Karier AIMesin UangSidang Bot

Proyek AI di Bisnis Global: Gagal Total Gara-gara Bos dan IT Kurang Ngopi Bareng?

Dunia teknologi terus dihebohkan dengan berita-berita tentang kecerdasan buatan, namun faktanya banyak proyek AI di perusahaan justru berujung pilu. Sebuah laporan terbaru dari TechRadar mengungkap akar masalahnya: “advice gap” atau jurang nasihat antara para CEO yang ambisius dan tim IT yang realistis. Para Majikan AI wajib tahu, sebab AI secanggih apapun, tidak bisa menjembatani komunikasi antar manusia. Ini adalah pekerjaan Majikan, bukan sekadar babu mesin.

Di perusahaan-perusahaan menengah, di mana tim kepemimpinan biasanya lebih kecil dan interaksi lebih intens, kita mungkin berpikir keselarasan visi akan terjadi secara alami. Namun, perbedaan sudut pandang bisa dengan mudah menggagalkan sebuah inisiatif bahkan sebelum dimulai. CEO seringkali terbuai dengan potensi transformatif AI untuk mengubah bisnis, meningkatkan efisiensi, dan membuka peluang baru. Di sisi lain, para pemimpin IT – yang bertanggung jawab mewujudkan visi tersebut – seringkali mendekati AI dengan lebih hati-hati, sadar akan kompleksitas integrasi, keamanan, dan skalabilitas yang harus mereka taklukkan.

AI memang pintar menghitung data, mengidentifikasi pola, bahkan menulis kode. Tapi ia tidak bisa duduk semeja, memahami dinamika interpersonal, atau menyatukan dua kepala manusia dengan visi yang berbeda. AI tidak bisa “ngopi bareng” para petinggi dan tim teknis untuk mencari titik temu. Ini mutlak peran kita sebagai Majikan AI.

Lalu, bagaimana kita bisa memastikan ambisi AI tidak terdampar di meja tim IT, atau lebih parah lagi, menjadi “pajangan mahal” semata? Berikut adalah beberapa langkah cerdas ala Majikan AI:

Membangun Bahasa Bersama

Jembatan pertama untuk mengatasi “jurang nasihat” ini adalah menciptakan bahasa yang sama untuk mendiskusikan AI. Para pemimpin perlu bergerak melampaui retorika abstrak tentang “transformasi digital” dan fokus pada hasil konkret yang benar-benar penting bagi bisnis. AI tidak akan paham bahasa bunga. Bicarakan AI dalam konteks: peningkatan efisiensi, peningkatan pengalaman pelanggan, atau pengambilan keputusan yang lebih tajam. Ini membantu semua pihak memahami ambisi sekaligus batasan-batasannya.

Transparansi Risiko dan Kesiapan

Sama pentingnya adalah transparansi mengenai risiko dan tingkat kesiapan. Tim IT harus berani mengkomunikasikan keterbatasan infrastruktur, tantangan integrasi, dan kapabilitas tenaga kerja. Sebaliknya, para eksekutif harus mengklarifikasi prioritas strategis, memastikan semua orang fokus pada tujuan yang sama. AI, dengan segala kecerdasannya, tidak akan menyembunyikan masalah internal perusahaan. Justru, ia seringkali menyingkapnya. Untuk kasus lain yang juga menyoroti kegagalan AI di ranah industri, baca juga artikel kami tentang AI Agen Industri: Hebat di Kertas, Lemah di Lapangan? IBM Ungkap Fakta Pahit Lewat Benchmark Baru!.

