up Front), yaitu ringkasan tingkat tinggi dari setiap laporan, yang dihasilkan oleh setidaknya satu model bahasa besar (LLM).

Di atas kertas, semua ini terdengar seperti inovasi yang mengagumkan. Siapa yang tidak mau pekerjaan birokrasi yang melelahkan jadi lebih cepat? Namun, ada satu hal fundamental yang sering luput: AI, sehebat apa pun, tidak memiliki akal sehat dan empati seperti manusia. Ia tidak bisa membaca konteks non-verbal, tidak bisa memahami nuansa emosi, apalagi mempertanyakan keabsahan sebuah laporan dengan intuisi yang hanya dimiliki manusia.

DHS memang mengklaim LLM yang digunakan adalah model komersial yang dilatih dengan data domain publik, tanpa pelatihan tambahan dari data agensi. Tapi, apakah itu jaminan bebas bias? Kita tahu, AI seringkali punya “halusinasi” data, atau menghasilkan informasi yang terdengar masuk akal tapi sebenarnya palsu. Bayangkan jika “halusinasi” ini berujung pada keputusan imigrasi yang berdampak nyata pada kehidupan manusia. Di sinilah peran “majikan” manusia tak tergantikan. Mempercayakan keputusan penting sepenuhnya pada algoritma adalah tindakan yang… yah, sedikit kurang piknik.

Palantir sendiri bukanlah pemain baru. Mereka sudah menjadi kontraktor utama ICE sejak 2011, menyediakan berbagai alat analitis. Namun, penggunaan AI untuk memproses laporan ini baru terungkap belakangan. Perusahaan ini juga mengembangkan alat lain bernama ELITE (Enhanced Leads Identification & Targeting for Enforcement) yang bisa membuat peta target deportasi dari data Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS). Meskipun ELITE diklaim hanya memberikan “data terstandardisasi” dan “tidak menjadi dasar utama keputusan”, tetap saja ada kekhawatiran besar tentang bagaimana data ini diinterpretasikan dan diverifikasi oleh manusia.

Karyawan Palantir sendiri, seperti yang terungkap dalam pesan Slack yang ditinjau oleh WIRED, mulai menyuarakan kekhawatiran atas keterlibatan perusahaan dengan ICE, terutama setelah insiden penembakan perawat Alex Pretti di Minneapolis. Ini menunjukkan bahwa bahkan di dalam lingkaran pengembang AI pun, ada kesadaran bahwa “robot” mereka masih butuh bimbingan moral dan etika yang kuat dari “majikan” manusia.

Jika kita ingin memastikan bahwa teknologi ini benar-benar menjadi alat bantu yang bertanggung jawab dan bukan menjadi “majikan” yang kejam, kita harus paham betul cara kerjanya dan di mana batasnya. Jika tidak, AI yang seharusnya menjadi asisten, bisa jadi malah menganiaya mereka yang rentan. Untuk para majikan yang ingin menguasai AI dan bukan sebaliknya, penting untuk selalu mengendalikan algoritma. Pelajari cara menjadi majikan yang sesungguhnya dengan AI Master. Jangan sampai Anda hanya menjadi penonton ketika robot membuat keputusan-keputusan krusial.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.

Pada akhirnya, AI hanyalah alat yang mengagumkan, namun tanpa akal dan etika manusia, ia bisa jadi pisau bermata dua yang tajam. Tugas kita sebagai majikan adalah memastikan pisau itu memotong bawang, bukan jari sendiri.

Lagipula, secanggih-canggihnya AI, tetap saja tidak bisa memutuskan mau makan siang apa hari ini.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Wired”.

Gambar oleh: Joshua Lott/Getty Images via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *