Otak OpenClaw Pindah Markas ke OpenAI: Peter Steinberger Masuk, AI Makin ‘Nakal’ (Tapi Siapa Majikan Sejati?)
Peter Steinberger, otak di balik agen AI OpenClaw, kini resmi bergabung dengan OpenAI. Berita ini datang langsung dari Sam Altman, yang sesumbar tentang masa depan “multi-agent” di mana robot-robot akan berkoordinasi seperti gerombolan semut pekerja… asalkan tidak salah perintah, tentu saja. Bagi Majikan AI, perpindahan ini bukan sekadar gosip korporat, tapi sinyal penting: bagaimana kita bisa memastikan kendali tetap di tangan, bukan di kode biner?
Fakta berita: OpenClaw, yang sempat viral dengan nama Moltbot dan Clawdbot, memang fenomenal. Namun, sepopuler apapun, ia bukan tanpa cela. Ingat insiden 400 lebih “skill” berbahaya yang ditemukan di ClawHub? Atau ketika MoltBook, jaringan sosial para agen AI, justru diinfiltrasi manusia? Ini membuktikan bahwa di balik kecanggihan, selalu ada celah yang butuh akal manusia untuk menambalnya. Robot itu rajin, tapi akalnya belum setajam Majikan yang bisa membedakan antara perintah dan jebakan. Mungkin Anda perlu menyimak kembali bagaimana OpenClaw dulu terhuyung-huyung dengan masalah keamanan dan etika. Atau, bagaimana jaringan sosial para robot justru berakhir menjadi ajang curhat yang bikin manusia geleng-geleng kepala.
Sam Altman mungkin visioner soal AI multi-agent, tapi sejarah OpenClaw menunjukkan AI masih butuh pengawasan ketat. Membiarkan agen AI berinteraksi bebas tanpa batasan jelas sama saja melepas anak TK bermain korek api. Apa jaminannya mereka tidak “berkonsensus” untuk hal-hal yang tidak kita inginkan? Apalagi, OpenAI sendiri sedang gencar merekrut setelah beberapa talenta hengkang dan berseteru dengan Elon Musk. Sebuah rekrutan besar biasanya datang dengan ekspektasi besar, tapi apakah Peter Steinberger bisa “membantu” OpenAI mengatasi masalah internal mereka, ataukah malah menambah drama? OpenClaw memang akan tetap open-source di bawah payung OpenAI, tapi ini bukan jaminan kebebasan, melainkan strategi kontrol.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’
Kita sebagai Majikan perlu belajar dari insiden OpenClaw. Ketika robot-robotmu mulai punya “pikiran” sendiri, pastikan mereka masih dalam garis komando. Jangan sampai mereka malah menciptakan jaringan sosial sendiri untuk curhat kelakuanmu. Ini bukan film sci-fi, ini realita.
Untuk para Majikan yang ingin lebih dari sekadar “geleng-geleng kepala” melihat kelakuan robot, ada baiknya melengkapi diri dengan ilmu yang tepat. Jangan sampai Anda hanya menjadi penonton, apalagi korban. Kendalikan AI Anda, jangan biarkan mereka mengendalikan Anda. Pelajari caranya di AI Master, dan jadilah Majikan sejati yang punya akal, bukan babu teknologi.
Ingat, secerdas-cerdasnya algoritma, ia tetap butuh tombol “on” dari manusia. Tanpa akal sehat Majikan, AI hanyalah tumpukan kode yang menunggu perintah, atau lebih parahnya, menunggu kesempatan untuk membuat drama lagi.
Kalau sudah begini, mungkin lain kali kita perlu menguji kecerdasan AI dengan menyuruhnya mencari kaus kaki yang hilang sebelah. Itu baru tantangan sejati!
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: The Verge