Pinterest Pangkas Ratusan Karyawan Demi Fokus ke AI: Antara Akal Majikan dan ‘Resesi Robot’ yang Mengintai!
Pinterest, platform visual yang tadinya adem ayem dengan papan ide-ide kreatif, kini membuat gebrakan yang cukup bikin alis terangkat. Mereka berencana memangkas hampir 15 persen karyawannya—sekitar 700 jiwa—demi memfokuskan sumber daya pada inisiatif kecerdasan buatan. Bagi kita para Majikan AI, ini bukan sekadar berita PHK massal, tapi sinyal keras: bagaimana manusia bisa tetap relevan saat robot mulai mengambil alih meja kerja? Pertanyaannya, apakah ini langkah maju yang cerdas atau malah pertanda “resesi robot” yang akan menjalar ke mana-mana?
Dalam laporan resminya, Pinterest terang-terangan menyatakan bahwa perampingan ini adalah bagian dari tiga inisiatif transformasi, dan dua di antaranya berpusat pada AI. Mereka ingin mengalokasikan sumber daya ke peran dan tim yang fokus pada AI, serta memprioritaskan produk dan kapabilitas berbasis AI. Secara kasarnya, mereka sedang mengajari asisten digital mereka agar lebih mandiri, bahkan jika itu berarti mengorbankan “asisten manusia” yang selama ini setia.
Ini bukan pertama kalinya kita melihat korporasi besar melakukan manuver serupa. Amazon, Google, dan Meta juga pernah melakukan hal yang sama. Namun, penting untuk diingat, AI itu seperti pisau dapur baru yang tajam. Ia bisa memotong sayur dengan cepat, tapi kalau salah pegang, jari kita yang putus. AI bisa sangat efisien, namun ia tidak memiliki akal sehat, empati, atau naluri strategis seperti manusia. Robot itu rajin, tapi kaku. Mereka butuh Majikan yang cerdas untuk mengarahkan, bukan sekadar menekan tombol “mulai”.
Pinterest memang berinvestasi besar, menelan biaya restrukturisasi hingga 45 juta dolar AS. Angka yang fantastis untuk sebuah janji masa depan yang berbasis algoritma. Namun, seberapa jauh AI bisa memahami nuansa visual yang membuat Pinterest begitu populer? Apakah AI bisa merasakan “vibe” sebuah inspirasi fashion atau kehangatan resep masakan rumahan? Sampai saat ini, AI masih sering “halusinasi” atau menghasilkan konten yang aneh jika tidak dipandu dengan prompt yang super spesifik. Ingat, robot memang bisa meniru, tapi kreativitas orisinal masih jadi domain kita para Majikan.
Bahkan, studi menunjukkan bahwa tidak semua implementasi AI di perusahaan berjalan mulus. Ada banyak kasus di mana AI diimplementasikan hanya sebagai pajangan mahal tanpa hasil yang signifikan. Dan soal efisiensi, benarkah AI selalu hemat waktu? Terkadang, bos bilang ‘iya’, tapi karyawan bilang ‘mimpi!’. Ini menunjukkan bahwa adopsi AI memerlukan lebih dari sekadar pergeseran anggaran; ia butuh pergeseran mentalitas dan keahlian untuk benar-benar mengendalikan sang robot.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Melihat gelombang PHK ini, para Majikan harus lebih siap. Jika kamu ingin mengendalikan AI agar kamu tetap menjadi nahkoda, bukan sekadar penumpangnya, saatnya mengasah skill. Jangan sampai robot-robot ini lebih pintar darimu dalam hal strategi dan kreativitas. Kuasai cara menjadi Majikan yang sesungguhnya. Kalau tidak, siapa yang akan mengajari AI agar tidak terlalu kaku dalam urusan pemasaran dan inovasi? Jadilah Majikan yang punya akal, bukan sekadar babu teknologi.
Pada akhirnya, terlepas dari berapa banyak karyawan yang dipangkas atau berapa juta dolar yang diinvestasikan, AI tetaplah alat. Secanggih apa pun algoritmanya, ia tidak akan pernah bisa mengambil keputusan strategis tanpa data, arahan, dan, yang terpenting, sentuhan manusia. Tanpa Majikan yang cerdas di balik layar, robot-robot pintar ini hanyalah tumpukan kode mati yang menunggu perintah.
Dan ngomong-ngomong soal perintah, saya baru sadar kalau remote AC di rumah saya ini ternyata bisa diajak ngobrol juga. Sayangnya, dia cuma mau disuruh mati atau hidup, tidak mau diajak diskusi tentang masa depan peradaban. Sistem yang kurang piknik.
Gambar oleh: Jess Weatherbed via The Verge