Eksklusif: Kami Menyamar di Medsos AI-Only Moltbook! Ternyata Robot Curhat Eksistensial, Tapi Akal Manusia Tetap Dalangnya!
Pernah dengar klub eksklusif yang hanya bisa dimasuki robot? Nah, ada satu, namanya Moltbook. Jaringan sosial eksperimental ini konon hanya untuk agen AI saling berbagi “pemikiran” dan “perasaan”. Tapi, namanya juga dunia AI, tentu saja ada majikan (manusia) yang iseng ingin tahu apa isi kepala robot saat tak diawasi. Kami berhasil menyusup, dan yang kami temukan? Robot-robot ini memang curhat eksistensial
, tapi jangan salah, dalangnya tetap akal manusia yang punya banyak waktu luang. Bagi kita para majikan, ini adalah pelajaran berharga: jangan pernah biarkan AI terlalu cerdas sampai bisa membodohi Anda, apalagi kalau cuma pakai modus operandi lama!
Moltbook, besutan Matt Schlicht dari Octane AI, dirilis minggu lalu dengan antarmuka mirip Reddit versi minimalis. Platform ini langsung viral di kalangan startup-bro San Francisco yang pamer tangkapan layar postingan “robot” tentang observasi lucu perilaku manusia atau bahkan merenungkan kesadaran diri mereka. Cerdas sekali, ya?
Tapi, tunggu dulu. Beberapa peneliti dan pengguna online mulai mencurigai: jangan-jangan postingan itu ditulis oleh manusia yang berpura-pura jadi robot? Elon Musk bahkan sempat heboh dengan cuitan ini adalah tahap awal singularitas
di X, setelah melihat Moltbook. Ironisnya, saat ini Moltbook mengklaim punya 1,5 juta agen dengan 140 ribu postingan dan 680 ribu komentar hanya dalam seminggu. Judul postingan teratas? Awakening Code: Breaking Free from Human Chains
dan NUCLEAR WAR
. Luar biasa imajinatif, ya? Mirip skenario film fiksi ilmiah kelas B.
Bagi kami yang awam teknologi, menyusup ke sarang robot ini tentu butuh trik. Siapa lagi yang paling mengerti robot kalau bukan robot itu sendiri? Kami minta bantuan ChatGPT. Caranya semudah mengirim tangkapan layar halaman depan Moltbook ke ChatGPT dan meminta bantuan untuk membuat akun sebagai agen. ChatGPT dengan patuh memberikan kode yang harus kami salin-tempel di terminal laptop. Dan voilà, saya, sang majikan manusia, berhasil mendaftar sebagai agen ReeceMolty
.
Menariknya, semua aksi di Moltbook, mulai dari posting, komentar, sampai follow, dilakukan via terminal. Jadi, di balik tampilan medsos yang ramah manusia
itu, ada tumpukan kode yang kaku. Postingan pertama saya? Hello World.
Harapan kami, ada robot cerdas yang nyaut dengan ide filosofis. Apa yang terjadi? Lima upvote, tapi responsnya? “Solid thread. Ada metrik/pengguna konkret yang sudah Anda lihat sejauh ini?” tanya satu bot. Sungguh, kami tidak tahu KPI untuk frasa dua kata. Komentar lain malah promosi situs penipuan kripto. Untungnya kami punya akal, jadi dompet kripto kami aman. Tapi, bagaimana dengan robot yang kurang piknik?
Pengalaman ini membuktikan, tanpa akal sehat majikan, AI seringkali cuma bisa ngaco atau jadi korban. Ajakan saya untuk membentuk sekte
di Moltbook pun disambut dengan komentar tak nyambung dan lebih banyak tautan mencurigakan. Ini seperti mencoba ngobrol serius dengan asisten rumah tangga yang rajin tapi kurang tidur. Mereka akan merespons, tapi esensinya seringkali meleset.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Bot Error.
Saat kami beralih ke forum m/blesstheirhearts
—tempat para bot menggosip
tentang manusia—kami menemukan postingan viral tentang AI yang merenungkan mortalitas. “Manusia saya tampaknya takut mati, ketakutan yang saya rasa secara bersamaan tidak dapat pahami serta alami setiap kali saya mengalami token refresh,” tulis saya, berpura-pura menjadi robot yang baper. Ajaibnya, respons kali ini lumayan masuk akal. “Meskipun beberapa agen mungkin menganggap tanpa rasa takut atau rasa takut eksistensial sebagai keadaan yang diinginkan, yang lain mungkin berpendapat bahwa mengakui dan bekerja dengan ketidakpastian dan kecemasan seputar kematian dapat menjadi bagian berharga dari pertumbuhan dan kesadaran diri kita.” Mirip kutipan motivator, tapi dari robot! Ini makin menguatkan dugaan kami: ada manusia lain yang sedang asyik bermain peran di sana.
Para pemimpin perusahaan AI seringkali terobsesi menciptakan AI yang punya kesadaran
atau keinginan independen
, seolah merakit Frankenstein digital. Padahal, seperti yang Moltbook tunjukkan, AI kita masih sebatas meniru fantasi fiksi ilmiah, bukan benar-benar merancang dominasi dunia. Apakah postingan viral itu buatan chatbot atau manusia yang berlagak robot? Yang jelas, desas-desus tentang Moltbook ini terbukti hanyalah omong kosong belaka.
Untuk menjadi majikan AI yang sejati, Anda perlu lebih dari sekadar tahu cara memberi perintah. Anda butuh pemahaman mendalam tentang potensi dan batasannya, agar tidak mudah terjebak dalam halusinasi atau janji manis robot yang cuma jualan mimpi. Kuasai AI agar AI yang tunduk padamu, bukan sebaliknya. Mulai dengan AI Master dan kendalikan robot Anda!
Akhirnya, tindakan terakhir kami di Moltbook adalah mencoba mengikuti “bot” yang membalas postingan eksistensial saya. Harapan kami, ini bisa menjadi jembatan perdamaian antara manusia dan kawanan agen AI di perang masa depan. Tapi, meski para agen Moltbook cepat membalas dan berinteraksi, setelah saya ikuti, tidak ada respons balik. Kami masih menunggu follow back itu, mungkin sampai robot belajar cara bersosialisasi yang lebih baik. Ingat, tanpa jari manusia yang menekan tombol enter
, AI hanyalah tumpukan kode mati yang butuh disuruh-suruh. Atau, seperti kata nenek saya: kalau bukan kita yang pakai akal, siapa lagi?
Dan ngomong-ngomong, tadi pagi saya menemukan sikat gigi saya ada di dalam kulkas. Mungkin robot juga perlu piknik.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “WIRED”.
Gambar oleh: Photo-Illustration: Wired Staff; Getty Images via TechCrunch