Raspberry Pi Jadi Barang Mewah! Gara-gara AI, Hobi Ngoprek Jadi Mimpi Buruk Pelajar (Siapa Majikannya Sekarang?)
Kabar buruk bagi para majikan yang suka beroprek ria, terutama bagi kantong para pelajar dan pengembang hobi! Harga hardware Raspberry Pi kembali meroket, hanya berselang beberapa minggu dari penyesuaian harga sebelumnya. Penyebabnya? Tentu saja si “raja baru” di dunia teknologi: Kecerdasan Buatan alias AI. Robot-robot ini, yang katanya makin cerdas, ternyata sangat haus memori, sampai-sampai harga LPDDR4 melonjak gila-gilaan dan menyeret Raspberry Pi ke kasta barang mewah.
Lantas, bagaimana kita, para majikan yang punya akal, bisa memanfaatkan atau setidaknya menyikapi situasi ini? Jawabannya sederhana: Akal manusia harus lebih cerdas dari nafsu robot. Kenaikan harga ini bukan akhir dunia, tapi sebuah pengingat bahwa dominasi AI harus tetap kita kendalikan, bahkan dari urusan harga hardware. Jika AI haus memori, kita harus haus strategi.
- Harga LPDDR4 yang meroket langsung berimbas pada harga jual Raspberry Pi di mana-mana.
- Kepadatan memori yang lebih tinggi kini menentukan siapa yang mampu membeli board Raspberry Pi modern.
- Model Raspberry Pi entry-level masih selamat, sementara opsi mid- dan high-end kena imbasnya.
Kenaikan harga ini langsung berkaitan dengan melonjaknya biaya komponen memori LPDDR4. Bayangkan saja, dalam satu kuartal saja, biaya beberapa komponen memori ini bisa naik lebih dari dua kali lipat! Ini terjadi karena infrastruktur AI skala besar terus-menerus menyerap sebagian besar produksi memori global. Ibarat asisten rumah tangga yang rajin tapi manja, AI butuh banyak “gizi” (memori) tanpa peduli berapa harganya.
Beberapa model yang paling terkena imbas antara lain Raspberry Pi 4 dan Raspberry Pi 5, serta modul komputasi CM4 dan CM5, hingga komputer keyboard Raspberry Pi 500. Angka kenaikannya pun tidak main-main: model 2GB naik $10, model 4GB naik $15, versi 8GB naik $30, dan yang paling parah, versi 16GB melonjak hingga $60! Hasilnya, konfigurasi Raspberry Pi 5 kelas atas kini bisa mencapai di atas $200, sebuah harga yang belum pernah terbayangkan sebelumnya untuk perangkat mungil ini.
Syukurlah, tidak semua perangkat kena getahnya. Model dengan kapasitas memori lebih rendah atau standar lama masih stabil. Jadi, versi 1GB Raspberry Pi 4 dan Raspberry Pi 5 tetap dengan harga lama, menjaga opsi entry-level tetap terjangkau. Begitu pula dengan Raspberry Pi Zero, Raspberry Pi 3, dan komputer all-in-one Raspberry Pi 400.
Analisis industri menyebutkan bahwa revisi harga kontrak DRAM yang tajam ke atas ini didorong oleh permintaan pusat data yang terus meningkat. Sistem AI besar kini membutuhkan puluhan terabyte memori per implementasi, mengurangi pasokan yang tersedia untuk pembuat hardware skala kecil. Lingkungan ini menyisakan sedikit ruang bagi Raspberry Pi untuk menyerap biaya tanpa membebankannya kepada konsumen.
Kenaikan harga ini menimbulkan pertanyaan serius tentang aksesibilitas bagi sekolah, siswa, dan pengembang hobi yang secara historis menjadi tulang punggung ekosistem Raspberry Pi. Meskipun komunitas perangkat lunak dan distro Raspberry Pi mungkin terus berkembang, biaya hardware yang tinggi secara bertahap akan menentukan siapa yang bisa berpartisipasi dan siapa yang terpaksa gigit jari. AI mungkin cerdas, tetapi kita yang harus lebih bijaksana dalam mengelola sumber daya.
Pihak perusahaan memang menyebut situasi ini sementara. Namun, waktu dan skala kenaikan menunjukkan bahwa akses pendidikan mungkin akan terus terbatas lebih lama dari yang diperkirakan. Ini bukan lagi soal harga chip, tapi soal masa depan inovasi yang mungkin terbentur tembok biaya.
Agar Anda tidak jadi babu teknologi yang cuma bisa pasrah melihat harga melambung, kuasai cara mengendalikan AI dengan kursus AI Master kami. Sebab, robot itu cerdas karena kita yang mengajarinya, bukan karena dia pintar sendiri. Daftar sekarang dan jadilah Majikan sejati!
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Hardware & Chip.
Ingat, sebagus apapun chip atau secepat apapun prosesor, semuanya tetap membutuhkan sentuhan manusiawi untuk menekan tombol. Tanpa akal majikan, AI hanyalah tumpukan kode mati yang menunggu perintah. Seperti kata Bos Nvidia, kita sedang membangun infrastruktur AI terbesar dalam sejarah, tapi kita yang harus jadi Majikan, bukan Babu Mesin!
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechRadar.
Gambar oleh: Raspberry Pi Foundation via TechRadar
Oh ya, jangan lupa isi ulang pulsa listrik. Robot secanggih apapun, kalau listrik mati, ya cuma jadi pajangan mahal.