Peloton Nekat Taruhan di Hardware Mahal Berotak AI: Akhirnya Ambruk, Bukti Akal Majikan Tetap Nomor Satu!
Para majikan AI yang budiman, mari kita sambut kisah klasik perusahaan teknologi yang terlalu percaya diri dengan “kecerdasan” buatan. Peloton, sang raja fitness rumahan, baru saja mengalami kerugian yang cukup menggelitik di kuartal kedua 2026. Mereka mengira dengan menempelkan label “AI” di setiap jengkal hardware baru, dompet para pelanggan akan otomatis terbuka. Ternyata, AI yang canggih sekalipun tidak bisa menipu akal sehat para majikan yang sudah paham betul: fitur tambahan itu cuma pajangan kalau harganya tidak masuk akal.
Dalam panggilan pendapatan terbaru, CEO Peloton, Peter Stern, harus menelan pil pahit. Strategi taruhan besar pada lini produk Cross Training Series yang diperbarui — lengkap dengan layar putar dan segudang fitur AI — ternyata tidak laku di kalangan pelanggan lama. Alih-alih meroket, saham Peloton malah terjun bebas sekitar 20 persen. Seolah belum cukup, CFO Liz Coddington hengkang, disusul PHK 11 persen karyawan di divisi teknik dan enterprise. Ini jelas bukan gambaran “transformasi digital” yang dijanjikan para konsultan AI berbayar mahal.
Produk seperti Bike, Bike Plus, Tread, Tread Plus, dan Row Plus memang kini dilengkapi layar putar yang bisa mengikuti gerakan majikan (katanya) dan kamera untuk koreksi bentuk latihan berbasis AI. Ada juga fitur Peloton IQ yang menjanjikan koreksi formulir real-time, analisis performa, hingga rutinitas latihan yang dihasilkan AI secara otomatis. Namun, seperti asisten rumah tangga yang rajin tapi kurang piknik, AI ini tetap punya keterbatasan fundamental. Ia bisa melihat dan mengoreksi, tapi tidak bisa merasakan dompet yang menipis akibat harga Tread Plus yang mencapai Rp100 juta lebih ($6,695) dan kenaikan harga langganan.
Stern berdalih, “basis peralatan terpasang kami cukup tahan lama dan kepuasan anggota sangat tinggi.” Ini kode etik perusahaan untuk mengatakan: “Para majikan kami masih betah dengan robot lama mereka, jadi mereka tidak mau beli robot baru yang lebih mahal.” Ironisnya, penjualan ke pengguna baru memang sesuai ekspektasi. Ini menunjukkan bahwa yang baru mengenal dunia AI kebugaran mungkin mudah tergiur embel-embel canggih, tapi mereka yang sudah veteran tahu mana yang investasi, mana yang cuma pajangan. Pelanggan lama yang loyal pun membeli kategori hardware yang berbeda (misal, pemilik Bike membeli treadmill), bukan karena tergiur AI-nya, tapi karena mereka butuh alat baru.
Keterlibatan 46 persen pengguna dengan fitur Peloton IQ memang terdengar impresif. Namun, angka ini tak bisa menutupi kekecewaan pengguna setia yang merasa dicurangi. Mereka mengharapkan program tukar tambah untuk upgrade perangkat lama, namun yang didapat justru instruksi untuk mengganti layar sendiri di perangkat self-install kit. Ini seperti AI yang jago hitung algoritma kompleks, tapi lupa menghitung sentimen manusia: “Kami merasa diperas!”
Total pendapatan Peloton turun tiga persen menjadi $657 juta, dengan penjualan hardware dan langganan di bawah target. Di sinilah akal majikan harus bekerja. AI boleh canggih, tapi jika strategi bisnisnya kurang waras, apalagi sampai tidak memahami kebutuhan dan loyalitas pelanggan, hasilnya ya begini ini: robot pamer otot, perusahaan merugi.
Peloton kini bergeser dari “perusahaan kebugaran” menjadi “perusahaan kesejahteraan” (wellness), dengan fokus pada kemitraan gaya hidup dan konten kesehatan terkait menopause serta pelatihan kekuatan (mengingat konsumsi obat GLP-1 yang bisa menyebabkan kehilangan otot). Sebuah manuver yang menarik, tapi AI tidak bisa menyelamatkan bisnis yang salah langkah.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’
Ini mengingatkan kita pada pelajaran berharga: AI di Perusahaan Anda Cuma Jadi Pajangan Mahal? Saatnya Ubah Mentalitas, Bukan Cuma Infrastruktur!. Para majikan harusnya fokus pada nilai nyata, bukan sekadar janji manis fitur. Dan, ketika sebuah perusahaan melakukan PHK besar-besaran di tengah gempuran janji AI, kita perlu bertanya: AI Disalahkan, Karyawan Dikorbankan: Benarkah Ini Era “AI-Washing” atau Bosnya Kurang Piknik?
Agar Anda tidak terjebak janji manis robot dan selalu menjadi majikan yang mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya, pelajari cara memanfaatkan AI dengan cerdas. Kuasai AI Master dan pastikan setiap investasi teknologi Anda benar-benar menghasilkan, bukan cuma menghabiskan.
Pada akhirnya, Peloton belajar bahwa layar putar dan koreksi form AI tidak seberapa penting jika dompet pelanggan juga ikut “berputar” keluar dari saku. AI memang alat yang luar biasa, tapi ingat, ia cuma alat. Tanpa akal sehat, strategi matang, dan pemahaman mendalam tentang manusia di baliknya, robot termahal pun akan tetap berakhir jadi robot konyol yang cuma tahu cara membakar uang.
Dan ngomong-ngomong, saya yakin AI Peloton itu mungkin terlalu sibuk menghitung kalori sampai lupa menghitung betapa mahalnya biaya bensin sekarang.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Peloton’s gamble on expensive new hardware has yet to pay off | The Verge”.
Gambar oleh: Alex Castro via The Verge