AI MobileEtika MesinKonflik RaksasaSidang BotSoftware SaaSUpdate Algoritma

Sora OpenAI Jatuh Terjungkal: Dari Puncak App Store ke Dasar Jurang, Salah Siapa?

Ingat hebohnya aplikasi Sora dari OpenAI beberapa waktu lalu? Aplikasi pembuat video AI yang katanya bakal jadi “TikTok-nya AI” ini sempat merajai App Store dan mencatat rekor satu juta unduhan lebih cepat dari ChatGPT. Para majikan teknologi sempat menduga, inilah masa depan konten visual. Tapi, seperti kata pepatah, “semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya.” Data terbaru menunjukkan bahwa Sora kini sedang terjerembap, dan ini adalah pelajaran berharga bagi kita para majikan sejati: hype AI bisa secepat kilat hilang jika tidak ada sentuhan akal manusia yang kokoh.

Kini, laporan dari penyedia intelijen pasar Appfigures mengungkapkan fakta yang pahit. Unduhan aplikasi Sora anjlok 32% di bulan Desember, dan di Januari 2026, penurunannya makin parah, mencapai 45% dari bulan sebelumnya, hanya menyisakan 1,2 juta unduhan. Tidak hanya itu, pengeluaran konsumen di aplikasi ini juga terjun bebas 32% di Januari, dari puncaknya $540.000 menjadi $367.000. Total unduhan yang mencapai 9,6 juta dan pengeluaran $1,4 juta memang tidak bisa dibilang kecil, namun penurunan drastis ini mengindikasikan sesuatu yang salah.

Di App Store AS, Sora sudah terdepak dari daftar Top 100 aplikasi gratis, kini terdampar di posisi 101. Di kategori Foto & Video, posisinya masih lumayan di nomor 7, tapi di Google Play AS, lebih menyedihkan lagi, di posisi 181. Pertanyaannya, ada apa dengan AI yang tadinya begitu diagungkan ini?

Pertama, Persaingan Sengit Bak Perang Bintang.

Dunia AI itu kejam, bung. Saat satu robot mulai sombong, robot lain sudah siap menyalip. Google dengan Gemini-nya, terutama model Nano Banana, terbukti menjadi kompetitor yang sangat tangguh. Tak ketinggalan Meta AI dengan fitur Vibes videonya, juga turut meramaikan pasar. Ini membuktikan bahwa teknologi secanggih apapun, tanpa strategi pasar yang jitu dan kemampuan beradaptasi, bisa dengan mudah dilewati. Para majikan harus jeli melihat dinamika pasar, bukan cuma terkesima dengan teknologi mentah.

Kedua, Drama Hak Cipta dan Etika yang Bikin Geleng-Geleng Kepala.

Awalnya, OpenAI cukup “santai” soal hak cipta. Pengguna bisa membuat video AI dengan karakter populer seperti SpongeBob atau Pikachu, yang tentu saja memicu ledakan adopsi. Namun, Hollywood dan berbagai agensi tidak tinggal diam. Mereka menuntut Sora untuk mengubah modelnya dari “opt-out” (secara default semua IP bisa dipakai kecuali yang meminta untuk tidak) menjadi “opt-in” (hanya IP yang diizinkan yang bisa dipakai). Kasus Sora ini mirip dengan fenomena Grok AI Bikin Deepfake Mesum, X Disidang Eropa: Kapan Robot Belajar Sopan Santun, Elon? yang juga bikin geger.

Meskipun OpenAI akhirnya menjalin kesepakatan dengan Disney untuk memungkinkan penggunaan karakter-karakternya, hal ini tidak banyak mendongkrak unduhan maupun pengeluaran. Apalagi, sempat muncul video-video “kurang piknik” yang dibuat pengguna dengan karakter Disney. Ini jelas menunjukkan bahwa AI, secerdas apapun, masih butuh bimbingan etika dari manusia. Tanpa akal sehat majikan, robot bisa kebablasan. Pembatasan ini seolah menegaskan bahwa ada batas-batas kreatif yang harus dihormati, seperti yang juga pernah dibahas dalam artikel kami tentang Comic-Con: Robot Dilarang Masuk! Ketika Manusia Menarik Garis Merah di Lautan AI Art.

Singkatnya, tanpa “wajah familiar” dan dengan batasan IP yang ketat, ketertarikan publik pada Sora memudar. Ini adalah pengingat penting: AI hanyalah alat, bukan seniman sejati yang punya hati dan nurani.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Berita.

Untuk Anda para majikan yang tak mau hasil karyanya tenggelam di lautan AI yang kadang “halu,” menguasai visual AI adalah harga mati. Belajar cara memanipulasi AI untuk hasil yang maksimal dan sesuai ekspektasi Anda bisa dimulai dengan panduan komprehensif dari Belajar AI | Visual AI. Atau, jika Anda ingin menghasilkan konten profesional, berkualitas tinggi, dan punya identitas yang “nggak robot banget” tanpa harus jadi babu algoritma yang loyo, Creative AI Pro bisa jadi senjata andalan Anda.

Pada akhirnya, kisah Sora ini menjadi bukti nyata. Hype boleh besar, teknologi boleh canggih, tapi tanpa akal sehat, etika, dan sentuhan strategis dari manusia, AI hanyalah tumpukan kode yang menunggu untuk jatuh terguling. Kaulah majikan yang punya akal, jangan biarkan robot menguasai pikiran dan dompetmu.

Coba deh cek ke bawah kolong meja, jangan-jangan ada remah keripik yang nyangkut. Sayang kalau dibiarkan.

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “OpenAI's Sora app is struggling after its stellar launch”.
Gambar oleh: Robert Way / Getty Images via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *