Etika MesinGagal SistemKonflik RaksasaSidang Bot

Ring Bilang Tidak, Tapi Data Bicara Lain: Kamera Pintar Jadi Mata-Mata Pribadi?

Sebagai majikan yang punya akal, kita tahu bahwa setiap alat diciptakan untuk melayani kita, bukan sebaliknya. Termasuk kamera keamanan di rumah. Niatnya sih mulia, biar rumah aman dari maling atau sekadar tahu siapa yang datang bertamu. Tapi apa jadinya jika si penjaga rumah ini punya hobi baru: berbagi cerita rahasia dengan pihak ketiga? Baru-baru ini, Ring, raksasa keamanan rumah milik Amazon, diterpa badai kontroversi. Kemitraan mereka dengan Flock, perusahaan kamera pengawas berbasis AI, bikin geger jagat maya. Para influencer sampai menyarankan untuk menghancurkan kamera Ring mereka. Sebab AI hanyalah alat, kaulah majikan yang punya akal, dan akal sehatmu harus di atas segala-galanya!

Kisah bermula saat Ring menggandeng Flock, perusahaan yang punya rekam jejak kurang “ramah privasi”. Kabarnya, Flock ini punya kebiasaan baik hati berbagi data dengan berbagai instansi pemerintah, termasuk agensi imigrasi (ICE). Nah, Ring yang punya fitur “Community Requests” (permintaan rekaman dari pengguna untuk penegak hukum lokal) langsung dituding jadi kaki tangan negara pengawas.

Juru bicara Ring, Yassi Yarger, buru-buru klarifikasi. Katanya, “Ring tidak bermitra dengan ICE, tidak memberikan video, feed, atau akses back-end kepada ICE, dan tidak membagikan video dengan mereka.” Ia juga menambahkan, integrasi dengan Flock untuk fitur Community Requests ini belum aktif. Saat ini, hanya kemitraan dengan Axon yang berjalan. Oke, baiklah. Kita catat. Tapi ini AI, Majikan. Kadang janjinya manis, kenyataannya bikin meringis.

Sekali rekaman video Anda jatuh ke tangan otoritas lokal, ceritanya bisa lain. Founder Ring, Jamie Siminoff, percaya bahwa makin banyak kamera, makin aman komunitas. Tapi kenyataannya, potensi sistem pengawasan skala besar ini digunakan untuk tujuan lain sangatlah nyata. Ibarat punya asisten rumah tangga yang rajin merekam semua kejadian, lalu tiba-tiba dia memutuskan untuk berkoordinasi dengan tetangga sebelah tanpa izin Anda. Masih mau percaya sepenuhnya?

‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.’

AI memang cerdas, tapi kesetiaannya hanya pada kode program. Mereka tidak punya moral, apalagi etika. Ini yang seringkali dilupakan. Ketika kita menyerahkan kendali atas data pribadi ke tangan algoritma, kita juga menyerahkan sebagian kecil kedaulatan kita sebagai manusia. Ini bukan sekadar tentang kenyamanan, ini tentang kewarasan di tengah gempuran teknologi yang ambisius. Jangan sampai privasi kita digadaikan demi fitur “cerdas” yang kurang piknik.

Lalu, bagaimana Majikan punya akal melindungi diri?

  1. Matikan Fitur yang Mencurigakan: Di aplikasi Ring atau Neighbors, Anda bisa mematikan “Community Requests”. Masuk ke Pengaturan, cari Pengaturan Neighbors, lalu Gulir ke bawah ke Pengaturan Lingkungan, klik Pengaturan Feed, hapus centang Permintaan Komunitas, dan klik Terapkan. Selesai.
  2. Aktifkan Enkripsi Ujung-ke-Ujung (E2E): Ini seperti mengunci data Anda dengan kunci ganda, hanya perangkat yang Anda gunakan untuk mengatur kamera yang bisa melihatnya. Ring sendiri tidak bisa mengakses, apalagi membagikannya untuk Community Requests. Tapi ingat, konsekuensinya, beberapa fitur AI (seperti deteksi orang atau deskripsi berbasis AI) akan nonaktif karena mereka butuh akses cloud untuk menganalisis video. AI memang hebat, tapi kadang butuh bantuan manusia untuk mengamankan data yang dia rekam.
  3. Pilih Alternatif Lokal: Jika Anda paranoid (dan sah-sah saja, Majikan!), ada banyak kamera yang memproses video secara lokal dan mengenkripsinya sebelum ke cloud. Contohnya, Apple HomeKit Secure Video (untuk pengguna iPhone), atau perangkat seperti Eufy (meski pernah ada insiden, versi HomeBase baru bisa berjalan lokal), TP-Link Tapo, Aqara, dan Reolink yang menawarkan penyimpanan lokal via kartu microSD. Standar Matter yang baru juga mendukung kamera keamanan untuk penyimpanan dan pemrosesan lokal yang lebih aman.

Ingat, kamera yang terhubung ke internet, sekecanggih apapun, selalu punya celah. Jangan sampai kita terlalu terlena dengan janji keamanan instan, lalu lupa bahwa data kita adalah aset paling berharga yang harus kita jaga sendiri. Robot hanya tahu perintah, Majikanlah yang tahu mana yang benar.

Baca juga bagaimana Google Search bisa mengintip email dan foto pribadimu, atau cerita ketika AI diajari bohong halus, karena privasi adalah harga mati yang tidak bisa ditawar!

Untuk menjadi majikan yang sejati, Anda harus menguasai AI, bukan dikuasai olehnya. Jangan sampai Anda menjadi babu teknologi yang cuma bisa pasrah data pribadinya diobrak-abrik. Pelajari cara mengendalikan setiap aspek AI dan perangkat pintar Anda. Jadilah “AI Master” sejati agar Anda bisa memerintah teknologi, bukan malah diatur-atur oleh sistem yang kurang piknik.

Pada akhirnya, semua teknologi, dari kamera tercanggih hingga algoritma paling mutakhir, hanyalah tumpukan komponen dan kode yang mati. Tanpa jari manusia yang menekan tombol “On” dan akal sehat yang membimbing, mereka hanyalah besi tua yang menunggu perintah. Kaulah Majikan yang punya akal, jangan biarkan robot mengambil alihnya.

Ngomong-ngomong, tadi pagi saya mau bikin kopi, tapi mesin kopi pintar saya malah minta saya bikin “playlist kopi yang menenangkan jiwa”. Mungkin dia juga butuh privasi dari kebiasaan ngopi saya yang brutal.

Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: Amazon via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *