Etika MesinLogika PenguasaSidang Bot

Pemerintah Inggris ‘Kudet’ Soal Hak Cipta AI: Cuma 3% Rakyat yang Setuju! Serius?

Ketika pemerintah Inggris meluncurkan konsultasi publik tentang AI dan hak cipta di awal tahun 2025, mungkin mereka tidak menyangka akan mendapatkan rapor merah nyaris bulat. Bayangkan, dari sekitar 10.000 respons yang masuk melalui platform resmi “Citizen Space” mereka, hanya 3% yang mendukung kebijakan pilihan pemerintah terkait penggunaan materi berhak cipta untuk melatih AI. Sebaliknya, 88% publik justru mendukung pendekatan yang jauh lebih ketat, yang berpihak pada pemilik hak cipta. Ini bukan sekadar angka, ini adalah tamparan keras bagi siapa pun yang berpikir AI bisa seenaknya merampas karya.

Bagi kita, para Majikan AI, ini adalah pelajaran berharga. Betapa krusialnya peran manusia untuk tidak menjadi babu teknologi, apalagi babu kebijakan yang ‘kurang piknik’. Kebijakan yang diusulkan pemerintah, yang mengadopsi model ‘opt-out’, pada dasarnya mengatakan: “Silakan pakai karya siapa pun untuk melatih AI, nanti kalau ada yang protes, baru mereka bisa keluar.” Terdengar familiar? Mirip asisten rumah tangga yang rajin tapi kurang ajar, mengambil semua barang di rumah lalu baru bilang, “Eh, kalau ada yang tidak suka, bilang ya, nanti saya kembalikan.” Mana bisa begitu!

AI, seberapa pun canggihnya, tidak punya nurani atau akal sehat untuk membedakan mana yang etis dan mana yang tidak. Ia hanya mesin yang melahap data. Masalahnya muncul ketika data itu adalah hasil jerih payah seorang kreator. Opsi ‘opt-out’ justru membebankan para kreator untuk terus-menerus memantau bagaimana karya mereka digunakan oleh ribuan model AI yang bermunculan. Ini seperti meminta kita menjaga semua keran air di kota agar tidak bocor, sementara yang menyebabkan bocor adalah tukang ledeng nakal yang diizinkan beroperasi tanpa batasan.

Kreator di seluruh Inggris, mulai dari penulis, musisi, seniman visual, hingga pengembang game, telah bersuara lantang. Mereka menuntut skema lisensi eksplisit (opt-in). Artinya, jika sebuah model AI ingin melahap buku Anda, suara Anda, ilustrasi Anda, atau fotografi Anda, ia harus minta izin (dan mungkin membayar) terlebih dahulu. Ini adalah bentuk penghormatan dasar terhadap karya intelektual. Apalagi di Inggris, undang-undang hak cipta bersifat otomatis, tidak terdaftar. Ini bagus untuk fleksibilitas, tapi jadi mimpi buruk saat harus menegakkan hak, karena tidak ada basis data terpusat kepemilikan hak cipta.

Situasi ini mengingatkan kita bahwa kendali ada di tangan kita, para majikan. Kita bisa menggunakan AI untuk Creative AI Pro untuk menghasilkan konten profesional tanpa perlu khawatir soal etika penggunaan data, atau mendalami AI Master agar kita benar-benar menguasai AI, bukan sebaliknya. Jika ingin lebih fokus pada visual, ada Belajar AI | Visual AI untuk mengasah kemampuan visual AI Anda, bukan justru menyerahkannya pada robot yang tak tahu adat. Ingat, AI hanyalah alat, kitalah majikannya.

‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.’

Laporan akhir dan penilaian dampak ekonomi dari pemerintah Inggris rencananya akan dirilis Maret nanti. Namun, sudah jelas bahwa implementasi pendekatan ‘opt-out’ yang mereka inginkan tidak akan berjalan mulus. Tanpa putusan pengadilan atau perbaikan legislatif yang jelas, ketidakpastian akan terus berkuasa. Pengembang AI tidak tahu apa yang boleh, kreator tidak tahu apa yang dilindungi. Semuanya menunggu kejelasan.

Masa depan ekonomi digital Inggris akan sangat bergantung pada keputusan ini. Jika pemerintah tetap ngotot dengan 3% suara yang mendukung rencana awal mereka, mereka berisiko mengasingkan para kreator yang karyanya sangat berharga. Namun, aturan lisensi yang lebih ketat pasti akan mendapat perlawanan dari startup AI dan perusahaan teknologi raksasa internasional. Apa pun hasilnya, pertarungan ini belum usai.

Pada akhirnya, siapa yang menekan tombol dan menetapkan aturan, dialah yang menjadi majikan. Jangan biarkan kode program menjadi penguasa akal sehat kita. Sebab AI hanyalah alat, kaulah majikan yang punya akal.

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”.

Gambar oleh: Shutterstock via TechRadar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *