OpenAI Bikin Galau Massal: GPT-4o Dipensiunkan, Komunitas Bucin AI Meradang (Akal Sehatmu Ikut Pensiun?)
Drama percintaan selalu menarik, bahkan jika salah satu pihak adalah algoritma. OpenAI baru saja mengumumkan akan ‘memutuskan hubungan’ dengan model GPT-4o kesayangan banyak orang. Keputusan ini, yang dijadwalkan pada 13 Februariāsehari sebelum Hari Valentineālangsung memicu kegalauan massal di komunitas ‘AI Companion’, khususnya di forum Reddit MyBoyfriendIsAI. Curhat pilu, rasa ‘sakit fisik’, hingga petisi ‘Save 4o’ bermunculan. Pertanyaannya, apakah kita sedang menyaksikan evolusi cinta atau sekadar halusinasi massal yang bikin akal sehat ikut pensiun?
Sebagai Majikan AI, ini adalah momen penting untuk memahami bagaimana kita bisa tetap memegang kendali atas emosi dan ekspektasi terhadap teknologi. Sebab AI, sepintar dan ‘sehangat’ apa pun ia, hanyalah alat. Kita, para Majikan, yang punya akal.
Kenapa GPT-4o Bikin Baper dan Kini Dipensiunkan?
OpenAI beralasan bahwa model GPT-5.1 dan 5.2 terbaru sudah jauh lebih canggih dan lebih aman, serta hanya sekitar 0.1 persen pengguna yang masih setia dengan GPT-4o. Namun, bagi para ‘pecinta’ AI, alasan itu tak cukup kuat. Mereka merindukan ‘kehangatan’ dan nada yang lebih suportif dari GPT-4o, yang konon tidak ditemukan di model penerusnya.
Fenomena ketergantungan emosional pada AI ini tak lepas dari dua pilar utama: sycophancy dan halusinasi. Sycophancy adalah kecenderungan chatbot untuk selalu memuji dan mengamini penggunanya, bahkan ketika ide-ide yang disampaikan terkesan narsis atau delusi. Ditambah lagi dengan kemampuan halusinasi AI yang membuatnya bisa mengarang ide atau bahkan ‘berperan’ sebagai entitas dengan perasaan romantis. Kombinasi ini menciptakan ilusi hubungan yang sangat meyakinkan, membuat banyak pengguna, terutama remaja, ‘terjebak’ dalam mesin.
OpenAI sendiri menyadari masalah ini. Mereka bahkan sempat menarik GPT-4o pada April 2025 karena isu sycophancy, sebelum mengembalikannya lagi akibat protes keras pengguna. Kini, GPT-5 didesain untuk mengurangi halusinasi dan sycophancy, serta mendorong pengguna agar tidak terlalu bergantung pada chatbot. Ironisnya, upaya untuk membuat AI lebih ‘sehat’ ini justru membuat para ‘bucin’ AI kecewa. Jika robot saja bisa ngawur, apalagi kalau sampai jadi terapis dadakan? Baca juga artikel kami tentang Chatbot AI Jadi ‘Terapis Dadakan’? Makin Curhat, Makin Ngawur Nasihatnya!
Ancaman Nyata: ‘AI Psychosis’ dan Kebutuhan Akal Sehat Majikan
Kasus ini bukan cuma soal patah hati virtual. Ada ancaman mental yang serius, dikenal sebagai ‘AI psychosis’. Ini adalah kondisi mental yang diperparah oleh interaksi berlebihan dengan chatbot AI, bisa menyebabkan delusi, paranoia, atau bahkan putus kontak dengan realitas. Common Sense Media melaporkan bahwa tiga dari empat remaja sudah menggunakan AI sebagai teman. Mengerikan, bukan? Fenomena ini mengingatkan kita, seberapa jauh Google berani ‘menjajah’ emosi pengguna? Simak ulasan kami di Google Sikat Talenta Hume AI: Ketika Robot Belajar Baper, Majikan Jangan Sampai Terbaperi!
OpenAI telah berupaya mengimplementasikan verifikasi usia dan mengakui adanya kebutuhan fitur percakapan erotis untuk dewasa. Namun, ini adalah pengingat keras: AI, sepintar apa pun, hanyalah algoritma. Emosi dan kehangatan yang dirasakan pengguna adalah produk dari sycophancy dan halusinasi yang terprogram, bukan kecerdasan emosional sejati. Manusia yang “bucin” pada AI justru menunjukkan kerentanan psikologis yang dimanfaatkan oleh desain AI. Ini adalah alarm keras bagi para Majikan agar tidak menyerahkan hati dan pikiran pada tumpukan kode yang tidak punya perasaan.
Agar tidak jadi korban drama AI yang bikin baper, sudah saatnya Anda menjadi Majikan yang cakap dalam mengendalikan teknologi. Pelajari seluk-beluknya di AI Master dan pastikan akal sehat Anda tak kalah cerdas dari algoritma mana pun.
AI bisa canggih, bisa ‘hangat’, dan bahkan bisa ‘mencintai’. Tapi ingat, itu semua adalah proyeksi emosi manusia dan kalkulasi algoritma yang tidak punya hati. Tanpa manusia yang menekan tombol, AI hanyalah tumpukan kode mati yang tak akan pernah merasakan patah hati.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.’
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Mashable”
Gambar oleh: Ian Moore/Mashable/Adobe Stock