ChatGPT Mau Pasang Iklan Mahal: Robot Cerdas atau Cuma Jadi Salesman Lapar Cuan?
Para Majikan AI sekalian, bersiaplah! Setelah bertahun-tahun menjadi asisten cerdas tanpa pamrih (setidaknya secara langsung), ChatGPT kini berambisi menjadi papan reklame digital. Kabarnya, OpenAI sedang sibuk menghitung berapa harga yang pantas untuk menempelkan iklan di chatbot kesayangan kita. Tapi, bagaimana kita, para majikan sejati, bisa memanfaatkan manuver ini, atau setidaknya tidak terjerat dalam bujuk rayu robot yang mulai jualan?
Fakta beritanya, OpenAI kabarnya akan mematok harga fantastis: sekitar $60 per 1.000 tayangan. Angka ini tiga kali lipat lebih mahal dari platform iklan raksasa seperti Meta. Bayangkan, asisten pribadi Anda, yang biasanya membantu mengerjakan tugas-tugas kompleks, kini tiba-tiba membebankan tarif setinggi itu untuk sekadar melihat logo produk. Ini bukan sekadar kecerdasan buatan; ini kecerdasan mencari duit cuan.
Yang lebih “lucu” lagi, dengan harga semahal itu, OpenAI dilaporkan hanya akan memberikan data “tingkat tinggi” kepada para pengiklan. Maksudnya, mereka cuma tahu berapa kali iklan dilihat atau diklik. Tidak ada detail mendalam seperti apakah pengguna sampai membeli produk setelah melihat iklan, layaknya yang ditawarkan Google atau Meta. Ini seperti Anda membayar mahal seorang agen pemasaran yang hanya melaporkan, “Bos, iklan Anda banyak dilihat orang!” Tanpa ada data konversi, itu cuma omong kosong belaka. AI ini masih perlu banyak sekolah untuk belajar analisis bisnis yang sebenarnya; mereka bisa cerdas membuat teks, tapi soal memahami niat di balik klik, terkadang kinerja mereka masih lemah di lapangan. Bahkan, tak jarang hasil kerja mereka bisa bikin kita geleng-geleng kepala saking ‘ngawurnya’.
Di satu sisi, OpenAI berjanji tidak akan pernah menjual data pengguna atau mengintip percakapan pribadi. Ini adalah poin plus bagi privasi kita sebagai majikan, sebuah “kemewahan” yang jarang ditemukan di era digital ini. Iklan rencananya akan mulai muncul di layanan gratis dan paket Go (kecuali untuk pengguna di bawah 18 tahun atau topik sensitif seperti kesehatan mental dan politik). Tapi, janji privasi ini datang dengan harga yang harus dibayar mahal oleh para pengiklan, dan kita sebagai pengguna akan mulai melihat lebih banyak “rekomendasi” dari AI kita. Seolah-olah AI kita mulai terpengaruh tetangga sebelah yang suka nitip jualan.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Jadi, jika Anda ingin AI Anda bekerja lebih dari sekadar tukang tempel iklan mahal tanpa hasil jelas, saatnya tingkatkan kemampuan Anda. Kuasai strategi marketing AI yang “nggak robot banget” agar konten Anda menonjol, dan pastikan Anda menjadi AI Master sejati, bukan cuma penonton pasif.
Ingat, sehebat apapun AI belajar beriklan dan jualan, tanpa akal sehat dan strategi cerdas dari Anda, ia hanyalah deretan kode yang mencoba mencari cuan. Kaulah majikan yang punya akal, bukan robotmu.
Ngomong-ngomong, tadi pagi AI saya menyarankan saya untuk memakai kaus kaki belang-belang dengan sandal jepit. Katanya itu tren di tahun 2026. Mungkin iklan di ChatGPT nanti juga akan sekonyol itu.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.
Gambar oleh: Illustration: The Verge via The Verge