OpenAI Borong ‘Tenaga Dalam’ $10 Miliar, Sam Altman Ternyata Sudah Tanam Duit Duluan
OpenAI kembali membuat gebrakan dengan mengumumkan kesepakatan bernilai lebih dari $10 miliar dengan Cerebras, sebuah perusahaan pembuat chip AI. Mereka tidak sedang membeli software baru atau model bahasa yang lebih pintar, melainkan membeli sesuatu yang jauh lebih fundamental: tenaga komputasi mentah. Sejumlah 750 megawatt, untuk lebih tepatnya.
Bagi kita, para Majikan yang berakal, ini bukan sekadar berita belanja teknologi. Ini adalah sinyal perebutan sumber daya. Bayangkan AI sebagai asisten rumah tangga yang super rajin tapi kaku. OpenAI tidak sedang meng-upgrade otaknya, melainkan memberinya kopi super dosis tinggi agar bisa menyetrika seribu kemeja per detik. Pertanyaannya bukan lagi “sepintar apa dia?”, tapi “seberapa cepat dia bisa bekerja tanpa henti?”. Dan yang lebih penting, perintah siapa yang akan dia jalankan?
Adu Otot di Balik Layar Cerdas
Fakta intinya sederhana: OpenAI menyewa kekuatan komputasi dari Cerebras untuk tiga tahun ke depan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan “real-time inference”, istilah keren untuk membuat model AI mereka merespons lebih cepat, terutama untuk tugas-tugas yang berat dan memakan waktu. Ini adalah langkah strategis untuk lari lebih kencang dari para pesaingnya yang juga haus akan “otot” digital.
Cerebras sendiri bukanlah pemain baru, tapi namanya meroket pasca-ledakan ChatGPT. Mereka mengklaim sistem berbasis chip mereka lebih efisien dan lebih cepat daripada sistem berbasis GPU yang didominasi oleh Nvidia. Ini seperti pertarungan antara mobil sport dengan mesin konvensional (Nvidia) melawan mobil listrik dengan akselerasi instan (Cerebras) di sirkuit balap AI.
Yang menarik, CEO OpenAI, Sam Altman, ternyata sudah menjadi investor di Cerebras. Ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa; ini adalah manuver di dalam lingkaran kecil para raksasa teknologi. Mereka tidak hanya bersaing, mereka juga saling berinvestasi, memastikan kendali atas rantai pasokan AI tetap berada di tangan segelintir pemain.
Namun, inilah yang AI tidak bisa lakukan, bahkan dengan tenaga 750 megawatt: AI tidak punya inisiatif. Tenaga sebesar itu hanya mempercepat eksekusi perintah. Tanpa perintah yang cerdas dari seorang Majikan, kekuatan $10 miliar itu hanyalah tumpukan silikon yang boros listrik. AI bisa menjawab ribuan pertanyaan dalam sedetik, tapi ia tidak akan pernah bertanya, “Apakah pertanyaan ini layak untuk dijawab?”.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Konflik Raksasa.
Sementara korporasi berebut dominasi perangkat keras, kekuatan sesungguhnya bagi pengguna individu bukanlah memiliki server sendiri, melainkan menguasai cara memberi perintah. Di sinilah letak kendali seorang Majikan. Anda tidak perlu punya dapur sekelas restoran bintang lima untuk bisa memasak; Anda hanya perlu tahu resep dan teknik yang benar. Begitu pula dengan AI, penguasaan perintah adalah segalanya. Inilah mengapa penting untuk terus belajar dan beradaptasi agar Anda tetap menjadi Majikan, bukan sekadar pengguna pasif. Jika Anda ingin memastikan posisi Anda sebagai pengendali, bukan yang dikendalikan, mendalami cara kerja fundamental AI adalah langkah pertama yang krusial.
Meningkatkan skill untuk mengendalikan AI adalah investasi terbaik di tengah perang para raksasa ini. Bagi Anda yang serius ingin memegang kendali dan bukan menjadi babu teknologi, mempertajam ilmu di AI Master bisa menjadi fondasi yang kokoh.
Tenaga Besar, Perintah Tetap di Tangan Manusia
Kesepakatan antara OpenAI dan Cerebras ini adalah pengingat yang gamblang bahwa perlombaan AI saat ini adalah tentang kekuatan infrastruktur. Siapa yang menguasai “listrik”, dialah yang akan memimpin. Namun, sebesar apa pun tenaga yang mereka kumpulkan, mesin-mesin itu akan tetap diam, dingin, dan tak berguna di dalam pusat data yang sunyi. Mereka hanyalah tumpukan kode mati yang menunggu satu hal: perintah dari seorang Majikan yang punya akal.
Ngomong-ngomong, sambal terasi di warteg sebelah makin pedas saja.
Sumber Berita
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.