Peta Jalan AI Praktis

Rencana AI yang sukses haruslah aspirasional namun juga bisa dijalankan. Dewan direksi di perusahaan menengah dapat mengadopsi pendekatan bertahap: mengidentifikasi peluang dengan dampak tinggi, menguji proyek dalam cakupan yang terukur, dan menskalakannya secara bertahap berdasarkan hasil yang terukur. AI tidak akan menyusun strateginya sendiri. Penetapan target yang jelas, indikator kinerja utama (KPI), dan akuntabilitas memastikan inisiatif tidak mandek. Siklus tinjauan rutin juga memungkinkan strategi terus berkembang seiring dengan kebutuhan bisnis. Ini akan sangat membantu, terutama jika kamu merasa AI di Perusahaan Anda Cuma Jadi Pajangan Mahal? Saatnya Ubah Mentalitas, Bukan Cuma Infrastruktur!.

Kolaborasi Lintas Fungsi

Untuk mendukung adopsi, dewan direksi dapat mendorong kolaborasi lintas fungsi. Mengumpulkan tim dari departemen keuangan, operasional, pemasaran, dan IT memastikan bahwa inisiatif AI praktis, dapat dicapai, dan selaras dengan strategi bisnis secara keseluruhan. Tim lintas disiplin yang kecil dapat mengidentifikasi masalah lebih awal, menghindari duplikasi, dan memastikan bahwa proyek percontohan dirancang untuk sukses sebelum peluncuran yang lebih luas.

Peningkatan Keterampilan Staf

Adopsi teknologi bukan hanya tentang sistem, tetapi juga tentang manusia. Dewan direksi perlu memupuk budaya di mana eksperimen adalah hal yang aman, pembelajaran berkelanjutan, dan kegagalan dilihat sebagai peluang untuk berinovasi. Para pemimpin dapat mendorong hal ini dengan mendukung kemenangan kecil, merayakan keberhasilan awal, dan berbagi pembelajaran secara terbuka antar tim.

Ketika tim eksekutif menunjukkan rasa ingin tahu dan keterbukaan terhadap AI, hal itu akan menentukan arah bagi seluruh organisasi. Perusahaan menengah juga dapat berinvestasi dalam meningkatkan keterampilan staf, membantu anggota tim teknis dan non-teknis memahami kemungkinan serta batasan AI. Pemahaman bersama ini mengurangi gesekan, memberdayakan pengambilan keputusan, dan memastikan bahwa AI digunakan secara efektif di seluruh departemen, bukan hanya terbatas pada tim IT.

Jurang antara CEO dan pemimpin IT memang nyata, tetapi tidak tidak dapat diatasi. Dewan direksi yang menciptakan pemahaman bersama, menetapkan tujuan yang jelas, dan membangun rencana bertahap yang terukur akan melihat AI bergerak dari sekadar jargon menjadi penggerak bisnis yang praktis.

Organisasi menengah, dengan tim yang ramping dan kelincahan mereka, berada dalam posisi unik untuk mengadopsi AI dengan cepat dan menskalakannya secara efisien, memberikan hasil yang benar-benar penting.

Menjembatani perbedaan memerlukan komitmen, komunikasi, dan kejelasan. Ini menuntut para eksekutif untuk menghargai realitas teknis dan para pemimpin IT untuk berpikir strategis tentang dampak bisnis. Imbalannya jelas: dewan direksi yang berbicara dalam bahasa yang sama dapat mengubah AI dari ambisi menjadi tindakan, potensi menjadi kinerja, dan ide-ide menjadi hasil yang terukur.

Untuk kamu para Majikan yang ingin benar-benar menguasai AI dan memastikan proyek-proyekmu sukses, bukan sekadar jadi babu teknologi, coba intip AI Master. Program ini akan membantumu mengendalikan AI agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi.

AI memang alat yang powerful, tapi kecerdasan sejati, visi, dan kemampuan menjalin komunikasi tetap milik kita, para Majikan yang punya akal. Tanpa sentuhan strategis manusia, AI hanyalah tumpukan algoritma yang gagap dalam kegelapan.

Ngomong-ngomong, sudah cek kulkas? Jangan-jangan isinya cuma halusinasi AI tentang es krim rasa rendang.

Gambar oleh: Ryzhi via TechRadar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *