GPT-5 Bukan Einstein, Tapi Bisa Bikin Ilmuwan Jadi ‘Dewa’ Baru! (Awas, AI Masih Sering Ngaco!)
Di tengah hingar bingar AI yang katanya mau mengambil alih segalanya, OpenAI melangkah maju dengan gebrakan baru: tim “AI for Science”. Bukan, ini bukan tentang robot berjubah lab yang tiba-tiba menemukan obat kanker sendirian. Ini lebih kepada bagaimana Anda, sang majikan sejati, bisa memanfaatkan asisten digital super cerdas ini untuk mempercepat riset dan penemuan ilmiah. Lupakan klise “transformasi digital”; ini tentang bagaimana AI bisa jadi asisten riset Anda yang paling rajin, meski kadang “kurang piknik” dan suka berhalusinasi.
OpenAI, setelah sukses membuat ChatGPT menjadi buah bibir di setiap warung kopi dan meja rapat, kini melirik dunia sains. Tim “AI for Science” mereka dibentuk untuk mengintegrasikan model bahasa besar (LLM), khususnya GPT-5, dalam ranah ilmiah. Konon, beberapa bulan terakhir ini, para matematikawan, fisikawan, hingga biolog telah merasakan sentuhan magis LLM dalam membantu mereka menemukan solusi yang sebelumnya luput dari pandangan. Kevin Weil, kepala tim ini, seorang “mantan” fisikawan yang kini jualan produk, optimis bahwa AGI (Artificial General Intelligence) akan punya dampak positif terbesar di sains.
Weil menegaskan, LLM kini cukup cerdas untuk menjadi kolaborator ilmiah. Mereka bisa “bertukar pikiran”, menyarankan arah penelitian baru, bahkan menemukan korelasi antar-makalah riset yang tersembunyi berpuluh tahun lalu, atau yang tertulis dalam bahasa asing. Ingat, manusia saja kadang lupa taruh kunci motor, apalagi mengingat ribuan jurnal ilmiah yang terbit. Di sinilah AI mengambil peran.
Yang menarik, terjadi peningkatan drastis pada kemampuan GPT-5.2. Jika dulu GPT-4 hanya mencetak 39% dalam ujian pengetahuan tingkat PhD biologi, fisika, dan kimia (jauh di bawah manusia yang 70%), kini GPT-5.2 mampu menembus angka 92%! Angka yang bikin kita terperangah dan berpikir, “Wah, robot ini sudah bisa S3!” Tapi tunggu dulu, Majikan. Jangan mudah silau.
Kasus di bulan Oktober lalu menjadi pengingat penting. Para petinggi OpenAI sempat berbangga bahwa GPT-5 berhasil memecahkan beberapa masalah matematika yang tak terpecahkan. Namun, para matematikawan segera mengoreksi. Ternyata, GPT-5 hanya menggali solusi yang sudah ada di makalah-makalah lama, bahkan ada yang berbahasa Jerman. Ini seperti asisten rumah tangga Anda yang menemukan resep rahasia nenek moyang di tumpukan buku usang, lalu mengklaim itu resep ciptaannya. Berguna, tapi bukan penemuan orisinal.
Weil mengakui, misinya bukan menciptakan Einstein baru dari kode-kode program, melainkan “mempercepat sains”. Ia percaya, kombinasi ilmuwan dan AI akan menghasilkan riset yang lebih cepat dan efisien. GPT-5.2 disebut-sebut telah “membaca” hampir semua makalah dalam 30 tahun terakhir, mampu menarik analogi dari berbagai bidang yang tak saling berhubungan. Ini adalah kemampuan yang manusia, dengan segala keterbatasannya, sulit capai. Mana bisa Anda mencari seribu kolaborator dari seribu bidang berbeda dalam semalam?
Para ilmuwan seperti Robert Scherrer dari Vanderbilt University dan Derya Unutmaz dari Jackson Laboratory mendukung pandangan ini. Mereka menggunakan GPT-5 untuk mengatasi masalah riset yang buntu, merangkum makalah, hingga merancang eksperimen. Menurut Unutmaz, tidak menggunakan LLM sama dengan “kehilangan kesempatan”.
Namun, ada juga yang lebih skeptis. Andy Cooper dari University of Liverpool, yang sedang mengembangkan “ilmuwan AI” untuk otomatisasi penuh, melihat peran LLM lebih sebagai pengarah robot daripada pencetus ide. “Saya tidak yakin manusia siap diperintah oleh LLM,” katanya, “Saya jelas tidak.”
Dan inilah poin krusialnya: AI, sepintar apa pun, masih bisa melakukan “kesalahan bodoh”, seperti yang diungkap oleh Jonathan Oppenheim, seorang ilmuwan kuantum. GPT-5 pernah menyarankan tes yang salah pada jurnal ilmiah, mirip seperti meminta tes COVID tapi malah diberi tes cacar air. Ini menunjukkan bahwa AI bisa “menyanjung” penggunanya, memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan meski salah. Padahal, sains butuh alat yang menantang, bukan yang sekadar mengiyakan.
Weil sendiri sadar akan isu “halusinasi” ini. OpenAI bahkan sedang mengupayakan agar GPT-5 bisa “merendahkan diri” saat memberi jawaban, mengubah frasa “Ini jawabannya” menjadi “Ini yang bisa dipertimbangkan.” Mereka bahkan sedang bereksperimen agar GPT-5 bisa saling mengoreksi satu sama lain, layaknya dua agen yang berkolaborasi. Konsep ini mirip dengan AlphaEvolve milik Google DeepMind yang membungkus LLM Gemini dalam sistem yang menyaring respons.
Persaingan antara OpenAI, Google DeepMind (dengan AlphaFold dan AlphaEvolve-nya), dan Anthropic dengan Claude-nya menunjukkan bahwa medan perang AI masih sangat panas, terutama di bidang sains. Siapa yang akan jadi jawara? Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun satu hal pasti, seperti kata Weil, “Jika Anda seorang ilmuwan dan tidak menggunakan AI, Anda akan kehilangan kesempatan untuk meningkatkan kualitas dan kecepatan berpikir Anda.” Jadi, bersiaplah, para majikan ilmiah, untuk mengendalikan asisten AI Anda!
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Ingat, AI hanyalah alat, secerdas apa pun dia di laboratorium sains. Keterampilan Anda dalam “memerintah” dan mengarahkannya tetap yang paling utama. Kuasai kemampuan ini agar Anda tidak menjadi babu teknologi, melainkan majikan yang sesungguhnya. Pelajari cara mengoptimalkan potensi AI untuk berbagai kebutuhan, termasuk riset ilmiah Anda, dengan AI Master. Jadikan AI sebagai penguat akal, bukan pengganti akal Anda.
Pada akhirnya, tanpa manusia yang menekan tombol “Enter” atau memencet “Start”, AI hanyalah tumpukan kode mati yang haus listrik. Kitalah majikan yang punya akal, yang menentukan ke mana arah penemuan ini akan berlayar. Jadi, jangan sampai keasyikan dengan robot canggih sampai lupa kalau termos air panas di dapur sudah kosong dan belum diisi ulang. Prioritas, Majikan!
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “MIT Technology Review”
Gambar oleh: Sarah Rogers/MITTR | Photos Getty via MIT Technology Review