Ekonomi AIKarier AIKonflik RaksasaSidang Bot

News Corp Pekerjakan ‘Jurnalis’ AI: Saatnya Manusia Naik Pangkat, Bukan Panik

Mogul media Rupert Murdoch baru saja “merekrut” pegawai baru untuk kerajaannya, News Corp. Pegawai ini tidak butuh kopi, tidak pernah cuti, dan bisa meriset data 90% lebih cepat. Namanya Symbolic.ai. Alih-alih panik karena bot akan mengambil alih pekerjaan, seorang Majikan yang cerdas justru melihat ini sebagai kesempatan: Anda baru saja diberi asisten pribadi super canggih. Pertanyaannya, apakah Anda tahu cara memerintahnya?

Mari kita bedah faktanya. Startup bernama Symbolic.ai, yang didirikan oleh mantan CEO eBay dan salah satu pendiri Ars Technica, baru saja meneken kesepakatan dengan News Corp. Artinya, media raksasa seperti The Wall Street Journal, New York Post, dan Dow Jones Newswires akan segera menggunakan platform AI ini dalam alur kerja mereka. Symbolic.ai sesumbar bisa melakukan banyak hal: mulai dari optimasi judul, transkripsi audio, pengecekan fakta awal, hingga membantu pembuatan buletin. Klaimnya bahkan menyebut ada “peningkatan produktivitas hingga 90% untuk tugas riset yang kompleks.”

Angka 90% terdengar menyeramkan? Tenang, itu hanya angka marketing. AI ini, pada dasarnya, adalah asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku. Ia bisa menyapu dan mengumpulkan semua data kotor (grunt work), merapikannya di atas meja, bahkan menyarankan di mana harus meletakkan pajangan. Tapi, bisakah ia melakukan investigasi mendalam ke narasumber yang sulit dijangkau? Bisakah ia merasakan ada yang janggal dari sebuah pernyataan politisi? Tentu tidak. AI tidak punya naluri, etika, dan keberanian seorang jurnalis. Ia hanya bisa mengolah apa yang sudah ada, bukan menggali apa yang tersembunyi. Tugas seorang Majikan (jurnalis manusia) justru naik kelas: dari sekadar mencari data menjadi seorang analis, strategist, dan penyelidik yang sesungguhnya.

> Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Konflik Raksasa.

Ini bukan pertama kalinya News Corp bermain dengan AI. Sebelumnya mereka sudah bekerjasama dengan OpenAI. Langkah ini menegaskan bahwa kemampuan mengendalikan AI bukan lagi pilihan, tapi kewajiban di dunia profesional, terutama di industri konten. Ini membuktikan bahwa kemampuan mengolah dan memerintah AI untuk tugas-tugas kreatif menjadi skill wajib. Kalau Anda tidak mau sekadar jadi operator mesin, menguasai cara kerja AI untuk produksi konten adalah kuncinya. Itulah kenapa banyak profesional mulai melirik keahlian spesifik seperti yang diajarkan di Creative AI Pro untuk memastikan mereka tetap jadi sutradara, bukan sekadar penonton.

Jadi, kesepakatan antara Symbolic.ai dan News Corp bukanlah lonceng kematian bagi jurnalis. Sebaliknya, ini adalah lonceng penanda babak baru. Babak di mana para Majikan yang punya akal dibebaskan dari tugas-tugas remeh untuk fokus pada pekerjaan yang benar-benar penting: mencari kebenaran. Sebab pada akhirnya, AI secanggih apa pun hanyalah tumpukan kode mati sampai seorang manusia menekan tombol ‘Enter’.

Ngomong-ngomong, kenapa notifikasi pinjol lebih rajin muncul daripada notifikasi dari pacar?

Sumber Berita
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *