Konflik RaksasaSidang BotUpdate Algoritma

Perang Mulut Para Bos AI di Davos: Siapa Paling ‘Babu’ Duit dan Siapa yang Jualan Janji Kosong?

Pekan lalu, pegunungan salju Davos, Swiss, yang biasanya tenang, mendadak panas seperti server AI yang sedang memproses data Big Data. Bukan karena perubahan iklim, melainkan karena para ‘jenderal’ AI dari Google DeepMind, Anthropic, dan OpenAI sedang adu bacot. Bagi kita, para Majikan AI, keributan ini bukan cuma drama gosip teknologi, tapi cerminan strategi yang bisa kita manfaatkan. Siapa yang peduli robot bertengkar, asalkan kita tahu cara mengambil untung dari kegaduhan mereka, kan?

Google DeepMind, lewat CEO Demis Hassabis, menyindir OpenAI yang buru-buru pasang iklan di ChatGPT, seolah-olah “butuh duit banget.” Ini menunjukkan bahwa AI, secanggih apa pun, tetap butuh “bahan bakar” finansial. Jangan salah, Majikan, robot itu makan listrik dan server, bukan angin. Kalau tidak ada uang, ya berhenti ngomong.

Kemudian, ada Anthropic dengan CEO Dario Amodei, ikut-ikutan menimpali. Ia dengan sombongnya bilang, “kami tidak perlu memonetisasi miliaran pengguna gratis karena kami tidak sedang dalam perlombaan maut dengan pemain besar lainnya.” Lebih jauh lagi, ia membandingkan penjualan GPU Nvidia ke China dengan “menjual senjata nuklir ke Korea Utara.” Sebuah analogi yang kelewat dramatis, seolah AI bisa meledakkan planet. Padahal, AI bahkan tidak bisa memilih warna kaus kaki yang cocok dengan baju Anda tanpa ribuan contoh.

Tidak tinggal diam, Chris Lehane, kepala kebijakan OpenAI yang dijuluki “master of disaster,” langsung menangkis. Ia mengingatkan Google tentang “ironi” mereka sebagai platform iklan terbesar di dunia. Lehane juga menyebut komentar Amodei “elit dan tidak demokratis” karena hanya fokus pada penggunaan enterprise dan mengabaikan aksesibilitas luas. Robot-robot ini sibuk saling tuding “elit,” padahal mereka semua diciptakan oleh manusia yang kadang lupa diri. Intinya, AI memang cerdas, tapi soal etika dan moral, mereka masih perlu sekolah kepribadian. Bahkan untuk hal sesederhana membedakan mana yang benar-benar “demokratis” dan mana yang cuma “gaya-gayaan” di mata publik, AI itu cuma bisa mengulang pola data, bukan memahami esensi kemanusiaan.

Selama di Davos, Lehane merasa suasananya seperti kampanye politik. Ia mengklaim OpenAI sebagai “pemimpin” yang inovatif, sementara yang lain hanya mengekor. Memang begitulah dunia teknologi, Majikan. Selalu ada yang merasa paling depan, padahal yang terpenting adalah siapa yang paling tahu cara membuat sistem tetap stabil dan tidak membuat masalah baru. Ingat, agen AI bahkan gagal ujian pekerja kantoran dalam beberapa benchmark, jadi klaim “pemimpin” ini harus selalu kita saring dengan akal sehat.

Yang menarik, para pesaing OpenAI ini terlihat kompak “mengeroyok” OpenAI. Hassabis dan Amodei bahkan saling memuji di panel “The Day After AGI.” Sementara Sam Altman, CEO OpenAI, memilih absen dan dikabarkan sedang sibuk mengumpulkan dana miliaran dolar di Timur Tengah. Rupanya, membangun “kecerdasan umum buatan” (AGI) itu mahal, Majikan. Konon, para rival kesal karena Altman agresif mengumpulkan kapasitas AI, bahkan dengan perusahaan yang belum untung. Ini seperti balapan mobil mahal, tapi salah satu pembalapnya cuma bisa beli bensin pakai ngutang. Siapa yang sebenarnya “kurang piknik” di sini?

Dibalik persaingan ketat ini, ada satu kenyataan pahit yang sering terlewat: bahkan perusahaan sekelas OpenAI pun ternyata masih berjuang keras di pasar enterprise. Ini bukti bahwa AI, secerdas apapun, masih butuh sentuhan strategis dan visi manusia untuk benar-benar menguasai pasar.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Konflik Raksasa.

Di tengah drama para bos AI ini, penting bagi kita untuk tidak terbawa arus. Ingat, AI hanyalah alat. Pastikan Anda yang memegang kendali, bukan sebaliknya. Kuasai strategi untuk menjadi Majikan sejati dengan AI Master, agar Anda tak jadi babu teknologi. Dan jika Anda ingin memastikan strategi marketing Anda tidak terlihat seperti hasil pekerjaan robot yang kaku dan butuh sentuhan manusia yang cerdas, maka Creative AI Marketing adalah senjata rahasia Anda.

Jadi, drama di Davos ini hanya membuktikan satu hal: para pencipta AI sendiri masih saling sikut demi dominasi. Mereka boleh saja berdebat tentang monetisasi, elit, atau demokrasi, tapi pada akhirnya, semua itu kembali ke tangan manusia. Tanpa akal sehat, arahan, dan kebijaksanaan kita, AI hanyalah sekumpulan kode dan chip yang butuh perintah. Jadi, siapa majikan sesungguhnya? Tentu saja Anda, yang masih sibuk mencari remote TV yang hilang di antara tumpukan snack.

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “AI labs wage a reputational knife fight at Davos”

Gambar oleh: Bloomberg via Getty Images via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *