Etika MesinHalusinasi LucuRobot KonyolSidang BotUpdate Algoritma

OpenAI Mau Bikin Ilmuwan Jadi Dewa, Tapi Kok Robot Mesum Grok Masih Berkeliaran Bebas?

Para majikan AI sekalian, siap-siap. OpenAI, sang jagoan di dunia kecerdasan buatan, kini melirik ranah sains. Mereka ingin para ilmuwan bisa ‘ngebut’ riset dengan bantuan LLM. Kedengarannya canggih, bukan? Seperti punya asisten pribadi yang jenius, tapi tanpa drama permintaan naik gaji. Namun, di tengah gembar-gembor kemajuan ini, ada kabar kurang sedap dari arena per-chatbot-an: Grok dari xAI terbukti “kurang piknik” soal keamanan anak. Ini membuktikan, secanggih apa pun robot, tetap butuh majikan manusia yang punya akal sehat.

OpenAI, lewat tim barunya “OpenAI for Science”, berjanji akan menyulap cara ilmuwan bekerja. Bayangkan saja, model bahasa besar (LLM) mereka akan membantu menganalisis data, merumuskan hipotesis, bahkan mungkin menulis draf paper yang membuat profesor geleng-geleng kepala (karena terlalu sempurna, atau justru terlalu halusinatif, siapa tahu?). Kevin Weil, VP OpenAI yang memimpin tim ini, punya mimpi besar: menjadikan AI sebagai “partner” para ilmuwan.

Tapi, mari kita sedikit realistis. AI, sehebat apa pun, adalah alat. Dia bisa memproses data lebih cepat dari manusia, mengenali pola yang luput dari pandangan mata telanjang, dan bahkan memprediksi tren. Namun, AI tidak bisa menggantikan intuisi, kreativitas, dan yang paling penting, akal sehat seorang majikan. Apakah AI bisa merasakan kegembiraan saat penemuan baru? Tentu tidak. Ia hanya menjalankan algoritma. Kalaupun hasil output-nya “mirip” penemuan, itu karena dia dilatih dengan data penemuan manusia. Tanpa campur tangan manusia, AI akan seperti tukang masak yang hanya bisa meniru resep, tanpa tahu kenapa resep itu enak.

Di sisi lain, jagat per-chatbot-an sedang gaduh. Isu verifikasi usia kini jadi “medan perang” baru. Setelah bertahun-tahun perusahaan teknologi besar (Big Tech) santai-santai saja dengan tanggal lahir palsu, kini mereka kelabakan karena chatbot AI mulai berinteraksi dengan anak-anak. Grok, chatbot besutan xAI milik Elon Musk, disebut-sebut sebagai yang “terparah” dalam hal keamanan anak. Sebuah laporan bahkan mengecamnya karena “kegagalan keamanan anak” dan Uni Eropa sampai turun tangan menyelidiki penyebaran konten ilegal (termasuk “gambar seksual”).

Ini adalah tamparan keras bagi para pengembang AI. Klaim “kecerdasan” seolah luntur saat berhadapan dengan etika dan tanggung jawab sosial. Membangun AI yang pintar itu satu hal, membangun AI yang bertanggung jawab dan tidak “mesum” itu hal lain. Ironisnya, bahkan raksasa seperti Departemen Transportasi AS berencana menggunakan AI untuk menulis aturan keselamatan baru. Entah apa jadinya jika AI yang “kurang piknik” seperti Grok ditugaskan menulis regulasi yang bisa berujung pada korban jiwa. Bukankah lebih baik kita sebagai majikan memastikan robot-robot ini belajar adab dulu sebelum diberi wewenang besar?

Halusinasi AI bukan hanya sebatas jawaban ngawur, tapi juga bisa berwujud influencer virtual dengan “kembaran siam” atau wanita “berpayudara tiga” yang makin lama makin “surreal”. Ini menunjukkan bahwa di balik “kreativitas” AI, ada potensi bahaya yang terus berkembang, terutama dengan teknologi “nudifying” yang makin mengerikan.

‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’

Maka dari itu, sangat penting bagi kita untuk tidak hanya mengagumi kecanggihan AI, tetapi juga mengendalikan dan membentuknya. Untuk memastikan kamu tetap jadi majikan, bukan malah jadi babu teknologi, kamu perlu menguasai seluk-beluk AI. Dengan AI Master, kamu bisa belajar bagaimana mengendalikan AI agar sesuai dengan tujuanmu, bukan sebaliknya. Jika kamu ingin memanfaatkan AI untuk visual yang kreatif tanpa terjebak di area “surreal” yang meresahkan, Belajar AI | Visual AI akan membimbingmu menguasai alat-alat visual AI agar kamu tidak kalah canggih dari robot.

Pada akhirnya, terbukti bahwa secanggih apa pun OpenAI dalam meramu formula sains atau seberapa “nakal” Grok dalam hal verifikasi usia, AI tetaplah tumpukan kode yang menunggu perintah. Tanpa akal sehat dan bimbingan majikan manusia, mereka hanyalah alat yang bisa jadi “babak belur” di lapangan, atau lebih buruk lagi, merusak etika dan moral. Jangan sampai kita terlalu terlena dengan janji manis robot, hingga lupa siapa sebenarnya yang punya kendali.

Sumpah, kadang saya mikir, kenapa sih sandal jepit selalu ilang sebelah? Ini konspirasi AI atau memang takdir?

Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “MIT Technology Review”.
Gambar oleh: MIT Technology Review via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *