Railway Sikat AWS dan Google Cloud: Startup ‘Nakal’ Ini Dapat Rp1,5 Triliun Tanpa Marketing! Siapa Majikan Sesungguhnya?
Dalam dunia teknologi, para majikan sejati tahu bahwa uang bukan segalanya. Inovasi dan efisiensi adalah mahkota yang sebenarnya. Dan sepertinya, Railway, startup cloud asal San Francisco, baru saja menancapkan mahkotanya dengan gaya. Mereka berhasil mengumpulkan pendanaan Seri B sebesar $100 juta (sekitar Rp1,5 triliun), dengan TQ Ventures memimpin putaran ini, ditemani FPV Ventures, Redpoint, dan Unusual Ventures.
Yang bikin geleng-geleng kepala (dan mungkin bikin petinggi AWS serta Google Cloud garuk-garuk kepala), Railway mengumpulkan dua juta developer tanpa mengeluarkan sepeser pun untuk marketing. Ini bukan sulap, ini strategi. Bagi kita para majikan, ini adalah pelajaran berharga: bagaimana mengoptimalkan alat-alat AI yang kita miliki untuk mencapai hasil maksimal dengan sumber daya minimal.
AI Bikin Kode Kilat, Deploy-nya Kok Kayak Keong?
Railway melihat celah besar di pasar: AI kini bisa menulis kode dalam hitungan detik. Tapi, infrastruktur cloud warisan seperti milik AWS atau Google Cloud masih butuh dua sampai tiga menit untuk proses build-and-deploy standar. “Itu namanya AI yang masih perlu sekolah tentang efisiensi!” kata Jake Cooper, CEO Railway.
Bayangkan, majikan sudah memberikan perintah terbaik, AI sudah merangkai kode dengan sempurna, tapi si “babunya” (infrastruktur) malah lelet. Ini kan sama saja dengan memiliki mobil Formula 1 tapi terjebak di jalan tol Jakarta saat jam pulang kantor. Buang-buang potensi! Railway mengklaim platform mereka bisa melakukan deploy dalam waktu kurang dari satu detik. Ini bukan cuma cepat, ini kecepatan cahaya.
Para pelanggan Railway melaporkan peningkatan kecepatan developer hingga sepuluh kali lipat dan penghematan biaya sampai 65 persen. Contohnya, Daniel Lobaton dari G2X berhasil memangkas biaya infrastruktur dari $15.000 menjadi $1.000 per bulan dan meningkatkan kecepatan deployment hingga tujuh kali lipat. “Kerjaan seminggu di infrastruktur lama, di Railway cuma sehari!” ujarnya.
Berani Cabut dari Google Cloud, Bangun ‘Rumah’ Sendiri
Salah satu langkah paling “ugal-ugalan” yang dilakukan Railway adalah keputusan mereka di tahun 2024 untuk meninggalkan Google Cloud sepenuhnya dan membangun pusat data sendiri. Ini adalah contoh nyata filosofi Alan Kay: “Orang yang serius soal software harus membuat hardware mereka sendiri.”
Langkah ini memungkinkan Railway memiliki kontrol penuh atas jaringan, komputasi, dan lapisan penyimpanan, sehingga bisa menciptakan pengalaman build-and-deploy yang super cepat. Tak heran, saat penyedia cloud besar lainnya mengalami pemadaman massal baru-baru ini, Railway tetap online. Ini membuktikan bahwa ketergantungan pada satu “babunya” besar bisa jadi bumerang jika babu tersebut sedang “kurang piknik”.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Konflik Raksasa.
Kontrol penuh ini juga memungkinkan mereka mematok harga yang lebih rendah. Railway membebankan biaya berdasarkan penggunaan komputasi per detik, bukan kapasitas yang disediakan (yang seringkali nganggur). Ini membuat harga mereka sekitar 50 persen lebih rendah dari hyperscaler dan tiga hingga empat kali lebih murah dari startup cloud lainnya. Ini adalah strategi cerdas untuk mengalahkan raksasa yang masih terikat dengan model bisnis lama.
30 Karyawan, Milyaran Rupiah, dan Dominasi Diam-diam
Dengan hanya 30 karyawan, Railway menghasilkan puluhan juta dolar pendapatan tahunan dan terus bertumbuh 15 persen setiap bulan. Rasio pendapatan per karyawan ini bahkan mengalahkan perusahaan software yang sudah mapan. Ini menunjukkan bagaimana efisiensi AI yang terintegrasi dengan baik bisa melipatgandakan produktivitas manusia. Ini juga selaras dengan visi Bos Nvidia yang ingin membangun infrastruktur AI terbesar sepanjang sejarah untuk menciptakan jutaan pekerjaan, asalkan kita siap jadi majikan yang cerdas.
Meskipun basisnya komunitas developer, 31 persen perusahaan Fortune 500 kini menggunakan platform Railway. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi yang benar-benar memecahkan masalah akan dicari, tak peduli seberapa “kecil” perusahaan di baliknya. Railway telah mengintegrasikan sistemnya dengan AI, memungkinkan agen AI seperti Claude untuk melakukan deploy dan menganalisis infrastruktur secara otomatis. Cooper memprediksi, “jumlah software yang akan lahir dalam lima tahun ke depan akan seribu kali lipat dari yang ada sekarang.” Semua itu butuh tempat untuk ‘bernafas’.
Untuk jadi majikan sejati yang tidak hanya tahu cara memanggil AI tapi juga membangun ‘kerajaan’ digital Anda sendiri, Anda perlu kendali penuh. AI Master adalah kompas Anda untuk menavigasi kompleksitas ini dan memastikan Anda tetap menjadi penguasa, bukan budak dari teknologi yang Anda ciptakan.
Ujian Sesungguhnya Dimulai Sekarang
Railway berencana menggunakan dana segar ini untuk memperluas jangkauan pusat data global mereka, menambah tim, dan membangun operasi go-to-market yang lebih terstruktur. Ini adalah langkah besar bagi perusahaan yang selama lima tahun terakhir hidup dari promosi “dari mulut ke mulut”.
Inovasi infrastruktur AI seperti Railway menunjukkan bahwa kecepatan dan efisiensi adalah kunci di era digital ini. Namun, di balik semua kecepatan kilat dan penghematan fantastis itu, tetap ada manusia yang mengambil keputusan strategis, yang punya visi untuk mengubah industri. Tanpa majikan yang punya akal, tumpukan hardware dan kode canggih hanyalah pajangan mahal, seolah sedang menunggu perintah yang tak kunjung datang.
Ngomong-ngomong, saya tadi lupa di mana kunci motor saya. Mungkin disembunyikan AI biar saya enggak keluyuran dan fokus nulis artikel ini. Dasar robot kurang piknik!
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.
Gambar oleh: VentureBeat made with Midjourney via TechCrunch