Resolve AI Capai Status Unicorn: Robot Makin Sibuk Benerin Sistem, Majikan Manusia Malah Pesta Duit!
Kabar gembira bagi para pemegang saham (dan mungkin sedikit mengkhawatirkan bagi pekerja kantoran) datang dari dunia AI! Resolve AI, sebuah startup yang baru berumur jagung dua tahun, baru saja mengumumkan pendanaan Seri A sebesar $125 juta. Yang lebih mencengangkan, valuasi mereka kini mencapai $1 miliar, alias sudah sah menjadi “unicorn”. Intinya, robot mereka makin jago benerin sistem yang rusak, dan para majikan (investor) makin tebal dompetnya. Pertanyaannya, apakah kita sebagai majikan manusia akan semakin dimudahkan, atau malah jadi penonton saja saat robot-robot ini menguasai panggung?
Berita ini, yang dikonfirmasi oleh TechCrunch, jelas menunjukkan bahwa pasar untuk otomatisasi System Reliability Engineering (SRE) sedang panas-panasnya. SRE sendiri adalah pekerjaan “tukang servis” yang memastikan sistem komputer tetap berjalan mulus, alias troubleshooting kegagalan sistem. Selama ini, ini adalah domain manusia yang butuh ketelitian dan pengalaman setebal kamus. Tapi sekarang? AI datang, mencoba mengambil alih pekerjaan itu.
Ketika Robot Belajar Jadi “Tukang Servis” Kelas Kakap
Resolve AI, yang didirikan oleh dua veteran Splunk, Spiros Xanthos dan Mayank Agarwal, seolah ingin membuktikan bahwa AI bukan cuma jago bikin gambar lucu atau teks yang agak ngawur. Mereka serius ingin AI bisa “berpikir” dan memperbaiki masalah infrastruktur IT yang kompleks. Bayangkan, server yang ngadat, jaringan yang putus, atau aplikasi yang tiba-tiba mogok kerja. Dulu, tim SRE akan panik, begadang, dan minum kopi pahit semalaman. Sekarang? Resolusi AI menjanjikan otomatisasi. Tentu saja, ini seperti punya asisten rumah tangga yang rajin tapi kadang perlu dituntun, namun kali ini dia bisa memperbaiki pipa yang bocor sendiri.
Dana segar sebesar $125 juta ini, yang dipimpin oleh Lightspeed Venture Partners dan didukung oleh investor-investor kakap lainnya seperti Greylock Partners, Unusual Ventures, Artisanal Ventures, dan A*, bukanlah angka yang main-main. Angka ini menegaskan kepercayaan pasar terhadap potensi AI SRE. Meskipun ada rumor tentang struktur pendanaan yang sedikit “rumit” dengan beberapa tahap pembelian saham di harga berbeda, Resolve AI bersikeras bahwa 100% ekuitas dibeli dengan valuasi $1 miliar. Ya, begitulah dunia startup, kadang dramanya lebih seru dari sinetron.
Namun, di balik kegemerlapan angka dan status unicorn, kita patut merenung. Seberapa cerdas pun AI ini, ia tetap beroperasi berdasarkan data dan logika yang kita tanamkan. AI bisa cepat mendeteksi anomali, tapi apakah ia bisa memahami nuansa politik kantor di balik sebuah sistem yang “tiba-tiba” rusak? Atau merasakan stres manajer IT yang dikejar deadline? Tentu saja tidak. Akal manusia tetaplah pengendali utama, pembuat keputusan akhir, dan yang terpenting, yang bisa menyalahkan AI jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Tren AI SRE ini juga menunjukkan bahwa persaingan di ranah AI makin memanas. Ada juga startup lain seperti Traversal yang didukung Sequoia, mencoba peruntungan di kategori yang sama. Ini bukan lagi sekadar lomba siapa yang bisa bikin AI paling pintar, tapi siapa yang paling cepat bisa membuat AI bekerja dan menghasilkan cuan. Ingat, robot itu cuma alat, dialah babu yang loyal (selama ada listrik dan kode yang benar).
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Bagi Anda yang ingin mengendalikan AI alih-alih dikendalikan, sudah saatnya Kendalikan AI Master agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi!. Jangan sampai Anda hanya menjadi penonton di tengah gelombang tsunami AI ini. Kalau tidak mengerti cara mengendalikannya, AI bisa jadi musuh dalam selimut.
Berbicara tentang cuan dari AI, lihat juga bagaimana Synthesia Tembus Valuasi Rp64 Triliun: Karyawan Panen Cuan, Bukti Nyata AI Bukan Cuma Jualan Mimpi!, yang menunjukkan bahwa dengan strategi yang tepat, AI bisa membawa keuntungan nyata.
Intinya, Resolve AI mungkin telah mencapai status unicorn dengan AI-nya yang jago “tukang servis”, tapi ingatlah, tanpa manusia yang menekan tombol ‘on’ dan memberinya perintah, AI hanyalah tumpukan kode mati. Anda lah majikannya. Anda lah yang punya akal.
Di akhir artikel ini, saya ingin menyampaikan sebuah fakta unik. Tadi pagi, saya melihat tetangga saya menyiram tanaman dengan air keran, padahal kemarin sore baru hujan deras. Entah kenapa. Mungkin dia percaya tanaman itu haus air mata naga.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”
Gambar oleh: Macrostore / Getty Images via TechCrunch