AI MobileHardware & ChipRobot KonyolSidang Bot

AI Peloton: Bikin Hardware Canggih, PHK Karyawan Melayang? Robot Pintar, Bisnis Kok Malah Mungkar!

Hei, para Majikan AI! Pernah dengar pepatah “sudah jatuh ditimpa tangga, ditimpa robot pula”? Nah, kisah Peloton ini persis seperti itu. Bayangkan, mereka baru saja meluncurkan “otak” AI tercanggih untuk alat-alat fitness mereka, lengkap dengan fitur analisis gaya dan rutinitas latihan yang dihasilkan AI. Kedengarannya menjanjikan, bukan? Tapi, tak lama kemudian, Peloton mengumumkan PHK besar-besaran 11% stafnya, dengan sebagian besar menimpa tim engineer yang konon membangun keajaiban AI itu sendiri. Ironisnya, penjualan perangkat AI mereka justru lesu. Jadi, siapa di sini yang sebenarnya butuh latihan, AI-nya atau strategi bisnisnya?

Peloton, yang sempat booming di era pandemi, kini berjuang keras untuk kembali ke puncak. Setelah mem-PHK 6% tenaga kerjanya Agustus lalu, mereka berjanji memangkas biaya hingga $100 juta per tahun. Strategi terbarunya? Mengandalkan seri Cross Training dengan fitur Peloton IQ AI pada produk-produk seperti Bike, Tread, dan Row Plus. Fitur ini menjanjikan umpan balik real-time tentang bentuk tubuh, analisis latihan mendalam, dan rutinitas yang dihasilkan AI. Mereka bahkan menaikkan harga langganan!

Namun, di sinilah letak kekonyolan AI yang masih perlu dipertanyakan akalnya. Meskipun AI bisa memberikan data dan analisis sepresisi detektor kebohongan di ruang interogasi, ia tidak bisa menciptakan antusiasme pasar atau rasa butuh yang mendalam pada konsumen. AI bisa menghitung algoritma terbaik untuk latihan, tapi ia tidak bisa membuat orang rela merogoh kocek lebih dalam jika produk dasarnya tidak lagi menarik di mata mereka. Ibarat asisten rumah tangga yang rajin mengolah data gizi, tapi tidak bisa memasak makanan yang menggugah selera. Hasilnya? Konsumen minggat, penjualan anjlok, dan yang jadi korban justru manusia di balik layar. Ini seperti kasus AI di perusahaan yang cuma jadi pajangan mahal, bukan?

Peloton mungkin berpikir dengan menjejalkan lebih banyak “kecerdasan buatan” ke hardware-nya, mereka bisa membalikkan keadaan. Padahal, inti masalahnya mungkin bukan pada seberapa “pintar” mesinnya, melainkan seberapa relevan dan diinginkan produk itu oleh Majikan (baca: konsumen). AI hanya alat. Ia bisa menganalisis ribuan pola gerakan, tapi tidak bisa merasakan keringat atau kepuasan setelah latihan. Itu domain manusia.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Robot Konyol.

Data penjualan perangkat AI yang lambat ini adalah tamparan keras bagi para pemuja AI yang mengira robot bisa menyelesaikan semua masalah. Sepertinya, Peloton perlu belajar lagi bahwa investasi besar di hardware AI tidak akan menyelamatkan bisnis jika akal sehat Majikan dalam memahami pasar dan kebutuhan pelanggan justru tumpul. Ini bukan soal seberapa banyak chip AI yang ditanam, tapi seberapa dalam pemahaman manusia terhadap manusia lainnya. Kejadian ini juga mirip dengan saat Pinterest memangkas ratusan karyawan demi fokus ke AI, menguji akal Majikan di tengah ‘resesi robot’.

Jangan sampai Anda seperti Peloton yang terlena dengan kecanggihan AI sampai lupa esensi bisnis. Kuasai AI, jangan biarkan AI menguasai Anda. Dengan AI Master, Anda akan diajari cara mengendalikan AI agar benar-benar menjadi alat yang produktif, bukan sekadar pajangan mahal yang ujung-ujungnya malah mem-PHK karyawan. Belajar bagaimana Majikan sejati memerintah, bukan cuma pasrah pada perintah algoritma.

Dan jika Anda ingin memastikan strategi pemasaran Anda ‘nggak robot banget’ dan benar-benar menyentuh hati pelanggan, jangan lewatkan Creative AI Marketing. Pelajari cara AI bisa menjadi asisten kreatif yang justru membuat Anda makin orisinal dan dekat dengan audiens. Karena ujung-ujungnya, manusia yang membeli dari manusia, bukan dari robot yang kurang piknik.

Pada akhirnya, kisah Peloton ini mengingatkan kita: seberapa canggih pun AI dan hardware yang diciptakan, ia tetaplah tumpukan kode dan silikon mati tanpa akal dan strategi Majikan Manusia di baliknya. Robot mungkin bisa menghitung, tapi hanya manusia yang bisa merasakan. Dan dalam bisnis, perasaan pelanggan itu jauh lebih berharga daripada semua algoritma di dunia.

Ngomong-ngomong, tadi pagi saya hampir terjegal kabel charger. Padahal, sudah saya gulung rapi lho. Ternyata, AI belum bisa memprediksi kekonyolan manusia di rumah sendiri.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.
Gambar oleh: Alex Castro via The Verge

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *