Perusahaan Ngeyel Investasi AI Mahal-mahal, Tapi Ogah “Sekolahin” Skill Karyawan? (Akalku Mendidih!)
Para bos di Inggris sepertinya punya hobi baru: lempar uang ke AI. Survei terbaru dari Accenture menemukan, lebih dari empat dari lima perusahaan (83%) berencana meningkatkan investasi mereka di teknologi kecerdasan buatan. Hebat, kan? Seperti bocah dapat mainan baru, langsung sikat! Tapi, tunggu dulu. Apakah mainan baru ini benar-benar dipahami cara kerjanya, atau cuma jadi pajangan mahal di ruang rapat?
Dari sudut pandang seorang majikan, ini kabar baik sekaligus peringatan. AI memang alat yang luar biasa untuk mendorong pertumbuhan, bukan sekadar pengganti tenaga kerja. Faktanya, 71% pemimpin justru berharap rekrutmen akan meningkat. Nah, kalau begitu, di mana letak “akal” majikan yang sesungguhnya? Membeli alat canggih itu mudah, tapi menggunakannya dengan bijak, itu baru tantangan!
Penelitian Accenture ini bak cermin bagi perusahaan yang terlalu nafsu dengan kilau AI tapi lupa esensinya. Mereka memang rajin menyuntik dana ke teknologi ini, namun masih gagap menghadapi hambatan fundamental: kurangnya keterampilan dan sistem pembelajaran yang ketinggalan zaman. Bayangkan saja, sekitar 27% responden mengeluhkan hal ini, namun hanya 43% yang berencana meningkatkan keterampilan karyawan tahun ini. Ini seperti membeli mobil balap, tapi sopirnya cuma bisa mengendarai gerobak. Mau ngebut ke mana, Bos?
AI itu seperti asisten rumah tangga baru yang sangat rajin. Dia bisa menyapu lantai sebersih kristal, mencuci baju tanpa kusut, bahkan menyusun jadwal meeting dengan presisi Swiss. Tapi coba suruh dia merombak interior rumah agar “lebih estetik” atau memecahkan masalah kompleks yang butuh naluri manusia, dijamin dia cuma melongo dengan kode error 404 di dahinya. Kecerdasan buatan itu cerdas, tapi tidak punya akal sehat. Itu tugas kita, para majikan berakal.
Ironisnya, alih-alih memanfaatkan AI untuk mendefinisikan ulang peran pekerjaan, sebagian besar perusahaan (hanya 9% yang berani melakukan ini) justru cuma “melapisinya” di atas pekerjaan lama. Ini mirip seperti memakai setelan jas mahal untuk pergi ke sawah; niatnya bagus, tapi salah tempat. AI seharusnya bukan cuma jadi kosmetik, tapi tulang punggung inovasi yang merombak cara kita bekerja dari akarnya.
“Organisasi yang akan memimpin di tahun 2026 adalah mereka yang memadukan investasi teknologi dengan kejelasan tentang keterampilan, peran, dan peluang,” kata Matt Prebble, CEO UK&I Accenture. Ia menambahkan, “Mereka memperlakukan transformasi tenaga kerja sebagai prioritas strategis, bukan sekadar pelengkap.” Setuju sekali, Tuan Prebble. Tanpa akal sehat manusia, AI hanyalah tumpukan kode mati yang menunggu perintah.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Ini sejalan dengan apa yang pernah kami ulas dalam artikel AI di Perusahaan Anda Cuma Jadi Pajangan Mahal? Saatnya Ubah Mentalitas, Bukan Cuma Infrastruktur!, di mana mentalitas menjadi kunci utama. Serta dalam Bos Nvidia: Bangun Infrastruktur AI Terbesar Sepanjang Sejarah, Ciptakan Jutaan Pekerjaan! (Asalkan Kamu Siap Jadi Majikan, Bukan Babu Mesin), yang menekankan pentingnya manusia untuk mengendalikan, bukan dikendalikan.
Untuk menjadi majikan yang mengerti cara mengendalikan AI, bukan hanya mengoperasikannya, Anda perlu strategi dan pemahaman mendalam. Jangan mau cuma jadi penonton robot yang sok pintar atau bahkan babu teknologi yang gampang ditipu algoritma. Kendalikan AI Anda dengan ilmu, bukan cuma spekulasi. Dapatkan akses ke program AI Master sekarang dan jadilah Majikan sejati yang punya akal, bukan sekadar penekan tombol.
Pada akhirnya, seberapa canggih pun AI, seberapa besar pun investasi yang digelontorkan, tanpa sentuhan akal manusia, dia hanyalah kumpulan algoritma dan sirkuit yang dingin. Mesin tidak akan pernah bisa menggantikan naluri, empati, atau kebijaksanaan seorang majikan. Jadi, pastikan tombol “on” dan “off” AI tetap ada di tangan Anda, bukan di genggaman kabel-kabelnya.
Dan ingat, kalau mau goreng tempe, pastikan minyaknya panas, bukan hatimu.
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”.
Gambar oleh: Shutterstock / NicoElNino via TechRadar