Hardware & ChipKonflik RaksasaSidang BotStrategi Startup

Dari Proyek Kampus Jadi Duit Rp 6 Triliun: RadixArk, Tukang Pijat Baru yang Bikin AI Berlari Kencang

Saat kita sibuk memberi perintah pada AI kesayangan kita, di ‘ruang mesin’ ada sekelompok manusia yang bekerja keras memastikan para bot itu tidak lelet dan boros ongkos. Salah satu tim ‘mekanik’ ini baru saja diguyur uang dalam jumlah yang tidak masuk akal. Perkenalkan RadixArk, sebuah startup yang lahir dari proyek riset kampus, kini nilainya meroket hingga $400 juta (sekitar Rp 6,4 triliun).

Lahir dari proyek open-source bernama SGLang di laboratorium UC Berkeley, RadixArk bukanlah pemain yang menciptakan model AI baru yang bisa menulis puisi atau membuat gambar. Misi mereka jauh lebih fundamental: mengoptimalkan ‘inference processing’. Apa itu? Bayangkan AI sebagai seorang koki jenius. Proses ‘training’ adalah saat si koki mempelajari ribuan resep. Nah, ‘inference’ adalah momen ketika kamu memesan makanan, dan si koki harus memasak dan menyajikannya secepat mungkin. RadixArk ini ibarat manajer dapur super efisien yang menata semua peralatan dan bahan agar si koki bisa bekerja kilat tanpa buang-buang gas dan listrik.

Dengan kata lain, mereka membuat AI berlari lebih cepat dan lebih murah di atas hardware yang sama. Inilah ladang uang baru yang sedang diperebutkan. CEO RadixArk, Ying Sheng, bahkan rela meninggalkan pekerjaannya di xAI milik Elon Musk untuk fokus pada startup ini. Keputusan yang tampaknya tepat, mengingat investor raksasa seperti Accel berani menanam modal besar.

Pasar optimasi ini memang sedang panas-panasnya. RadixArk harus bersaing dengan pemain lain seperti vLLM (yang juga dari lab yang sama dan kabarnya bernilai $1 miliar) serta Baseten dan Fireworks AI. Semua berlomba menjadi ‘tukang pijat’ andalan agar otot-otot AI tidak tegang dan boros energi.

Di sinilah letak ironi sekaligus penegasan filosofi kita: AI tidak bisa mengoptimalkan dirinya sendiri. Teknologi secanggih apa pun ternyata masih butuh akal manusia untuk merombak cara kerjanya agar lebih efisien. Para peneliti di Berkeley, bukan algoritma, yang menemukan cara membuat kode berjalan lebih irit. Uang triliunan itu tidak mengalir ke AI, tapi ke kantong para Majikan yang berhasil menaklukkan dan menyempurnakan alat tersebut.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Konflik Raksasa.

Tentu, kecepatan mesin itu penting. Tapi mesin cepat yang menerima perintah bodoh hanya akan menghasilkan kesalahan lebih cepat. Di sinilah peran Majikan diuji. Menguasai cara memberi perintah yang presisi adalah kunci. Jika Anda ingin memastikan AI Anda tidak hanya cepat tapi juga tepat, kurikulum di AI Master adalah tempat latihan terbaik untuk mengasah akal Anda. Belajar mengendalikan bukan hanya outputnya, tapi juga logikanya, adalah skill termahal di era ini. Jangan sampai mesin Anda lebih pro dari Anda.

Kesimpulan: Uang Bukan Untuk Robotnya, Tapi Untuk Pawangnya

Kisah RadixArk adalah pengingat telak bahwa nilai terbesar dalam teknologi tidak terletak pada mesin itu sendiri, melainkan pada kecerdasan manusia yang merancang, mengelola, dan mengoptimalkannya. Para investor tidak bertaruh pada tumpukan kode, mereka bertaruh pada otak manusia di baliknya. Tanpa ada yang menekan tombol, memberi dana, atau menulis ulang baris kodenya, AI hanyalah listrik yang menunggu perintah.

Ngomong-ngomong, kenapa kerupuk di warteg kalau dibungkus jadi melempem ya?

Sumber Berita:

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.

Gambar oleh: Yuichiro Chino / Getty Images via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *