Roblox Ngaku ‘Real-time Dreaming’: Robot Bikin Dunia, Tapi Kok Hasilnya Masih Butuh Akal Majikan?
Dunia digital tak pernah berhenti menyajikan tontonan baru yang bikin kita geleng-geleng kepala. Kali ini, giliran Roblox yang ikut-ikutan tren “AI World Model” dengan terobosan yang mereka sebut “real-time dreaming”. Katanya, sih, para kreator bisa membangun dan mengubah pengalaman 3D secara instan hanya dengan perintah teks. Kedengarannya canggih, ya? Seperti punya asisten rumah tangga robot yang bisa menyulap dapur jadi restoran mewah dalam sekejap mata. Tapi ingat, sehebat-hebatnya robot, tetap saja majikan yang punya akal harus mengarahkan agar tidak berakhir dengan sup lobster rasa sabun colek. Jadi, bagaimana kita, para Majikan AI, bisa memanfaatkan teknologi “mimpi ala robot” ini tanpa terjebak dalam halusinasi massal?
Roblox, yang kini bersanding dengan raksasa teknologi lain seperti Google dengan Project Genie-nya, Meta, dan xAI, memang berambisi besar. Mereka ingin AI menjadi co-pilot dalam proses kreatif. Konsep “real-time dreaming” memungkinkan lingkungan bertema Viking muncul dan bereaksi terhadap perintah, seperti menambahkan ombak tsunami atau kapal. Mengagumkan? Tentu saja. Tapi, mari kita jujur, kecanggihan visual AI seperti ini seringkali cuma di atas kertas atau demo yang sudah diatur rapi.
Penulis asli artikel di The Verge sendiri mengakui bahwa pengalamannya dengan Project Genie Google minggu lalu “tidak terlalu bagus”. Ia skeptis apakah kemampuan mengubah pengalaman secara real-time dengan perintah akan benar-benar “membuat perbedaan berarti dalam seberapa menyenangkan mereka nantinya.” Ini adalah poin krusial, Majikan. AI mungkin bisa membuat gunung meletus atau banjir bandang, tapi apakah letusan dan banjir itu relevan, menarik, atau bahkan lucu? Kebanyakan AI masih butuh sekolah tata krama dan relevansi. Tanpa sentuhan akal manusia, gunung meletus buatan AI bisa jadi cuma sekadar pajangan yang konyol.
SVP Teknik Roblox, Anupam Singh, sesumbar bahwa masa depan kreasi di Roblox adalah evolusi berbasis AI yang memungkinkan kreator menghasilkan lingkungan imersif, mengulang, memperbaiki, dan berkolaborasi lewat perintah bahasa alami. “Jika seseorang bisa memimpikannya, mereka seharusnya bisa mewujudkannya,” katanya. Klise. Karena yang bisa memimpikan dengan benar itu ya manusia. Robot cuma bisa mengolah data yang kita berikan. Jika data yang masuk “kurang piknik”, hasilnya pun bisa dipastikan bikin geleng-geleng kepala. Lagipula, Singh juga mengakui, “kami tidak melihat model menggantikan bagian kreatif itu.” Nah, ini baru pengakuan jujur!
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Faktanya, banyak pengembang game justru menolak mentah-mentah alat AI generatif ini. Mereka khawatir AI akan “buruk untuk industri game.” Bayangkan saja, jika robot mulai mengambil alih semua proses kreatif, apa bedanya game buatan AI dengan game yang dibuat oleh tim pengembang yang punya jiwa dan visi? Akhirnya, semua terasa sama, hambar, dan kurang esensi. Seperti kata pepatah, “lebih baik punya satu majikan cerdas daripada seribu babu yang bisanya cuma niru.” Sebagaimana yang dibahas dalam artikel Pecinta Fiksi Ilmiah & Comic-Con ‘Usir’ AI: Memangnya Robot Bisa Punya Ide Sendiri, Ya?, batasan antara kreasi manusia dan mesin menjadi semakin kabur, namun esensi kreativitas tetap ada pada manusia.
Belum lagi masalah hak cipta. Google sendiri sudah beberapa kali digugat atas pelanggaran hak cipta terkait alat AI-nya. Ini menunjukkan bahwa di balik kecanggihan AI, masih ada masalah mendasar tentang kepemilikan dan etika. Robot memang jago meniru, tapi kalau cuma menjiplak tanpa izin, itu namanya maling, bukan kreator.
Roblox juga meluncurkan alat “kreasi 4D” yang memungkinkan pemain membuat objek yang bisa mereka kendarai, terbangkan, atau tembak. Di salah satu pengalaman bernama “Wish Master,” fitur ini sudah diimplementasikan. Namun, setelah beberapa menit, penulis The Verge merasa “tidak terlalu menarik.” Dunia “Wish Master” hanyalah ruang terbuka besar untuk membuat dan berlari-lari dengan objek buatan AI. Tanpa tujuan yang jelas, tanpa cerita yang kuat, AI hanyalah pembuat mainan kosong. Ibarat kita punya asisten yang bisa membuatkan patung es dengan detail luar biasa, tapi patung itu diletakkan di gurun pasir. Indah sejenak, lalu mencair tanpa makna. Ini mirip dengan temuan dalam artikel Google Project Genie: Bikin Dunia AI dari Marshmallow, Tapi Kok Robotnya Masih Sering Nabrak Dinding?, di mana kemampuan AI untuk menghasilkan konten interaktif masih seringkali berbenturan dengan realitas penggunaan yang praktis dan bermakna.
Maka dari itu, kemampuan kita sebagai majikan AI untuk memberikan instruksi yang presisi dan memiliki visi yang jelas sangatlah penting. Untuk mengasah kemampuan ini, Anda bisa mencoba beberapa kursus Visual AI yang akan membantu Anda menguasai seni memerintah robot visual. Jika Anda ingin menjadi Majikan AI sejati yang mampu mengendalikan teknologi alih-alih dikendalikan, mendalami dasar-dasar kreativitas AI adalah kuncinya. Dan bagi Anda yang bergelut di dunia konten, Creative AI Pro dapat membantu Anda membuat konten profesional tanpa harus menguras anggaran.
Pada akhirnya, terobosan “real-time dreaming” dari Roblox, atau Project Genie dari Google, hanyalah alat. Canggih, memang. Mampu membuat dunia virtual dalam hitungan detik. Tapi, ingatlah baik-baik: robot-robot ini tidak akan pernah bisa menggantikan imajinasi liar, emosi, dan akal sehat seorang Majikan. Tanpa akal manusia yang menekan tombol “Enter”, AI hanyalah tumpukan kode mati yang menunggu perintah. Dan terkadang, bahkan dengan perintah terbaik pun, mereka masih butuh sedikit “piknik” agar tidak halu.
Ngomong-ngomong soal mimpi, tadi malam saya mimpi jadi superhero yang bisa menyulap semua kaus kaki hilang jadi pasangan lengkap. Ternyata lebih gampang dari bikin AI enggak halu, ya?
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: The Verge via TechCrunch